Kamis, 02 Februari 2023

Nahdlatul Ulama’ Organisasi Islam Rahmatul lil’alamin

 


Berdirinya Nahdlatul Ulama’ yang sudah tak terasa 1 abad atau 100 tahun, memberikan berbagai makna yang lebih dalam bagi semuanya. Seratus tahun bukanlah waktu yang pendek untuk memperjuangkan Nahdlatul Ulama’. Para pendahulu mulai dari K.H Hasyim Asyari, K.H Wahab Hasbullah dan K.H Bisri Syansuri dan sampai pada K.H Abdurahman Wahid dan sekarang di era Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf, memberikan pelajaran dan hikmah yang luar biasa nilai perjuangan, pembelajaran dari berbagai bidang dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ sendiri.

Kali ini satu abad sudah lamanya, tinggal bagaimana kita memelihara dan meneruskan perjuangannya di segala bidang yang telah ada serta dikembangkan. Nahdlatul Ulama’ akan terus melebarkan sayap untuk menjadi organisasi terbaik dalam bidangnya mulai dari bidang dakwah keagamaan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Adanya perkembangan negara, berkembang pula masyarakatnya sehingga Nahdlatul Ulama’ harus memiliki peran yang besar untuk membangun kemandirian dan kedaulatan bangsa.

Nahdlatul Ulama’ memang menjadi organisasi terdepan dalam menangkal isu isu yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa. Sejenak kembali mengenang sejarah kemerdekaan, pada tanggal 22 Oktober 1945, K.H. Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad sebagai bentuk perlawanan kepada penjajah Belanda. Dari berbagai lapisan masyarakat pada saat itu mulai dari santri, kyai maupun para pejuang bersatu untuk mengusir penjajah dari negera Indonesia. maka dari itu, melalui peristiwa inilah, setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Perjuangan Nahdlatul Ulama’ tidak terhenti sampai peristiwa Resolusi Jihad saja, tetapi perjuangan itu terus berlanjut sampai sekarang. Akan tetapi, perjuangan kali ini sangat berbeda pada saat kemerdekaan yang harus mengangkat senjata sampai berdarah darah. Perjuangan Nahdlatul Ulama’ sekarang ini yaitu mengisi kemerdekaan dengan segala kemampuan yang dimiliki oleh organisasi Nahdlatul Ulama’.

Seperti diketahui, Nahdlatul Ulama’ mempunyai andil besar dalam bidang pendidikan, Nahdlatul Ulama’ memiliki peran melalui Lembaga Pendidikan Ma’arif (LP Ma’arif) untuk mengembangkan pendidikan. Bukan hanya jumlah, namun bagaimana membangun pendidikan semakin bermutu dan berkualitas mulai dari Paud, RA, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Madrasah Aliyah (MA).

Tidak hanya berfokus pada pendidikan menengah, Nahdlatul Ulama’ juga konsen kepada pendidikan perguruan tinggi di bawah naungan lembaga LPTNU. Perkembangan pesat terhadap perguruan tinggi NU setiap tahun semakin bertambah. Lalu, adanya peran Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka di berbagai provinsi. Dan yang utama yaitu  peran-peran pondok pesantren terus dikembangkan dan menjadi tombak untuk mencetak generasi yang mandiri, berkualitas dan bermutu dan diimbangi dengan peran generasi muda terhadap teknologi.

Semua itu tidak terlepas dari peran pendidikan. Perkembangan terus berjalan, maka peradaban harus mulai dibangun dengan adanya peran pemuda Nahdlatul Ulama salah satunya melalui pendidikan. Dibenarkanlah dan ditingkatkan kualitas mutu pendidikan itu sendiri, penguatan manfaat teknologi mulai digerakkan sehingga para pemuda juga menyadari bhawa mereka memiliki peran untuk Nahdlatul Ulama’ yang berkembang. Minimal peran teknologi mampu mempromosikan kebaikan mulai dari agama yang moderat lalu pentingnya nilai toleransi.

Tidak cukup hanya di bidang pendidikan, di bidang keagaaman pula dengan adanya masyarakat negara ini yang majemuk, Nahdlatul Ulama’ harus mampu dan menyadarkan kembali akan pentingnya nilai toleransi yang tinggi. Lebih lebih, Negara Indonesia mempunyai berbagai macam suku dan agama. Sebab, di era membangun keberadaban dan kemandirian dibutuhkan salah satunya hubungan atau relasi yang luas. Nilai kemanusiaan harus semakin dihidupkan bukan sebaliknya adanya perbedaan dijadikan semakin tertutupnya konsep pemikiran. Perbedaan tersebut bukan hal yang harusnya ditonjolkan.

Islam adalah agama yang rahmatal lil’alamin yang mempunyai makna bahwa islam itu keberadaanya memberikan manfaat bagi sesama manusia maupun alam semesta. Dan hal tersebut sesuai dengan konsep Nahdlatul Ulama’ itu sendiri.

Indonesia adalah negara yang majemuk dan plural. Ratusan suku dan suku dengan budaya dan kepercayaan yang unik menjadi bukti bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Keadaan ini dapat diterima oleh Sunnatullah dan harus dibarengi dengan sikap yang positif. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana menjaga keberagaman ini agar masyarakat Indonesia dapat hidup damai berdampingan tanpa memandang perbedaan.

Nilai ukhuwah islmaiyah harus diperluas sehingga nilai saling menghargai, menghormati dan memahami akan tercipta. Ketika ada sebuah kompetisi, maka terciptalah kompetisi yang sehat. Selanjutnya tentang bidang ekonomi dan teknologi, dalam Muktamar di Lampung 2021 lalu Nahdlatul Ulama’ memiliki perhatian khusus. Disinilah peran sumber daya manusia khususnya warga Nahdlatul Ulama’ harus mulai di persiapkan dan digerakkan dengan baik. Selain hal itu, kolaborasi mulai juga digerakkan.

Konsep Islam Rahmatul lil’alamin yang diberikan oleh Nahdlatul Ulama’ harus dilaksanakan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Apalagi di tengah arus radikalisme dan ekstremisme yang terus menerus. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama’ harus lebih aktif dengan Islam yang moderat secara social di seluruh masyarakat. Dengan konsep rahmatan lil alamin tersebut, Nahdlatul Ulama’ diharapkan dapat membentuk perlawanan terhadap gerakan Islam radikal yang mengancam eksistensi keutuhan NKRI.

Nahdlatul Ulama’ organisasi Rahmatul lil’alamin seluruh umat mengakui, seratus tahun harus dijadikan sebuah sejarah untuk menciptakan dan membangun peradabaan dan kemandirian melalui peran-peran pemuda kreatif. Semoga terus bertambah kebermanfaatan dan keberkahan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...