Berdirinya
Nahdlatul Ulama’ yang sudah tak terasa 1 abad atau 100 tahun, memberikan
berbagai makna yang lebih dalam bagi semuanya. Seratus tahun bukanlah waktu
yang pendek untuk memperjuangkan Nahdlatul Ulama’. Para pendahulu mulai dari
K.H Hasyim Asyari, K.H Wahab Hasbullah dan K.H Bisri Syansuri dan sampai pada
K.H Abdurahman Wahid dan sekarang di era Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf, memberikan pelajaran dan hikmah yang
luar biasa nilai perjuangan, pembelajaran dari berbagai bidang dalam organisasi
Nahdlatul Ulama’ sendiri.
Kali
ini satu abad sudah lamanya, tinggal bagaimana kita memelihara dan meneruskan
perjuangannya di segala bidang yang telah ada serta dikembangkan. Nahdlatul
Ulama’ akan terus melebarkan sayap untuk menjadi organisasi terbaik dalam
bidangnya mulai dari bidang dakwah keagamaan, pendidikan dan sosial
kemasyarakatan. Adanya perkembangan negara, berkembang pula masyarakatnya
sehingga Nahdlatul Ulama’ harus memiliki peran yang besar untuk membangun kemandirian
dan kedaulatan bangsa.
Nahdlatul
Ulama’ memang menjadi organisasi terdepan dalam menangkal isu isu yang
berhubungan dengan kedaulatan bangsa. Sejenak kembali mengenang sejarah
kemerdekaan, pada tanggal 22 Oktober 1945, K.H. Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad sebagai bentuk perlawanan
kepada penjajah Belanda. Dari berbagai lapisan masyarakat pada saat itu mulai
dari santri, kyai maupun para pejuang bersatu untuk mengusir penjajah dari
negera Indonesia. maka dari itu, melalui peristiwa inilah, setiap tanggal 22
Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Perjuangan
Nahdlatul Ulama’ tidak terhenti sampai peristiwa Resolusi Jihad saja, tetapi
perjuangan itu terus berlanjut sampai sekarang. Akan tetapi, perjuangan kali
ini sangat berbeda pada saat kemerdekaan yang harus mengangkat senjata sampai
berdarah darah. Perjuangan Nahdlatul Ulama’ sekarang ini yaitu mengisi
kemerdekaan dengan segala kemampuan yang dimiliki oleh organisasi Nahdlatul
Ulama’.
Seperti
diketahui, Nahdlatul Ulama’ mempunyai andil besar dalam bidang pendidikan,
Nahdlatul Ulama’ memiliki peran melalui Lembaga Pendidikan Ma’arif (LP Ma’arif)
untuk mengembangkan pendidikan. Bukan hanya jumlah, namun bagaimana membangun
pendidikan semakin bermutu dan berkualitas mulai dari Paud, RA, Madrasah
Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Madrasah Aliyah (MA).
Tidak
hanya berfokus pada pendidikan menengah, Nahdlatul Ulama’ juga konsen kepada
pendidikan perguruan tinggi di bawah naungan lembaga LPTNU. Perkembangan pesat
terhadap perguruan tinggi NU setiap tahun semakin bertambah. Lalu, adanya peran
Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka di berbagai provinsi. Dan yang utama yaitu peran-peran pondok pesantren terus
dikembangkan dan menjadi tombak untuk mencetak generasi yang mandiri,
berkualitas dan bermutu dan diimbangi dengan peran generasi muda terhadap
teknologi.
Semua
itu tidak terlepas dari peran pendidikan. Perkembangan terus berjalan, maka
peradaban harus mulai dibangun dengan adanya peran pemuda Nahdlatul Ulama salah
satunya melalui pendidikan. Dibenarkanlah dan ditingkatkan kualitas mutu
pendidikan itu sendiri, penguatan manfaat teknologi mulai digerakkan sehingga
para pemuda juga menyadari bhawa mereka memiliki peran untuk Nahdlatul Ulama’
yang berkembang. Minimal peran teknologi mampu mempromosikan kebaikan mulai
dari agama yang moderat lalu pentingnya nilai toleransi.
Tidak
cukup hanya di bidang pendidikan, di bidang keagaaman pula dengan adanya masyarakat
negara ini yang majemuk, Nahdlatul Ulama’ harus mampu dan menyadarkan kembali
akan pentingnya nilai toleransi yang tinggi. Lebih lebih, Negara Indonesia
mempunyai berbagai macam suku dan agama. Sebab, di era membangun keberadaban
dan kemandirian dibutuhkan salah satunya hubungan atau relasi yang luas. Nilai
kemanusiaan harus semakin dihidupkan bukan sebaliknya adanya perbedaan dijadikan
semakin tertutupnya konsep pemikiran. Perbedaan tersebut bukan hal yang
harusnya ditonjolkan.
Islam
adalah agama yang rahmatal lil’alamin
yang mempunyai makna bahwa islam itu keberadaanya memberikan manfaat bagi
sesama manusia maupun alam semesta. Dan hal tersebut sesuai dengan konsep
Nahdlatul Ulama’ itu sendiri.
Indonesia adalah negara yang majemuk dan plural. Ratusan suku
dan suku dengan budaya dan
kepercayaan yang unik menjadi
bukti bahwa Indonesia adalah
negara yang majemuk. Keadaan ini dapat
diterima oleh Sunnatullah dan
harus dibarengi dengan sikap yang positif. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana menjaga keberagaman ini agar masyarakat Indonesia dapat hidup damai berdampingan tanpa memandang
perbedaan.
Nilai
ukhuwah islmaiyah harus diperluas sehingga nilai saling menghargai,
menghormati dan memahami akan tercipta. Ketika ada sebuah kompetisi, maka
terciptalah kompetisi yang sehat. Selanjutnya tentang bidang ekonomi dan
teknologi, dalam Muktamar di Lampung 2021 lalu Nahdlatul Ulama’ memiliki
perhatian khusus. Disinilah peran sumber daya manusia khususnya warga Nahdlatul
Ulama’ harus mulai di persiapkan dan digerakkan dengan baik. Selain hal itu, kolaborasi
mulai juga digerakkan.
Konsep
Islam Rahmatul
lil’alamin yang diberikan oleh Nahdlatul Ulama’ harus dilaksanakan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Apalagi di tengah arus radikalisme dan
ekstremisme yang terus menerus.
Oleh karena itu, Nahdlatul
Ulama’ harus lebih aktif dengan Islam yang moderat secara social di seluruh masyarakat. Dengan konsep rahmatan lil alamin tersebut, Nahdlatul
Ulama’ diharapkan dapat membentuk
perlawanan terhadap gerakan Islam radikal yang mengancam eksistensi
keutuhan NKRI.
Nahdlatul
Ulama’ organisasi Rahmatul lil’alamin seluruh umat mengakui, seratus tahun
harus dijadikan sebuah sejarah untuk menciptakan dan membangun peradabaan dan
kemandirian melalui peran-peran pemuda kreatif. Semoga terus bertambah
kebermanfaatan dan keberkahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar