Sepanjang pengalaman dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan akan selalu ada aturan, acuan dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Salah satunya adanya kurikulum. Kurikulum yang telah lahir dari pemerintah selalu akan berkembang.
Dulu istilah ganti menteri pendidikan pasti identik dengan ganti kurikulum. Nah mau tidak mau guru harus belajar ulang. Meski tidak memungkiri banyak kendala.
Salah satunya yang masih kita pakai hari ini. Awal-awal adanya kurikulum 2013, atau kita sebut dengan K13, semua guru belajar dari awal. Mulai memahami kompetensi inti kemudian buku ajarnya, penilaiannya, admnistrasi kelas, rencana pembelajarannya, silabus, prota, promes dan lain-lain. Semua itu tidak mudah.
Karena saya mahasiswa angkatan 2012, alhamdulillah diberi waktu panjang mempelajarinya lebih awal dan alhamdulillah mengetahui penerapannya seperti apa.
Nah, hal demikianlah yang dinamakan pengalaman. Pengalaman melakukan secara langsung tentu sangat berbeda dengan hanya teori yang dikuasi. Sehingga sangat perlu kita saling bertukar pengalaman untuk hal penerapan kurikulum 13 ini.
Di kurikulum sebenarnya kita sangat boleh mengembangkannya tentu disesuaikan misal dengan kondisi lingkungan sekolah lalu kondisi siswa. Tidak melulu hanya mengadopsi kurikulum yang telah ditetapkan.
Untuk mengembangkan kurikulum tentu ada aturannya. Tak semudah membalik telapak tangan, tangan semudah dengan ucapan yang sok tahu, tak semudah seperti orang menyuruh beli kopi di supermarket. Apa artinya, butuh proses, penelaaan, pemetaan tujuan pembelajaran.
Lalu butuh desain, observasi, implementasi, penerapan, dan yang utama adalah evaluasi. Jika desain saja hanya suatu konsep berupa lisan, tanpa adanya dokumen pemetaan tujuan dan langkah-langkahnya, dari mana dikatakan desain. Harus ada bukti fisiknya.
Kalau desain saja belum punya bagaimana untuk langkah selanjutnya. Yang namanya langkah mengembangkan harus di lalui step bh step artinya di lakukan secara runtut. Jangan langsung asal lari saja.
Sebelum diimplementasikan atau diterapkan setidaknya ujicoba dengan observasi, bagaimana dengan desain yang ada baik atau tidak baik, efektif atau tidak efektif. Hal demikian harus di lihat secara betul dan sungguh-sungguh.
Jika observasi lancar, lalu ke implementasi secara menyeluruh. Di kedua langkah ini menurut saya perlu kerja sama, kekompakan kepda seluruh tenaga pendidik. Untuk memantau, mengamati seberapa jalan dari kurikulum yang telah di kembangkan.
Setelah jalan dengan waktu yang cukup, baru di evaluasi. Tujuannya agar kita memahami kelebihan serta kekurangan dari kurikulum yang kita terapkan. Jangan hanya memahami kelebihan, namun tak mempertimbangkan kekurangan. Hal demikian bisa fatal, soalnya terus menganggap pengembangan yang dilakukan selalu efektif dan terbaik.
Jangan tergesa-gesa mengatakan dan menilai demikian, karena lagi-lagi belum ada bukti fisik dan penelitian yang nyata.
Poin yang sangat penting di tulisan ini adalah mengembangkan kurikulum butuh kerja dan proses penelaah yang harus cukup waktu dan dilakukan oleh semua tenaga pendidik, tidak hanya personal. Namung tetap penanggungjawabnya adalah koordinator dan pimpinan lembaga. Kemudian, pengembangan kurikulum menurut saya tidak boleh keluar dari jalur utama kurikulum aslinya. Yang namanya mengembangkan sangat berbeda dengan membuat baru.
Yuk sama-sama belajar, bertanya dengan yang lebih pakarnya, sharing pengalaman. Jangan menganggap dirimu yang paling tahu dan hebat, sehingga dengan mudah menyalahkan orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar