Pergunu adalah organisasi profesi untuk guru atau ustadz di bawah naungan NU (Nahdatul Ulama). Salah satu ciri keprofiannya adalah memiliki ijazah S1 atau D4. Maka sudah jelas bahwa Pergunu harus bersinergi dengan ISNU dan Ma'arif. Ibarat kata Pergunu belok kiri Maarif, belok kanan ISNU. Artinya keduanya sangat berkaitan dan berhubungan.
Di kesempatan ini, saya mengikuti kegiatan Halaqoh Aswaja yang diselengarakan Pergunu yang membahas Seni Mendidik Ala Masyayikh NU Meneladani Para Kyai Pesantren. Sehingga narasumber yang hadir merupakan tokoh-tokoh NU yang sangat hebat di bidangnya. Diantaranya
Bapak Prof. Dr. Fatoni, M.Ag (Rektor UIN SATU), K.H Bagus Ahmadi, (Dari Pondok Pesantren MIA) dan Bapak Dosen Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag (Dosen UIN SATU).
Pemaparan materi dari ketiganya sangat mudah difahami. Sebenarnya saya pun mencatat hampir semuanya yang beliau-beliau haturkan. Namun, saya akan mencoba menuliskan kembali, meski hanya sebuah rangkuman yang mungkin mewakilkan beberapa isi atau poin yang beliau-beliau sampaikan.
Dari masing-masing narasumber, saya menyimak bahwa perkembangan zaman yang unpredictable atau tidak bisa di prediksi mengharuskan guru siap untuk menghadapinya. Salah satunya dunia media sosial, yang kalau tidak hati-hati informasi yang kita dapat, tidak sesuai dengan Ahlusunnah Wal Jamaah Nahdiyiin tentu akan membahayakan. Terutama di lembaga pendidikan.
Sehingga sebagai guru sangat perlu mengetahui, meneladani masyayikh di kalangan pondok pesantren. Dari ketiga narasumber semua menyampaikan bawah metode terbaik yakni dari Rasullullah yaitu "Uswatun Hasanah". Memberikan teladan yang baik.
"Uswatun Hasanah" menjadi sangat penting karena akan membentuk attitude atau akhlak, karakter bagi santri atau peserta didiknya. "Uswatun Hasanah" tentu harus dilihat secara langsung, akan kurang maksimal jika hanya sebagai virtual. Akan terasa hasilnya berbeda.
Bahkan ada penelitian di luar negeri bahwa tingkat keberhasilan seseorang bisa dilihat dari, attitude atau akhlak. Disinilah pentingnya "Uswatun Hasanah". Ketika di madrasah atau sekolah yang dilihat siswa "Uswatun Hasanah"nya adalah kyai atau gurunya. Maka sudah mutlak sebagai guru harus memberikan "Uswatun Hasanah", perilaku yang baik.
Yang kedua adalah lingkungan yang bagus, kebiasaan yang bagus pula. Ini akan memberikan peran yang besar terhadap siswa. Bayangkan saja, jika suatu komunitas dibangun dilingkungan kurang baik, itu akan menularkan kepada kebiasaan yang mereka bangun. Maka artinya lingkungan santri atau madrasah harus memberikan dampak yang positif bagi siswa maupun gurunya.
Ketiga, peran guru sangat penting ketika sudah memberikan "Uswatun Hasanah" semua metode, strategi, pola pendidikan kita meniru Rasulullah, Ulama-Ulama Soleh, maka jangan pernah untuk berhenti berinovasi, kreatif, produktif. Seperti membuat bahan ajar, media pembelajaran yang kita sesuaikan dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah Nahdiyyin akan kita sampaikan kepada siswa kita. Maka pesan Pak Rektor UIN SATU Tulungagung "warnailah medsos dengan dengan konten-konten Nahdatul Ulama".
Berkreasi dengan kreatif, senang berdiskusi juga salah satu untuk selalu berinovasi dalam memberikan terbaik untuk siswa. Sebenarnya kegiatan hari ini, harus ada tindak lanjut dan minimal ada yang kita bawa untuk diterapkan di lembaga.
Keempat, adalah sebagai guru harus bisa rekoso dan riyadhoh. Mendoakan siswa-siswa kita. Karena sebagai bentuk harapan bahwa ilmu yang didapat akan menjadi keberkahan. Selayaknya telur yang pecah di dalam akan terus tumbuh, tambah kebaikan, bukan seperti telur yang pecah di luar hanya sebagai telur ceplok atau telur orek. Dan itu perumpaan di sampaikan oleh Dosen Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag (Dosen UIN SATU).
Beliau juga berpesan yang paling utama adalah sebagai guru harus benar-benar bisa meyakinkan bahwa di Al Qur'an surah Al Mujadalah Ayat 11.
Ada kata Yarfa' artinya mengangkat, bahwa Allah benar-benar mengangkat derajat orang yang berilmu. Sehingga ketika rekoso atau menemui kesulitan dalam mencari ilmu, harus sabar, ikhlas, jalani prosesnya. Jangan hanya berorientasi kepada hasil.
Itulah hasil mengikuti halaqoh Aswaja dengan Pergunu. Ingat bahwa menjadi guru itu mulia. Sehingga harus dibarengi dan diniati dengan suatu ketulusan dan ikhlasan untuk mendidik serta mengajar.
Salam Literasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar