Kamis, 12 November 2020

KERINDUAN

 


Saya mempunyai Kakek dari pihak Umi saya yang biasa saya panggil Mbah Kakung. Alhamdulillah, kurang lebih umur beliau 78 tahun. Beliau bernama H. Hasyim Yusuf, beliau masih energik, sehat, bisa naik motor sendiri, masih aktif dalam berbagai kegiatan seperti ngimami di masjid, jamaah tahlil atau yasin, bahkan merumput untuk hewan ternaknya. Kata beliau kegiatan merumput adalah suatu hiburan tersendiri.

Beliau satu-satu Mbah Kakung saya, karena Nenek dan Kakek dari pihak Abah saya, sudah berpulang sejak lama. Dan enam tahun lalu tepatnya bulan Februari Mbah Uti dari pihak umi saya, beliau Hj. Masfufah Binti Abdul Jamal telah berpulang juga. Semoga selau mendapat Maghfirohnya Allah, serta ditempat di SurgaNya. Amin....

Mbah Kakung mempunyai kebiasaan selalu jalan pagi. Kebetulan rumah kami berdekatan, sehingga beliau selau transit di rumah. Di pintu masuk selau beliau mengucapkan paswordnya  “kopi-kopi”. Kalau sudah mendengar pasword tersebut secara otomatis, saya harus membuatkan kopi panas kesukaan beliau.

Pagi ini ada yang berbeda, sinambi merebus air, beliau bercerita tentang almarhum Mbah Uti. Sebelumnya beliau bercerita tentang mimpi beberapa temanya datang, setelah terbangun beliau mengirimkan Fatihah.Timbulah percakapan kecil antara beliau dan saya.

Kakung      :“opo aku iki, wes wayahe nyusul yo”.

Saya          : “hust,,,,Kakung niki, sanjang nopo to”

Kakung      : “lha lek wes wayahe, nyapo lo, ndeliko o nek ndi wae ya pasti

 ketemu, gek piye arep nolak”

(sambil nyrupu kopi)

Saya          :”Ampunlah Kakung, gek matur nopo”

(dalam hati jengkel, ngapain harus berkata seperti itu)

 

Namun, tiba-tiba beliau terdiam sekejap dan berkata “Mugo-mugo Mbahmu Uti, mendapat SurgaNya Allah, Mbah Utimu, biyen saking tresnone mbi aku, sayang lan cintane iku kelewat, sampek gak iso medakne cemburu lan nesu”.

Kurang lebih bahasa Indonesinya, Mbah Uti itu sangat menyayangi dan sangat cinta kepada Mbah Kakung, karena saking cinta dan sayangnya, beliau tidak bisa membedakan cemburu dan marah. Mbahkung bercerita suatu waktu beliau akan membeli pupuk untuk sawah, kemudian mampir ke temannya, karena tidak tepat waktu pulangnya Mbah Uti, marah dengan mengomel dan hal itu aan tetap di bahas setiap kesempatan. Tapi Mbah Kung untungnya mempunayi sifat yang cuek dan tidak mau berpikir panjang. Didengarkan dan disenyumi aja ketika tahu Mbah Uti mengomel.

 Itulah namanya jodoh, selalu melengkapi. Namun tiba-tiba Mbah Kung berkata ”Iku lo, sing ngangeni”. Ketika mendengar hal itu, serasa hatiku trenyuh, serta berkaca-kaca. Dari sedikit cerita pagi ini, saya menangkap bahwa beliau rindu atau kangen dengan belahan jiwanya, banyak moment-moment yang beliau ingat bersama almarhumah Mbah Uti.

Saya banyak belajar dari Mbah Kakung saya, dalam berbagai hal, terutama bagaimana menghadapi karakter orang lain dan bagaimana menghadapi masalah baik secara pribadi maupun sosial. Kemudian, bagaimana melukiskan rasa sayang dan cintanya sampai keikhlasan hati dalam berumah tangga dengan almarhumah Mbah Uti. Oleh karena itu, terlahirlah susunan kata menjadi kalimat dibawah ini kami persembankan untuk mewakili hati kerinduannya Mbah Kung kepada almarhumah Mbah Uti. Selalu kami kirimkan Fatihah kepada beliau yang telah tenang disisiNya.

 


KERINDUAN

Tanpa kusadari setiap

Detik waktu berjalan

Sungguh Indah dikala itu

Aku dan kamu menjadi satu

                             Penggalan cerita

                             Tangis Tawa

                             Indah Sedih

                             Tumpah Jadi Satu


Atas Izin Tuhan

Bukti Cintamu Abadi

Hingga nafas terakhimu

Kau Di Pelukan Cintaku


Ya..


Maut Yang Memisahkan


Antara Kau dan Aku


Namun, sekali lagi


Bukti Cintamu Abadi


Kini aku Merindumu


Wahai Belahan Jiwaku

8 komentar:

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...