Rabu, 20 Maret 2024

Bukan Sekedar Menahan Haus Dan Lapar


Puasa yang sejatinya menahan dari segala hal. Tidak cukup rasanya hanya menahan rasa haus dan lapar. Sejatinya menahan semua hal yang negatif. Mulai dari benak, prasangka yang tidak baik.

Acap kali puasa menjadikan diri lebih diam, seakan membuang energi bilamana berbicara, selain bau mulut yang begitu harum dan membuat malas menanggapi. Diam juga bukti menanggapi suatu hal. Ini sebuah pelajaran juga sehingga berbicara yang tidak bermanfaat juga tidak ada gunanya, sehingga lebih baik diam. Harusnya diterapkan juga dalam hari-hari biasa.

Kita sering lupa ketika diam, tapi jari juga bergerak untuk berkata dalam bentuk tulisan. Mungkin tulisan tidak berirama bahkan tidak bernada. Tetapi, tulisan bisa berintonasi untuk pembacanya. Pada kondisi-kondisi tertentu tulisan juga menjadi mantra penyemangat untuk melakukan hal-hal kebaikan. Maka jemari ini pun hendaknya digunakan untuk menulis yang baik, menulis informasi yang jujur, tidak mengada-ada yang ujungnya menjadi fitnah. Naudzubillah

Maka, jikalau menahan untuk tidak berprasangka buruk, tidak berkata buruk maka juga sejatinya menahan untuk tidak menulis hal-hal yang menyakiti orang lain. Selanjutnya menahan untuk tidak mendengarkan hal-hal buruk. Misalnya, tidak mendengarkan gunjingan, gosip atau mendengarkan yang buruk. Mungkin kita bisa mendengarkan ngaji atau ceramah untuk membantu terhindar dari hal-hal yang kita dengarkan yang tidak baik.

Selanjutnya, menata hati untuk tetap dzikir mengingatNya, dengan segala kalimat tayyibah, seperti istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan shalawat. Serius, rasanya nikmat sekali, menata hati dan seakan lupa dengan segala hal omongan yang tidak penting. Alhamdulillah, semoga puasa Ramadhan kali ini lebih berkualitas dan mendapat ridho dari Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...