Mencintai dan dicintai memiliki makna yang saling. Jika memiliki rasa cinta maka teruslah untuk memupuknya. Seperti halnya cinta dengan menulis. Rasanya akan jatuh cinta dengan rasa yang membara sehingga apapun itu ditulis. Apakah hal demikian salah? Tentu tidak.
Berbeda dengan cinta yang hambar, tidak memiliki rasa. Hanya sepi dan sebatas pikiran serta prasangka. Sama halnya dengan menulis jika sudah buntu apa yang akan di tulis, rasanya ditinggal begitu saja. Tanpa di tengok kembali. Ibarat anak muda memiliki cinta yang hambar sehingga sebatas "apel" atau lewat rumahnya sudah tak sudi.
Sampai kapan cinta itu bersemi? Sepanjang hayat, menulis pun jika bisa dilakukan, lakukan sepanjang hayat. Tidak berhenti begitu saja jika sudah melahirkan sebuah buku. Melainkan, terus menerus melakukannya.
Bagaimana dengan kualitas cinta? Bagaimana dengan kualitas tulisan? Tidak perlu berfikir berat tentang kualitas. "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino". Jika sudah terbiasa, rasa sayang itu pasti tumbuh. Menulis jika sudah terbiasa, kualitas menulis juga akan mengikuti.
Rasa cinta itu alami. Diawali dengan rasa suka sehingga saling menyayangi akhirnya sampai terikat untuk saling memiliki. Menulis akan membawa kepada keberkahan tersendiri. Modalnya lakukan dan yakini dan terus cintai. Sampai pintu-pintu keberkahan dan kebaikan terbuka sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar