Pernah mengikuti lomba
musikalisasi puisi di tingkat nasional tepatnya tujuh tahun lalu. Perwakilan dari
kampus UIN Maliki Malang. Lomba ini diadakan oleh fakultas ilmu budaya di
Universitas Gajah Mada Yogjakarta. Pada waktu itu kita didampingi oleh salah
satu dosen seni budaya dan music kita yakni beliau Bapak Joko. Hanya
bermodalkan nekat, bagaimana tidak nekat pada waktu itu semua mandiri, bus
yang kita naiki pun bukan bus kampus, melainkan bus ekonomi biasa. Hal itu sama
sekali tidak menghalangi kita untuk tetap mengikuti lomba tersebut.
Musikalisasi puisi bukan
hal yang asing bagi saya pada waktu itu. Karena sempat belajar di seni teater
pada waktu di Aliyah namun di bangku kuliah tidak melanjutkannya. Kemudian ada
teman yakni Vita dan Indah, sudah beberapa kali menjadi juara di bidang puisi. Penjiwaannya
yang tak tertandingi, ekspresi wajah Indah yang selalu unik, saya bisa banyak
belajar dari mereka. kurang lebih satu bulan kita selalu berlatih. Kita berenam berangkat dari Malang menuju kota Yogjakarta,
semua dari kita adalah mahasiswa PGMI. Ada yang namanya Vita dari Jepara, Lucky
dari Lamongan, Lukman dari Pasuruan, Anwar dari Malang, Indah dari Malang dan
saya sendiri dari Tulungagung. Semua dipersatukan dalam seni musik, kemudian
ada informasi lomba walhasil kita mengikutinya. Memang di jurusan PGMI kami
pasti akan mendapat mata kuliah seni rupa dan musik di semester lima.
Kita berangkat tidak dengan
tangan kosong, kita harus membawa alat-alat musik. Ada pianika, bandolin,
banjo, jimbe dan marakas berbentuk seperti tampah dan semua harus bisa
memainkannya. Sehingga memberikan kesan tersendiri, ketika kita menaiki bus. Mirip-mirip
musisi jalanan yang pentas di bus. Ketika sampai di Yogjakarta, salah satu dari kami
yakni Lucky mempunyai teman yang menjadi mahasiswa di UGM namanya Hasan. Dialah
yang menolong kami semua untuk mencarikan lokasinya, kemudian penginapan dan
beberapa makanan meskipun pada waktu itu sangat menghemat, yakni makan nasi
kucing di angkringan Yogjakarta. Hasan juga mendampingi kita untuk menuju
lokasi lomba. Sebab kita tahu UGM itu sangat luas antar fakultas bisa ditempuh
dengan sepeda atau motor, tapi kita jalan kaki melewati banyak fakultas dan
mengabadikan momen dengan berfoto di beberapa fakultas seperti ekonomi.
Peserta lomba memang
berkelompok sehingga dalam aula yang disediakan cukup penuh belum lagi ada
penonton yakni mahasiswa dari fakultas ilmu budaya sendiri. Kostum kita memang bertemakan gelap, dengan lilitan dan selendang batik sederhana. Kita sangat
semangat, dan antusias. Sebelum tampil pun kita sempat latihan di ruangan kosong
yang disediakan, dan mengabadikannya. Kemudian dosen kami Bapak Joko, selalu mewanti-wanti
dan menata lagu yang sering kita agak lupa. Beliau juga mengingatkan penjiwaan
dan mimik, ekspresi serta power vocal kita. Pengalaman yang tidak akan
terlupakan. Meskipun pada waktu itu kita belum berkesempatan mendapatkan
juaranya.
Di UGM saya juga mengabari
teman-teman pondok yang kuliah di sana. Alhamdulillah sempat bertemu yakni Arina Rosyida anak Indramayu dan sepupu yang kebetulan pascasarjananya di
UGM. Alhamdulillah, semua memberikan hikmah dan pelajaran tersendiri. kini itu semua menjadi kenangan dan pengalaman yang tak terlupakan tambah silaturrohim kita karena tambah teman. Kita berenam kini kembali di kota masing-masing dengan objek masing-masing ada guru Mi, guru seni musik dan masih ada juga yang menempuh pendidikan pasca sarjana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar