Jumat, 04 Maret 2022

Musikalisasi Puisi



Pernah mengikuti lomba musikalisasi puisi di tingkat nasional tepatnya tujuh tahun lalu. Perwakilan dari kampus UIN Maliki Malang. Lomba ini diadakan oleh fakultas ilmu budaya di Universitas Gajah Mada Yogjakarta. Pada waktu itu kita didampingi oleh salah satu dosen seni budaya dan music kita yakni beliau Bapak Joko. Hanya bermodalkan nekat, bagaimana tidak nekat pada waktu itu semua mandiri, bus yang kita naiki pun bukan bus kampus, melainkan bus ekonomi biasa. Hal itu sama sekali tidak menghalangi kita untuk tetap mengikuti lomba tersebut.

Musikalisasi puisi bukan hal yang asing bagi saya pada waktu itu. Karena sempat belajar di seni teater pada waktu di Aliyah namun di bangku kuliah tidak melanjutkannya. Kemudian ada teman yakni Vita dan Indah, sudah beberapa kali menjadi juara di bidang puisi. Penjiwaannya yang tak tertandingi, ekspresi wajah Indah yang selalu unik, saya bisa banyak belajar dari mereka. kurang lebih satu bulan kita selalu berlatih. Kita berenam berangkat dari Malang menuju kota Yogjakarta, semua dari kita adalah mahasiswa PGMI. Ada yang namanya Vita dari Jepara, Lucky dari Lamongan, Lukman dari Pasuruan, Anwar dari Malang, Indah dari Malang dan saya sendiri dari Tulungagung. Semua dipersatukan dalam seni musik, kemudian ada informasi lomba walhasil kita mengikutinya. Memang di jurusan PGMI kami pasti akan mendapat mata kuliah seni rupa dan musik di semester lima.

Kita berangkat tidak dengan tangan kosong, kita harus membawa alat-alat musik. Ada pianika, bandolin, banjo, jimbe dan marakas berbentuk seperti tampah dan semua harus bisa memainkannya. Sehingga memberikan kesan tersendiri, ketika kita menaiki bus. Mirip-mirip musisi jalanan yang pentas di bus. Ketika sampai di Yogjakarta, salah satu dari kami yakni Lucky mempunyai teman yang menjadi mahasiswa di UGM namanya Hasan. Dialah yang menolong kami semua untuk mencarikan lokasinya, kemudian penginapan dan beberapa makanan meskipun pada waktu itu sangat menghemat, yakni makan nasi kucing di angkringan Yogjakarta. Hasan juga mendampingi kita untuk menuju lokasi lomba. Sebab kita tahu UGM itu sangat luas antar fakultas bisa ditempuh dengan sepeda atau motor, tapi kita jalan kaki melewati banyak fakultas dan mengabadikan momen dengan berfoto di beberapa fakultas seperti ekonomi.

Peserta lomba memang berkelompok sehingga dalam aula yang disediakan cukup penuh belum lagi ada penonton yakni mahasiswa dari fakultas ilmu budaya sendiri. Kostum kita memang bertemakan gelap, dengan lilitan dan selendang batik sederhana. Kita sangat semangat, dan antusias. Sebelum tampil pun kita sempat latihan di ruangan kosong yang disediakan, dan mengabadikannya. Kemudian dosen kami Bapak Joko, selalu mewanti-wanti dan menata lagu yang sering kita agak lupa. Beliau juga mengingatkan penjiwaan dan mimik, ekspresi serta power vocal kita. Pengalaman yang tidak akan terlupakan. Meskipun pada waktu itu kita belum berkesempatan mendapatkan juaranya.

Di UGM saya juga mengabari teman-teman pondok yang kuliah di sana. Alhamdulillah sempat bertemu yakni Arina Rosyida anak Indramayu dan sepupu yang kebetulan pascasarjananya di UGM. Alhamdulillah, semua memberikan hikmah dan pelajaran tersendiri. kini itu semua menjadi kenangan dan pengalaman yang tak terlupakan tambah silaturrohim kita karena tambah teman. Kita berenam kini kembali di kota masing-masing dengan objek masing-masing ada guru Mi, guru seni musik dan masih ada juga yang menempuh pendidikan pasca sarjana. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...