Berawal dari kata "juga" dan "jangan". Sungguh membuatku malu kepayang. Di suatu pagi, saya sedang mencuci beberapa pakaian. Sambil menunggu mesin pengering, saya membuka handphone. Mulai membuka beberapa aplikasi, instagram, YouTube, dan WhatsApp.
Saya membuka aplikasi WhatsApp dan membuka salah satu grup. Lalu saya membaca sambil mengeluarkan pakaian dari mesin pengering. Bertemu sebuah kalimat kurang lebih seperti ini "mohon juga dikirim ya". Apa yang terjadi di mata dan fokus saya di otak. Hemm... saya membacanya dengan "mohon jangan dikirim ya". Sungguh kesalahan yang fatal dan memalukan, karena pesan tersebut dari guru saya.
Kata "juga" dan "jangan" dari segi makna saja sudah sangat berbeda. Kata "juga" bisa sebagai kata hubung. Tentunya menghubungkan dua hal yang berbeda atau sama. Kata "juga" bisa jadi suatu perintah. Misal seperti contoh kalimat di atas "mohon juga dikirim ya". Dari kalimat itu sudah jelas, itu bermakna perintah.
Sedangkan kata "jangan" dalam makna bahasa Indonesia sudah mengarah pada suatu larangan. Kecuali dalam bahasa Jawa Timuran, "jangan" bisa diartikan sebagai lauk pauk. Mari, kita bandingkan dua contoh di atas. Pertama, "mohon juga dikirim ya". Kedua, "mohon jangan dikirim ya". Amati dan rasakan kedua kalimat tersebut, sungguh berbeda maksud dan maknanya.
Tetapi, kenapa saya bisa salah fokus?.
Sudah jelaslah, karena membacanya kurang teliti, kurang konsentrasi karena fokusnya antara jemur baju dan membaca pesan. Sehingga menimbulkan kesalahan makna perintah menjadi suatu larangan. Oleh karena itu, membaca dengan sungguh-sungguh adalah kunci dalam memahami segala makna tersurat maupun tersiratnya. Membaca juga membutuhkan konsentrasi dan fokus.
Untuk Bapak Guru yang saya hormati, saya sungguh mohon maaf, akibat salah baca pesan njenengan. 🙏🏻

Pasti maktratap...dan makdeg... Semoga dimaafkan...dan yg pasti justru menjadi berkesan, kesan yg selalu diingat...
BalasHapusHeheheh, berhusnudzon insyallah dimaafkan, leres slalu diingat pak
Hapus