Jumat, 18 November 2022

Arti Kejujuran



Sepertinya peristiwa ini tidak bisa kami lupakan begitu saja. Koperasi Syariah Al Ikhlas Mirigambar, sudah berdiri sejak 2016. Alhamdulillah setiap tahun kami bisa RAT, artinya koperasi ini sehat. Selama ini, tidak ada masalah apapun.

Setiap bulan agenda musyawarah, rapat rutin, rapat tahunan, bulanan, diskusi  apapun memang bertempat di rumah. Tidak ada masalah dan ini memang sesuai mufakat bersama. Setiap tanggal lima belas, ada agenda rutin untuk berkumpul salah satu kegiatannya menabung, dan waktunya setelah maghrib sesuai kesepakatan. Namun, kali ini ada kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Peristiwa ini juga tidak diharapkan terjadi dan tidak diinginkan oleh siapapun. Pertama kalinya, kehilangan uang beserta kartunya. 

Semua pengurus segera bertindak malam itu juga. Mulai dari mencari disekelilingnya, menelfon semua anggota yang hadir dan biasanya pukul sembilan selesai karena ada peristiwa ini, kami para pengurus koperasi sampai pukul sepuluh malam mencarinya. Tetap, belum ketemu. Kami sebagai pengurus pun, memberikan informasi dan menanyakan lewat grup WA, mungkin saja ada yang kebawa secara tidak sengaja. Kami berasumsi, jika saja barang ghaib yang membawa, tidak mungkin beserta tiga kartu, satu buku tabungan, amplop berisi uang seplastik-plastiknya.

Kejadian ini kali pertama sejak koperasi berdiri, baru kehilangan seperti ini. Kami tidak mencurigai siapapun di kala itu. Kami berusaha terus menerus mencarinya. Tetap belum ketemu, akhirnya kami menyusun musyarawah kecil dengan mendatangkan semua anggota yang hadir di Selasa malam itu. Rabu sore kami adakan musyawarah kecil tersebut. Sekitar dua belasan ibu-ibu anggota yang hadir di Selasa malam, Rabu sore turut hadir kembali mengikuti rapat kecil tersebut sebab rapat tersebut bersifat sangat penting dan wajib. Dan satu persatu mengutarakan kronologi yang terjadi. Ternyata, ada salah satu yang bersaksi melihat dengan mata kepala sendiri. Keberadaan kartu, posisi awalnya dia bercerita secara detail. Dan mengarah kepada si dia.

Kasus seperti ini sangat kami sayangkan. Abah saya sebagai sesepuh dan tuan rumah pun, ikut terjun, merasa dilecehkan. "Kok beraninya mencuri di rumah saya, anggota koperasi, juga jamaah sehingga Abah memiliki tanggung jawab". Beliau tetap menghendaki jalur hukum, dan masih diberi waktu untuk mengembalikan. Tetapi, namanya pencuri tidak akan semudah itu mengakuinya. Si dia terus mengelak. 

Ibu-ibu semua umpyek, marah, curiga mengarah ke si dia. Sebetulnya ibu-ibu akan memaklumi jiak dia mau jujur mengakui. Memang track recordnya si dia, sudah tidak begitu baik, beberapa kejadian sudah menyebar di masyarakat sekitar. Waktu musyawarah kecil itu, keterangan si dia, berubah ubah, jika dilihat dari bahasa tubuhnya, sudah terlihat jelas. Didukung data lagi sejak kejadian malam itu si dia sudah sibuk mencari pembenaran di sana sini. Seandainya tidak melakukan, pasti santai dan tidak perlu mencari pembenaran cukup diam san santai. Sampai detik ini saya menulis, uang beserta kartunya belum ketemu. Kami semua berharap dikembalikan, entah bagaimana caranya. Memang, alot sekali mengakui, yang mananya pencuri tetap pencuri, sekali lagi itu bukan hal terpuji. Jika di dunia mungkin tidak terasa balasannya, tunggu saja di akhirat kelak, dan rasakan. Itu uang milik orang lain bukan hakmu. Semoga dibukakan pintu hidayah oleh Allah.

Oleh sebab itu kawan, mari terus berusaha untuk jujur kepada siapapun terutama diri sendiri. Jujur dengan hal-hal kecil, apapun itu. Tidak perlu menyalahkan orang lain. Lihat diri kita sebenarnya. Orang lain, tetangga masyarakatlah yang menilai. Jangan hanya cari pembenaran. Itu ada saksi melihat, apalagi jika tidak ada saksi. Allah Maha Tahu segalanya. Hati-hati semuanya. Jujur bakalan muju. Ora jujur ajur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...