Selasa, 29 Desember 2020

Wedding


Dunia pernikahan, manusia mana yang tak bahagia jika mendengar kata pernikahan. Karena pernikahan memulai lembaran baru dan harus dilalui, dijalani dengan sepasang kekasih yang sudah sah dimata Allah dan negara. Banyak sekali motivasi-motivasi, nasehat-nasehat tentang pernikahan kita temukan di media-media sosial seperti sekarang ini. Tentu kita harus memilah dan memilih dan mengoreksi kebenarannya itu. Sehingga keberadaan guru juga penting untuk menanyakan tentang hal tersebut.

Pernikahan banyak yang mengharapkan kesakralan. Kalau menurut saya pribadi, pernikahan sakral dimulai dengan sebuah inti dari pernikahan itu sendiri. Yaitu ijab qobul, antara ayah sang pihak kemanten perempuan dan calon suami. Saya teringat waktu mengaji di pondok dulu dengan Ustadz saya bernama Ustadz Huda, beliau berpesan kepada kami satu kelas, kalau menikah di dalam ijab qobul, hadirkan orang-orang soleh, kalau perlu berbagai profesi dan tempat yang baik. Kenapa demikian? Karena ketika ijab qobul tersebut, semua malaikat  juga hadir ikut menghadiri mengamini, dan  "arsh" bergoncang. Kemudian jika setelah nikah, hamil insyallah putra atau putrinya akan mengikuti jejak orang soleh dari salah satu yang hadir di waktu ijab qobul tersebut. 

Pernikahan memang indah. Pernikahan ibarat sebuah buku. Jika duduk di atas koade atau dekorasi dengan sebuah riasan baju gemerlap itu masih seperti sampul buku yang baru dan harum. Kemudian di dalam buku atau pernikahan itu ada beberapa bab perjalanan yang harus dimulai dan dijalani. Lembar per lembar hari perhari, tahun pertahun. Lalu kesuksesan buku atau pernikahan tergantung bagaimana keduanya menulis perjalanan, pembelajaran dalam setiap bab yang menjalaninya.

Mengingat dawuh-dawuh beliau guru-guru kami, dati instagram Gus Ahmad Kafabihi Lirboyo. Pernikahan yang sakral adalah pernikahan yang harus ada musyawaroh, istikhoroh dan niatan karena Allah. Kedua, pernikahan yang sakral adalah sebuah perjalanan sepasang hamba Allah untuk meraih surgaNya Allah, bukan malah membiarkan dalam kemaksiatan. Ketiga pernikahan sakral adalah dalam sebuah mahabbah (cinta) itu pasti ada bughdu (marah). Marah diartikan bahwa tidak rela jika yang dicinta tersesat dalam kemungkaran.

Maka, sangat benar dalam pernikahan adalah sebuah ladang pahala bagi keduanya, baik suami apalagi istri. 

Saya juga menemukan tulisan perancang busana, designer terkenal Indonesia Ibu Anne Avantie dalam instagram milik pribadinya menulis "tidak ada pasangan suami istri yang cocok, adanya di cocok-cocokan. Dan juga tidak ada yang pas, tapi harus di pas-paskan. Kalau mau langgeng sampai akhir hayat"

Diakhir bulan Desember, penghujung dan penutup tahun ini banyak yang menyelenggarakan pernikahan. Alhamdulillah, bisa hurmat di beberapa acara bahagia sanak saudara dan beberapa teman. Adanya acara seperti itu, ajang untuk mengecas kembali keromatisan, keharmonisan pasangan suami istri yang sudah terlebih dahulu menikah. Agar tetap bahagia seperti kemanten baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...