Wanita tangguh adalah ibu. Sepertinya siapa pun, akan tetap mengidolakan ibu. Dan setiap anak pasti memiliki rasa bahagia dan hangatnya seorang ibu. Terlepas dari apapun kisahnya dan momennya. Saya pun juga demikian, maka benar memang "jimat" seorang anak hanyalah doa ibu. Surga di telapak kaki ibu, sebegitu mulianya hati ibu.
Tiba-tiba brebes terharu mengingat perjuangan Umik saya. Sepertinya tidak bisa di sebutkan satu persatu. Segala yang dilakukan beliau untuk putra putrinya. Ceritanya saya pernah harus kembali Malang, dengan jadwal jam bus paling akhir, ternyata hujan lebat melanda, sedangkan posisi Umi dan saya masih menaiki kendaraan bermotor tanpa jas hujan. Namun, beliau tiba-tiba berhenti di warung bakso, mengutus saya turun dan makan.
Setelah beliau memesankan bakso untuk saya. Beliau matur "tunggu di sini, sampek Umi kembali, sambil menunggu hujan berhenti, habiskan baksonya". Beliau nekat menerjang hujan rela basah kuyup hanya demi untuk membeli jas hujan untuk saya. Yang membuat menangis adalah beliau hanya membeli satu untuk saya. Beliau tetap hujan-hujanan dan basah kuyup.
Hati saya rontok, seakan tidak mau balik ke Malang. Ingin balik ke rumah saja. Tapi kata Umi "westo pasti ada bus, slamet sampek Malang, dan sekolah tolabul ilmi sing tenanan". Benar-benar air mata saya tidak bisa di hentikan. Beliau tetap dengan basah-basahan menunggu bus datang dan memastikan saya masuk tanpa basah sehelaipun. Di bus pada waktu itu, saya nangis tanpa henti, dan hanya berdoa serta sholawat tanpa henti.
Padahal biasanya ketika naik kendaraan umum, saya pasti tidur apapun suasananya. Kali itu, saya nangis sesenggukan, meskipun lirih tapi entah merasa banyak dosa dan nelongso sekali hati saya melihat Umi. Dua puluh menit kemudian, saya menelfon Umi, tapi belum diangkat, pikiran sudah melayang. Setelah sepuluh menit kemudian, Umi menelfon balik dan berkata "wes teko endi?" Saya pun belum menjawab tapi malah berbalik tanya "Umi, mpun dugi ndalem? Sampun siram?" Hati ibu pasti sangat paham, beliau menjawab "uwes, gak usah khawatir, teko endi saiki sampeyan?" Tapi saya malah menangis. Ah,,,, setelah itu saya mengambil nafas agar lebih tenang dan menjawab pertanyaan beliau.
Itu hanya secuil cerita. Masih banyak cerita yang lebih haru. Bagaimana tangguhnya, seorang ibu. Menjadi garda terdepan untuk anaknya. Wanita kuat di segala kondisi, wanita bijaksana meskipun kata orang beliau terkenal "tegasnya" terhadap anaknya. Penuh dengan disiplin terutama kaitannya dengan ilmu agama, sholat, ngaji dan lain-lain.
Semoga kita sebagai wanita, juga harus hebat, kuat, dan ibu yang baik untuk putra putri kita. Dan ibu kita diberikan kesehatan serta umur yang barokah. Bagi teman-teman yang sudah ditinggalkan Ibunya, saatnya terus di setiap sujud untuk melantunkan doa untuk beliau.
Salam semangat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar