Musim menanam padi, banyak sekali persiapannya. Mulai dari nyawur benih, kemudian sekitar umur dua puluh lima hari akan di tananam. Sebelumnya mempersiapkan papannya atau tanahnya.
Mempersiapkan tanah dengan dibajak, kalau dulu membajak dengan hewan kerbau sekarang sudah memakai mesin bajak. Hari ini tanah sawahnya mulai di bajak. Namun, sebelum dibajak oleh mesin, ternyata harus dialirkan air. Tujuannya agar mempermudah, mempercepat kerja mesin bajak.
Kenapa harus dialirkan air dari disel, apakah tidak ada sungai irigasi atau sawahnya sedikit banjir atau nyembong. Kebetulan sawah di area desa kami yakni desa Mirigambar Mirodudo itu sawah yang gampang kering. Sehingga air tidak begitu menggenang, cuma sedikit basah saja.
Hari ini Jumat otomatis tukang bajaknya, Abah serta suami harus jumatan. Sementara masih ada dua lokasi yang harus di bajak. Yang di lokasi A, sudah selesai, kemudian di lokasi B, proses di alirkan air melalui disel. Nah, saya bagian menunggu disel di sawah ini.
Di siang bolong, menuju manjing jumatan, sawah suasananya sepi, seakan hanya ada saya, dua disel, satu mesin bajak. Ada beberapa orang yang lalu lalang, berangkat jumatan tapi posisi jauh dan terlihat sangat kecil.
Mengapa harus di tunggu? Karena demi keamanan. Dimana saya harus menunggu, di pinggir, dibawah pohon pisang, sinambi makan dan minum, karena membawa bekal dari rumah. Tentunya, membawa handphone untuk hiburan dan menulis.
Angin spoi-spoi terasa, kumandang adzan jumatan bersahut-sahutan. Sementara terik panas tak aku rasakan. Ada dua disel yang di tengah sawah, satunya harus diam karena mogok, yang tak lepas dari pandangan.
Cerita siang hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar