Senin, 27 Oktober 2025

Berhukum

 budaya berhukumyang rusak

harus kita benahi

dengan tidak membeli 

bahkan memanipulasi


 

Pendidikan

 


Pendidikan

Dunia satu ini apakah seterusnya akan begini?

aku takut hanya sebatas teori

aku merindukan karakter

dan akhlak budi pekerti

yang seharusnya tampak dan mendarah daging sepenuh jiwa

serta yang selalu meninggikan rasa takutnya kepada Illahi Rabbi

Jedag-Jedug

 


mendengarkan  musik 

bukan membayangkan 

jedag-jedug aransemen 

kau pertanyakan

untuk siapa dan mengapa

hanya asyik kudengar

nanun tanpa rasa

Air Mata

 


kulantangkan suara

sebab kutahan air mata

kupelankan langkah agar tak tergesa-gesa

biarkanlah hilang dan tiada

namun biarakn doaku tetap kuhaturkan

Bukan Kebetulan

 



takdir berkata demikian

tidak perlu disesalkan sebab sudah menjadi suratan

dan tidak hanya sebuah kebetulan

Kata

 


tidak ada subjek maupun objek

dalam untaian penulisan

alami mengalir menata huruf dengan urutan menjadi kata dan kalimat

Racun

 



mengenalmu adalah racun

yang membawa kepada tawa dan sedih

beriringan ingin kulenyapkan

hanya mengenal 

belum benar-benar mengingat

Lupa

 


sampai aku lupa 

kau benar-benar telah menghilang

bukan tiada saja

Bagian Dari Janji

 


buku kedua yang kau janjikan

menjadi ingat dan hutang

entah kapan kau akan ingat

Kopi

 


kuseduh kopi hitam

biar panas menjadi bungkam

bukan pahit lagi

manis kadang beriringan

Jangan Diam

 



Diammu Kali Ini

Sungguh Menyakitkan 

Tidak Mengapa

Biar Tuhan Memberi Petunjuk KebenaranNya

Cemburu

 


Cemburu

Itu Menyakitkan

Namun Cemburu Kadang Menjadi Wujud Cinta

Dan Cemburu Itu Kejujuran

Atas Kasih Sayang

Maka Jangan Kau Larang!

Melupa

 

Begitulah Caramu Melupa
Hingga Membuatku
Tak Berharga

Bersabarlah


 aku akan tetap
menanti sinambi Berdo'a
Sampai Allah Yang Mengijabah

Penantian

 


Sepenggal Untuk Insan Yang Penuh Penantian

Maka 

Bersabarlah Dan Berdo'a

Bahwa Allah Memiliki Rencana Indah

Rabu, 22 Oktober 2025

Sekolah Lagi


Cita-cita untuk melanjutkan sekolah selalu muncul. Sebetulnya sudah lama cita-cita itu muncul, setelah menoleh kebelakang ternyata perjalanannya cukup panjang. Salah satunya mencoba mengambil peluang di beberapa kesempatan beasiswa. Meskipun itu belum berhasil, setidaknya ada pembelajaran dan pengalaman.

Ada perasaan mampukah saya, seperti teman-teman yang lain, yang sedang menempuh sekolah lagi. Mengingat berbagai peran, kegiatan, aktivitas baik di dunia pekerjaan maupun dimasyarakat dan keluarga. Motivasi-motivasi oleh beliau dan mereka selalu dibangun di sela-sela diskusi atau guyon yang tak sengaja. Bahwa setiap orang pasti mampu dan bisa, Bismillah katanya pokok sekolah lagi. 

Melanjutkan sekolah membutuhkan pemantapan diri dan persiapan yang baik. Diawali dengan niat, tekat yang bulat dari diri sendiri artinya menata niat yang baik, sebetulnya buat apa sekolah lagi? Selanjutnya adalah berdiskusi dengan keluarga, mencari ridho suami dan orangtua, memohon doa, utamanya merekalah yang selalu menjadi support sistem, penyemangat utama agar saya sungguh-sungguh dan hati-hati dalam setiap melangkah.

BismillahTawakaltu'Alallah saya memberi tantangan sekaligus meyakinkan, membulatkan tekat dan niat untuk berangkat sekolah lagi. Tidak mudah mengambil keputusan ini, berulang-ulang berfikir dan dihiasi tangisan yang entah bagian mana yang membuatku menangis. Kadang-kadang hanya sekedar melihat web pendaftaran saja bahasa Jawanya "keronto-ronto" masih bergulat dengan fikiran mampu atau bisa tidak diriku ini.

Lagi dan lagi saya mengulangi meminta izin dan ridho suami. Beliau berkata bahwa "jika memang sudah bulat, berangkat saja, berjuang, Mas selalu mendukung, mendoakan". Memang sekolah di jenjang doktoral ini tidak murah, saya pun sadar akan hal itu. Sehingga dibagian inilah saya dengan suami selalu berdiskusi, berusaha dan Bismillah dan Yaqin pasti dimampukan oleh Allah rizki kami.

Langkah awal saya haru mempelajari semua persyaratan yang ada, mulai dari cara pendaftarannya lalu ada sistem pembayarannya. Pada langkah ini suami mengajarkan bahwa harus mandiri, belajar berusaha sendiri tanpa beliau. Saya akui dalam beberapa hal saya kurang teliti dan selalu ada suami untuk melengkapinya. Namun, kali ini sedikit berbeda. Semuanya harus mandiri kata beliau. Oke kujawab dalam hati, pasti saya bisa nih.

Setelah mempelajarinya dan mencoba memenuhi prosedur sistem yang ada dengan waktu yang sangat mepet dengan akhir pendaftaran. Sebetulnya saya pusing sebab terkendala di pembayaran.  Dibulan-bulan itu sungguh amazing yang namanya Duit. Heheh Tetapi, saya selalu yaqin pasti Allah menolongku dan pasti ada jalanNya. Alhamdulillah lewat salah satu omku, saya bercerita dan tanpa basa-basi beliau langsung membantuku.

Keesokan harinya, saya langsung membayar pendaftaran itu, inginnya melalui mesin ATM sesuai panduan yang ada. ATM terdekat yakni ATM Ngunut sekalian berangkat ke kampus, namun sudah tiga kali saya coba dan gagal. Uniknya lagi, Virtual Acounnya (VA) akan habis dalam waktu 24 jam dari saya pendaftaran semalam. Saya ingat betul VA akan berakhir pukul 11.17 siang. Allah Karim, saya kebingungan mencoba telfon suami, beliau mengarahkan untuk ke teller langsung yang berada ditengah kota, barat rumah sakit lama. Perjalanan dari Ngunut ke tengah kota, tanpa berfikir panjang saya menuju kesana dan ternyata oleh pegawainya "ini tidak bisa mbak, sebab VA-nya bukan Bank kami" langsung bruabak, mau kemana ini saya. Pegawai bank itu, menawarkan untuk membantu cek dimana saya harus membayar VA itu. 

Dulu

 


Dulu 

Dulu Aku Menganggapnya Selalu Ada

Dulu Aku Mengaguminya 

Teringat Kepeduliannya Luar Biasa

Hingga Tidak Ada Sekat

Dulu

Atau Hanya Sesaat

Berubah

 


Berubah Perubahan 

Duri Yang Kau Anggap Ada

Bukan Bagian Dari Bahaya

Pembentukan Untuk Berubah

Duri Membuat Sakit 

Tertusuk Bila Ceroboh

Duri Perubahan

Tidak Harus Dianggap Ranjau

Dia Bisa Menjadi Bunga

Untuk Menyimpan Air 


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...