(Gambar di atas merupakan pengganti sandal saya yang hilangš©)
Sudah dua hari semalam, saya mencari sandal yang masih umur tiga mingguan. Warnanya hijau mint, bentuknya slop, dan berbahan karet, ringan, tentu nyaman di pakai dan anti hujan pula. Saya terakhir memakai senin malam. Intinya hilangnya selasa siang.
Semalam saya ingin memakainya, tiba-tiba tidak ada. Namun, ada sandal hitam yang tulisannya "sandal mushola masjid". Saya pun enggan memakai, karena jelas itu bukan sandal milikku. Sebelumnya saya sudah mencari ke sana ke mari dan bertanya semua anggota rumah. Abah, umi, dan Mas tapi mereka tidak tahu menahu.
Sandal hitam sudah usang dan tertulis "sandal mushola masjid", jelas juga bukan milik kami. Orang rumah tidak pernah memakai sandal kalau memang bukan hak milik, bahkan kalau pun di masjid sandal kami hilang, mending pulang nyeker atau tanpa alas kaki. Namun, ini cukup aneh.
Apakah di rumah ada tamu, kemarin? Jawabannya iya, sampai-sampai, saya tanyakan kepada tamu tersebut atas saran Umi saya, sandalnya mereka pun juga tidak keliru. Apakah saya menyesal, jika hilang sandal itu? Iya, mungkin pembaca menertawakan tulisan ini dan berfikir sandal di toko juga banyak bahkan ada yang persis, pabrik juga tidak cuma satu.
Apakah saya lupa menaruh, lupa memakai, jawabannya tidak. Saya cukup teliti dengan barang-barang saya. Saudara, perlu diingat hilangnya sandal saya ini cukup misterius, saya pun juga heran. Hilangnya posisinya di rumah dan jelas ada ganti sandal jepit hitam ada tulisannya. Otomatis, pasti ada yang memakai sandalku hijau slop, lalu entah ditukar dimana. Apakah saya mangkel/jengkel? Tentu mangkel, jengkel. Apalagi kalau sudah tanya, mencari ke sana ke mari, bahkan tanpa malu saya bertanya kepada tamu dan pelakunya hanya diam tidak merasa. Sambil menertawakan, "mek gur sandal". Manusia boleh buruk sangka, bagaimana jika buruk sangka itu benar? Saya tahu kok pelakunya, cuma anda gengsi untuk mengakui, karena sudah terlanjur menghilangkan sandalku.
Hikmah dari cerita ini adalah, jangan suka menyalahkan orang, jangan suka buruk sangka, jangan suka memberi masukan atau saran, jika itu pelakunya adalah kamu sendiri. Kedua, barang sekecil apapun, harus kita jaga, agar tidak terlalu menyepelakan, meremehkan, menggampangkan sekali pun kamu bisa membelinya kembali. Karena sudah pasti menjaga lebih baik, dari pada menghancurkan. Dan ketiga jujurlah, pada dirimu sendiri. Koreksi dirimu sendiri, sebelum mengoreksi orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar