Perjalanan pulang dari jamaah maghrib, melihat sisi jalan dengan pandangan pohon sengon disisi barat, subhanallah indah betul. Pemandangan indah dari warna langit yang semu orange dan biru membaur menjadi satu. Bulan disisi ujung dengan bentuk sabit menambah haru hati di bulan berkah ini.
Sama persih dengan surah Ar-Rahman bahwa Allah berfirman "Maka Nikmat Mana Yang Kau Dustakan" melihat indahnya langit yang berwarna demikian saja begitu nikmatnya. Mata masih bisa memandang dengan jelas, merasakan udara segar dan kaki bisa melangkah untuk ibadah. Ditambah hati tiba-tiba berkata untuk bermuhasabah, seberapa jauh perjalanan dan usahamu menjadi manusia yang baik. Lalu ujung dari setiap hidup serta tujuan utama di dunia ini apa? Tiba-tiba tersentuh mata berkaca-kaca.
Manusia kadang tidak lepas dari rasa kurang dan terus akan kurang. Manusia juga tidak pernah puas terhadap apa yang dimiliki. Kalau benteng kita tidak terlalu kuat, iman dan rasa syukur tidak ditananamkan maka hasilnya hanya mengeluh dan capek sendiri. Oleh karena itu, hati kita harus kita latih untuk mengolah. Salah satunya dengan cara melihat bukan orang yang jauh di atas kita. Lihatlah orang yang belum seberuntung kita.
Minimal kita belajar untuk menerima, lalu senang dan bahagia dengan selalu mensyukuri yang telah kita dapat. Mungkin bukan uang bermilyaran, tapi kesehatan jauh lebih berharga, atau mungkin bukan mobil mewah tapi rumah yang aman dan cukup. Maka ada pesan bahwa ingat lima perkara sebelum lima perkara, diantarnya:
1. Sehat sebelum sakit
2. Kaya sebelum miskin
3. Lapang sebelum sempit
4. Muda sebelum tua
5. Hidup sebelum mati
Itulah kesempatan yang tiada duanya. Ayo terus semangat, jangan lelah untuk menjadi insan yang lebih baik dalam segala hal. Dan jangan lupa bersyukur billisan bilqolbi.
Salam literasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar