Senin, 01 Maret 2021

Buku Kedua 2021



Buku antologi kedua penuh cerita. Lahirnya buku aantologi kedua ini awalnya saya membeli salah satu buku puisi karya Gus Obie Rojabi. Kemudian kepo dengan segala isinya serta penerbitnya. 

Kemudian mulailah mempelajari dan berkenalan di akun penerbitnya  yakni "halaman Indonesia". Dan penerbit tersebut mau mengadakan menulis bersama. Tanpa berfikir panjang, aku pun ikut didalamnya.

Alhamdulillah komunitas tersebut dalam waktu sangat dekat mengadakan penulisan antologi puisi. Sekali lagi aku ngikut tanpa berfikir. Apakah saya mampu menulis puisi dengan baik. Yang penting ikut, karena pada waktu itu sudah tinggal tiga hari mendekati deadline pengumpulan naskah.

Alhamdulillah tiada henti, karena sudah ada beberapa tabungan menulis salah satunya di blog. Saya mencoba mengambilnya dengan sedikit mengedit. 

Kemudian saya kirim dari bulan Desember 2020 akhir. Hampir seminggu sekali oleh  penerbit di beri update berita tentang proses sampai terbentuk buku ini. Mulai dari proses editing naskah, desain cover, layout dan lain-lain.

Baru akhir februari 2021 ini bisa terbit. Dan sampai ke saya tepat 1 Maret 2021 pukul 11.00 siang via pos. Wah senangnya bukan main.

Meski antar penulis ini tidak mengenal secara langsung. Minimal karyanya bisa dinikmati bersama. Buku ini sangat sederhana namun menyimpan sejuta pesan yang mewakili perasaan penulis puisinya.

Saya pribadi mengucapkan terimakasih banyak kepada penerbit halaman Indonesia Yogjakarta yang memberikan kesempatan dan wadah menulis. Terutama bagi saya yang masih proses terus belajar menulis.

Antologi puisi ini merupakan karya kedua saya di tahun 2021. Meski belum menulis secara Solo, lahirnya buku ini memberikan nuasa yang berbeda, memberikan ilmu baru dan tentu pengalaman untuk nanti ke depan menyusun buku solo.

Semoga segera rilis buku solonya 

Insyallah

Soon 

Segera 

Bismillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...