"Sadis"
Sa= sabar
Dis= disiplin
Sabar Disiplin. Dua kata yang ringan, tapi berat untuk diamalkan. Sebenarnya seberat apa keduanya?
Siapapun akan merasa berat jika tanpa didasari niat dan tekat yang kuat. Keduanya adalah sifat terpuji. Jika kita mampu melaksanakan, sudah jelas akan dicatat sebagai amal kebaikan.
Tentu tanamkan niat yang kuat terlebih dahulu. Lalu buktikan dengan melakukannya dalam segala aktifitas dan kegiatan kita. Karena ada niat yang kuat, akan kurang jika tanpa melakukanya.
Sadis atau sabar disiplin harus dimulai dari diri sendiri. Sabar dalam menghadapi segala keadaan. Baik itu keadaan enak maupun keadaan tidak enak.
Kadang kita lupa, saking enaknya keadaan atau situasi yang kita dapatkan yang hilang kendali akhirnya lupa bersyukur. Naudzubillah. Jadi saya rasa porsi senang atau sedih harus kita tempatkan pada posisi yang pas. Senang sewajarnya, sedih pun kalau bisa juga sewajarnya. Lalu jangan lupa menata hati untuk sabar dan selalu bersyukur.
Disiplin, karakter yang satu ini harus dibentuk sedini mungkin. Dibangun dengan sebuah kebiasaan-kebiasaan kecil. Banyak contohnya, seperti waktu atau jam makan. Sebagian besar dari kita jam atau waktu makan itu setiap harinya tidak sama. Mulai dari sarapan, makan siang atau makan malam. Kadang melompat-lompat tidak jelas atau bahkan saking padatnya kegiatan lupa akan jam makan. Tentu hal ini tidak baik. Nah, bagaimana cara kita bisa disiplin waktu makan? Dibutuhkannya komitmen dalam diri untuk memulai disiplin.
Disiplin juga bagian dari keistiqomahan atau "ajeg" atau tetap. Sudah banyak dari kita yang faham dan sering mendengar bahwa "alistiqomatul 'alamatul karomah". Bahwa keistiqomahan atau disiplin itu akan membawa pada kebaikan.
Oleh karenanya mari, kita belajar bersama untuk lebih sabar dengan luasnya hati dalam segala keadaan. Belajar disiplin untuk diri kita dalam segala hal. Berusaha menjadi orang yang in time dari pada on time.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar