Minggu, 24 Oktober 2021

Menghapi Cuaca Hari Ini



Saya tak membayangkan bagaimana di Benua Eropa yang harus menghadapi empat musim. Kita yang hanya dua musim yakni kemarau dan hujan saja kadang bingung. Ketika panas terik seperti ini, banyak yang mengeluhkan.

Begitu juga sebaliknya, jika hujan yang dihadapi padahal hanya air, bukan salju, kita sering kerepotan. Bayangkan saja jika musim salju datang, kita harus siap mantel khusus, bukan payung, lalu siap penghangat ruangan dan sebagainya. Kalau hanya membayangkan enaknya saja kayaknya semua bisa enak tanpa melihat sisi kerepotannya.

Misalnya salju bisa dihadapi dengan bermain salju. Kita pun bisa menghadapi hujan dengan bermain hujan yang tak kalah asyiknya dengan salju. Itulah mengapa manusia, yang perasaan dan keinginannya jika dituruti tak akan ada habisnya.

Lalu bagaimana kita menghadapinya? Mungkin pembahasan saya terlepas dari sisi ilmu geografinya. Yang kita tahu setiap benua ada kondisi geografisnya masing-masing sehingga atar negara atar benua tidak sama musim yang dihadapi.

Namun, jalan utamanya apapun yang musim atau cuaca yang kita hadapi adalah bersyukur, panas dihadapi dengan dinikmati keringat bercucuran masih ada kipas untuk mendinginkan, lalu ketika haus melanda, air masih melimpah untuk dibuat minuman dicampur dengan es akan segar.

Ketika hujan pun, harus banyak bersyukur, air hujan yang jatuh ke bumi merupakan berkah, maka kita dianjurkan berdoa "Allahumma Soiban Naafi'a" yang kurang lebih artinya Ya Allah jadikan hujan ini berkah manfaat. Tanaman-tanaman akan tumbuh segar, dinikmati dengan diiringi dzikir, lalu bisa kita nikmati dengan suguhan hangat seperti teh hangat, singkong goreng, bahkan bakso dengan kuah panas.

Barangkali diantara kita sudah ke luar negeri yang mempunyai empat musim. Jika sudah diberikan kesempatan untuk bisa merasakan berbagai musim maka sudah patut rasa syukur kita berlipat-lipat kepada Allah. Karena segala yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik.

Oleh karena itu, sekarang orang Indonesia khusunya area Tulungagung ada yang merasakan panas, gerah, sumuk, ungkep, dan berkeringat maka ucapkan Hamdalah. Karena masih diberikan kesempatan demikian. Ini masih panas dunia yang jarak bumi dan matahari cukup jauh. Bagaimana nanti di akhirat di Padang Marsyah dikumpulkan dengan jarak satu kilan antara matahari dan kepala kita. 

Bagaimana panasnya neraka? Masyaallah, hal-hal demikianlah menjadi pengingat bahwa sebagai manusia kita semua lemah jika tanpaNya. Semua ketetapanNya adalah yang terbaik. Dan harus banyak bersyukur, tafakur. 

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang selalu mengingat Allah apapun kondisi kita.
Salam Semangat 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...