Sabtu, 05 November 2022

Kopi Darat Ma'arif Menulis Dan Gubug Literasi

Alhamdulillah Berkesempatan Memberikan Buku Solo Ketiga Saya, Untuk Bapak Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI


Sesi, foto bersama "Salam Literasi" 


Kopdar literasi bersama Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI di LP Ma'arif Tulungagung memberikan manfaat serta ilmu yang luar biasa. Kegiatan hari ini Sabtu, 5 November 2022, bertempat di kantor LP Ma'arif Tulungagung kami berkesempatan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Diawal kami datang, ada Bapak Dr. Ahmad Supriadi, M.Pd sebagai sekretaris LP Ma'arif Tulungagung sekaligus membuka acara dan Bu Dr. Eti Rohmawati, M.Pd Kepala Madrasah Tsanawiyah Arrosyidiyah Sumberagung-Rejotangan.

Saya datang bersama teman di STAI MAS yakni Bu Retno, yang ingin belajar serta mengawali dunia literasi khususnya menulis. Sekitar pukul sembilan seperempat acara dibuka sebab guru besar literasi beliau Prof. Naim sudah datang. Ada beberapa sambutan, pertama disampaikan oleh sekretaris LP Ma'arif, lalu ketua LP Ma'arif Tulungagung beliaunya Bapak Kozin, M.Pd.I. Pada kedua sambutan tersebut, saya menggaris bawahi bahwa literasi itu penting dan harus tetap dibangun serta dikembangkan.

Selanjutnya pada acara inti bersama Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI seakan beliau memberikan energi baru untuk tetap semangat berliterasi. Pengalaman yang beliau paparkan, seakan menggugah kembali semangat menulis bahkan memulai menulis. Saya menuliskan catatan penting diantaranya: Ada doa khusus untuk menulis "Allahumma Mekso Awak". Hal ini terkait dengan komitmen dalam menulis, agar bisa istiqomah atau berlanjut. Kedua, menulis itu warisan. Jika ingin menulis, lakukan saja. Tidak perlu berbicara mutu atau kualitas, jika ujung-ujungnya tidak menulis. Jadi lakukan saja meskipun tulisan-tulisan yang dihasilkan ringan. Kadang menurut kita remeh, tapi menurut orang lain sangat luar biasa.

Ketiga, menulis adalah bukti rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari kisah yang beliau ceritakan, seorang yang harus menyandang difabel sebab sakitnya di usia muda, mampu menghasilkan puluhan buku. Bagaimana kita yang dikaruniai Allah kesehatan, kesempurnaan? Tentu harusnya lebih mampu untuk menulis dan menghasilkan buku. Keempat, dengan menulis bisa melampaui diri kita. Artinya kadang kita tidak percaya bahwa kita bisa, faktanya jika dilakukan bisa. Kelima, menulis itu berkah dan kita yakini bahwa manfaatnya sangat besar.

Di poin kelima inilah, banyak sekali cerita inspiratifnya beliau, baik secara langsung dialami, baik yang dialami kawan atau teman beliau bahkan mahasiswanya yang semua berangkat dari menulis. Energi-energi baru inilah, harus kita buktikan, jangan hanya sekedar motivasi bijak tanpa ada gerakan.

Problem atau masalah yang sering dihadapi adalah ketidak percayaan diri, ketidak kuatan mental ketika menerima kritik. Hal tersebut tidak memungkiri akan mempengaruhi psikologi kita. Tetapi, psikologi yang ada, sebetulnya berangkat dari asumsi, yang kadang-kadang asumsi dari luar kita hiraukan. Sehingga membuat minder untuk menulis. Solusinya, jangan biarkan asumsi menguasai terus optimis. Toh yang berpendapat, suka mengkritik biasanya tidak menulis. Yuk, tetap semangat untuk menulis.

4 komentar:

  1. Mantab bu dosen, lain kali ajak dong, pengen belajar nulis juga. Oh iya, apakah itu juga mengajak LP Ma'arif di kecamatan-kecamatan atau terbatas untuk cabang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo Pak Kamim, saget gabung nextime, klo ini sementara masih acara cabang, boleh dan sangat baik jika disebar luaskan nantinya

      Hapus

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...