Sabtu, 16 Januari 2021

Jagong Buku

 


Rasanya sangat bangga ketika ada senior, guru sekaligus teman yang sudah melahirkan buku solonya. Memang, saya tergolong anak baru di lingkungan ini juga terhitung baru untuk mengenal beliau-beliau. Namun, di lingkungan ini semua sangat welcome dan sangat sangat sangat positif. Memberikan pengalaman yang sangat sangat berharga, dan selalu terus belajar. Khususnya di bidang literasi menulis dan menulis.

Ada tradisi baru yang di bangun dengan isitilah "Jagong Buku". Kalau bahasa lain itu seperti "Tilik Buku". Apa ya bahasa Indonesianya yang baku, intinya kita bertemu dan ngobrol, saling memotivasi, mengulas akan lahirnya buku solo atau perdana dan baru yang beliau-beliau berhasil lahirkan.

Iya meski hanya lewat aplikasi, tanpa berkontak fisik secara langsung tradisi yang baru di bangun ini, bisa berjalan dengan lancar dan succes.

Di awali pembukaan dan dilanjutkan sambutan pertama dari beliau yang tidak asing lagi, hebat serta pakar di bidang menulis salah satu Dosen IAIN Tulungagung, yaitu Bapak Dr. Ngainun Naim, M.Hi. Dalam sambutannya, beliau dawuh bahwa lahirnya empat buku yang berhasil diterbitkan ini,  karena memang kuncinya satu yaitu mereka mau menulis. Kalau tidak menulis, mustahil disebut dengan penulis. Apalagi terbit buku. 

Menulis itu adalah sebuah keberanian, karena banyak tantangan dan hambatan. Lalu apa dan siap hambatan dan tantangannya. Tidak lain, diri sendiri, karena melawan rasa malu, rasa takut dan tidak percaya diri. Yang penting menulis, entah di baca atau tidak tetap menulis.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa, menulis itu bisa kita lakukan di blog. Blog bisa untuk di sebar kemana-mana. Sebelum beliau mengakhiri sambutanya, beliau menyampaikan "Jika kamu ingin dikenang oleh sejarah, maka menulislah". Atau "Suruhlah Orang Lain Menulis Tentang Anda" dalam hal ini bisa untuk menulis biografi anda. "Pokoknya, yang penting Menulis, bermutu atau tidak itu tergantung dengan waktu". Adem sekali mendengar sambutan beliau. Terselip bisikan doa "saya pasti bisa"

Lalu, di jagong buku ini dilanjutkan satu persatu dari beliau yang berhasil menulis dan menerbitkan bukunya, diantaranya:

1. Ibu Eti Rohmawati, dengan bukunya "New Normal, New Hope". Beliau diantara empat penulis, satu-satu perempuan. Jadi beliau menyampaikan sambutan yang pertama. Dalam sambutannya beliau berterimakasih kepada Bapak Dr. Ngainun Naim atas bimbingan serta dorongan. Beliau juga tergolong yang produktif dalam menulis. Terbukti dengan setiap hari beliau  mengunggah tulisannya. Meski sibuk menjadi ibu sekaligus guru, tidak menghambat kegiatan menulis beliau, luas biasa.

2. Bapak Suprianto, dengan bukunya yang berjudul " Merenda Asa". Inti dalam sambutannya, beliau membuktikan "yang penting nulis". Dan beliau selalu membaca tulisan teman-temannya yang di Blog. Dan buku yang terbit ini, isinya sederhana dan lagi-lagi kumpulan daru Blognya. Sungguh hebat.

3. Bapak Muhamad Anshori, beliau adalah salah satu Kepala Sekolah di tingkat sekolah dasar islam di Tulungagung. Berhasil menerbitkan buku solonya yang berjudul "Membangun Pembelajaran Inspiratif" . Beliau menulis ini juga berdasarkan pengalaman saat menjadi guru kelas. Bagaimana menciptakan pembelajaran yang dirindukan oleh murid. Serta guru yang dinanti oleh siswanya. Dan beliau berkata bahwa menulis itu mempunyai fungsi untuk menyimpan. Jadi, jangan lelah untuk menulis. Keren sekali.

4. Terakhir adalah Bapak Nur Hadi. Beliau juga orang yang sangat sibuk, sebagai pengawas PPAI disalah satu kecamatan di Tulungagung. Berhasil melahirkan buku dengan judul "Melukis Mimpi Di Masa Pandemi". Beliau menyampaikan isi secara garis besarnya adalah nasehat untuk dirinya sendiri, refleksi, pengalaman sederhana, dan gagasan dinamika kehidupan. Sungguh sangat mengisnpirasi.

Itulah empat penulis, yang berhasil melahirkan buku solonya. Saya rasa ini adalah motivasi besar bagi saya pribadi. Untuk yakin se yaqin yaqinnya, bahwa pasti bisa untuk melahirkan buku solo berikutnya. Amin

Jangan lelah untuk menulis. Pokok e Nulis.

Saya ucapkan selamat untuk Ibu Eti, Bapak Pri, Bapak Anhsori dan Bapak Nur Hadi. Karya-karya berikutnya kami tunggu.

3 komentar:

  1. Alhamdulillah ada nama saya didalam tulisan istimewa ini.. Trimkasih bu fil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Njih pak sami2, selamt njih, mugi2 segera menular, lahirny buku solo

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...