Sengkuni adalah tokoh antagonis dalam cerita Mahabarata. Antagonis yang identik dengan kejahatan. Namun, sebetulnya bukan kejahatan dalam perbuatannya saja. Bagaimana Sengkuni memiliki karakter yang orang Jawa bilang "gregetne, nganyelke, memfitnah, kejam bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang bukan haknya".
Lalu apa yang perlu dipelajari saat kita membaca atau menonton cerita Sengkuni? Sengkuni memiliki sifat iri dengki, bingung sendiri untuk mengacaukan teman yang lain, bahkan rela membangun fitnah, naudzubillah. Sebisa mungkin hal-hal seperti ini sangat dihindari. Begitulah dalam dunia kehidupan, kadang kita berusaha sebaik mungkin untuk tidak melukai, namun tetap saja akan mudah dinilai kelemahan dan kesalahan.
Hidup bila ada yang suka itu wajar, sebaliknya jika yang tidak suka pun juga demikian. Harus benar-benar waras untuk memakluminya. Dan hendaknya memiliki senjata paling tajam. Salah satu yang menurut saya, yang sangat kuat adalah dzikir.
Dzikir mengingat Allah adalah hal ternikmat, sebab akan terasa sangat tenang dengan segala yang terjadi disekitar kita. Perbanyak sholawat dan istighfar. Keduanya akan mengiringi dalam hal untuk mengendalikan apapun situasi dan perasaan yang ada. Bahkan segalanya jika harus dihadapkan kepada hal-hal yang tak mudah. Seperti menghadapi Sengkuni dengan versi yang lain.
Provokator tidak selamanya diartikan negatif. Sehingga ketika kita hidup di dunia yang penuh dengan propaganda ini dan mengharuskan menjadi provokator, maka jadilah provokator yang baik dengan tujuan baik. Bukan sebaliknya untuk tujuan menjatuhkan dengan fitnah-fitnah yang semuanya tidak benar.
Maka apapun itu, majulah dengan terhormat dan berkualitas, tanpa harus menjatuhkan yang lain. Ingat saat ini di dunia kita hanya mampir. Hiasan dunia ini juga semua sifatnya sementara. Fokus saja dijalan hidup masing-masing, tak perlu ngrecoki bagia orang lain. Fokus dan harus memperbanyak rasa syukur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar