"Jangan merasa soleh karena itu salah"
"Merasalah salah karena itu soleh"
Dua kalimat yang mempunyai arti yang sangat dalam. Kalau manusia merasa salah pasti ada tindak lanjut untuk selalu mengevaluasi, mengoreksi dan akhirnya akan memperbaiki diri.
"salah" jangan diartikan segala tindakan dan keputusan yang kita ambil salah. Bukan seperti itu, memang dimata manusia kadang tidak ada benarnya. Namun, setidaknya hal yang kita lakukan tidak menyakiti, melukai atau bahkan menghakimi seseorang. Maka, berbuatlah sebaik mungkin kepada orang lain.
Berfikir sebelum berbicara, lalu lihatlah lawan kita bicara. Tempatkan diri pada posisinya yang sesuai. Masih, saya ingat saya sedang duduk di salah satu warung sate kambing dengan beberapa keluarga. Disalah satu meja ada sekelompok bapak-bapak tentu sedang makan dan berbincang-bincang dengan keras. Karena posisi duduk yang tidak jauh otomatis mendengar dong, apa yang dibicarakan.
Salah satu dari mereka menjelaskan dengan percaya diri dirinya akan berangkat haji. Dia bercerita dihadapan beberapa temannya bahwa begini begitu proses daftar haji. Dan bagaimana nanti ibadahnya disana bla bla and bla. Ada dua lawan berbicaranya. Katakan "si A" dan "Si Z". Tetapi mereka terus diam sambil makan dengan mendengarkan secara saksama apa yang dibicaralan "si K". Dan sesekali melempar senyum dan menganggukan kepala. Tanpa sedikit mencela bahkan memotong pembicaraannya.
Kemudian salah satu dari lawan bicaranya, yaitu "si Z" bertanya ke "si A" dan berkata: "panjenengan niko sampun tindak dateng Makkah, Madinah sampung kaping pinten?" (Kamu, sudah pernah haji berapa kali?)
Dengan sederhana si A menjawab "kersane Allah, sampun diizinkan pengeran meniko tasek peng tigo" (atas izin Allah masih tiga kali)
Lalu si Z bertanya lagi "prosedurnya, apa demikian seperti yang dijelaskan si K?"
Si A menjawab dengan lebih santai dan lembut "setiap tahun niku kadang berbeda sistemnya, tapi kurang lebih begitu"
Karena posisi duduk mereka dihadapan saya. Reflek saya melihat raut wajah "si K" ini berubah dan terlihat makan dengan lahap tanpa melanjutkan perbincangannya.
Namun kedua temannya, sangat santai dan mencoba mencairkan dengan mengalihkan topik berbicara yang berbeda.
Dari cerita di atas, banyak belajar bahwa di atas langit masih ada langit. Ketawadu'an itu penting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar