Kadang-kadang kita kurang percaya dengan kamampuan diri sendiri, terhadap suatu hal. Sehingga sering menyuruh orang lain, yang dianggap hasilnya akan jauh lebih baik. Padahal belum tentu sesuai harapan. Baiklah, untuk hal-hal tertentu sebetulnya boleh dan sah saja dilakukan. Namun, untuk hal-hal yang menyangkut akhlak dan situasi kondisi, adat istiadat budaya misalnya di pesantren besar, tentu berbeda.
Tidak semua bisa disamakan dengan lingkungan di luar. Harus memahami, seluk beluk keadaan apalagi berhadapan dengan orang yang sangat kita muliakan. Tawadhu' dengan merasa bahwa kita santri.
"Rumongsoho santrinya Kyai" itu memiliki makna yang dalam. Kalau rumongso atau merasa santri, tentu saja segala tindak tanduknya, akan mencerminkan santri. Bisa menempatkan diri. Menatap mata sang guru saja, benar-benar tidak berani. Rasanya penuh dengan kekurangan dan benar-benar malu.
Kita harusnya tahu dan lebih bijaksana memahami situasi dan kondisi yang dihadapi. Bukan mementingkan ego, dengan alasan kepentingan diri sendiri. Kemudian, saya sangat unrespeck apabila ada orang yang hanya cari aman. Memiliki ide, kritik, atau saran, namun yang diajukan untuk berbicara adalah temannya. Sebab dia takut ditolak oleh forum. Sehingga, nama dia tetap bersih dan aman. Sesekali, untuk usul yang masuk akal boleh. Namun, ketika yang kepentingan sangat sensitif, sebisa mungkin usul sendiri mengapa.
Memang, seseorang yang memahami belum tentu mengerti di segala aspek. Pekanya hati dan pikiran, belum tentu mengarahkan kepada sesuatu kebaikan. Jika tanpa diiringi dengan niat yang baik. So, "pinter pinterlah nyeleh awak" lebih pintar dalam menempatkan diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar