Jumat, 23 Juli 2021

Pithil brambang

 

Take Picture By Dek Fahmi

Pithil brambang adalah memotong daun bawang merah, untuk di jual. Setelah di panen, dan di bawa pulang, dari karung di keluarkan. Lalu di tata di tempat yang luas dengan tujuan agar kena angin dan atus. Nah, kalau sudah dilihat oleh pengepul.

Dan telah melalui akad kesepakatan harga. Selanjutnya ibu-ibu akan beramai-ramai gunting daunnya. Selain berkumpul dan bercengkrama sambil bekerja menggunting daun bawang merah.

Memotong daun bawang merah seharga tujuh ratus rupiah. Lumayan, ya karena dua jam aja kalau amatiran saja bisa mencapai tiga puluh kilogram. Pokoknya bisa buat beli kebab atau kalau ibu-ibu bisa beli sayur dan daster.

Sebagai tuan rumah yang panen itu, menyediakan minuman dan makanan ringan, seperti kripik, buah semangka dan ada dawet juga. Kalau waktu sholat semua akan berhenti, dan istirahat pulang, sholat atau makan siang. Sekitar pukul dua siang mulai lagi, untuk pithil brambangnya.

Seru juga ternyata, karena sambil bercengkrama, tangan tetap menggunting menghasilkan uang. Ada juga yang sangat cepat mengguntingnya, sehari bisa sampai tujuh puluh kilogram.

Nanti kalau malam mereka akan balik lagi, sekuat tenaga mereka. Ada yang pukul sembilan malam pulang, tapi ada juga yang sampai pukul sebelas malam. Biasanya kalau lembur, gegara besok paginya akan di ambil oleh pengepul.

Dukanya, biasanya pinggang akan terasa nyeri, maka harus sering berubah posisi duduk. Lalu, tangan akan terasa panas n pegel karena gunting. Nah ini bisa diakali dengan pakai sarung tangan. Itulah seklumit cerita tentang panen brambang atau bawang merah dan prosesnya potong daunnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...