Cita-cita untuk melanjutkan sekolah selalu muncul. Sebetulnya sudah lama cita-cita itu muncul, setelah menoleh kebelakang ternyata perjalanannya cukup panjang. Salah satunya mencoba mengambil peluang di beberapa kesempatan beasiswa. Meskipun itu belum berhasil, setidaknya ada pembelajaran dan pengalaman.
Ada perasaan mampukah saya, seperti teman-teman yang lain, yang sedang menempuh sekolah lagi. Mengingat berbagai peran, kegiatan, aktivitas baik di dunia pekerjaan maupun dimasyarakat dan keluarga. Motivasi-motivasi oleh beliau dan mereka selalu dibangun di sela-sela diskusi atau guyon yang tak sengaja. Bahwa setiap orang pasti mampu dan bisa, Bismillah katanya pokok sekolah lagi.
Melanjutkan sekolah membutuhkan pemantapan diri dan persiapan yang baik. Diawali dengan niat, tekat yang bulat dari diri sendiri artinya menata niat yang baik, sebetulnya buat apa sekolah lagi? Selanjutnya adalah berdiskusi dengan keluarga, mencari ridho suami dan orangtua, memohon doa, utamanya merekalah yang selalu menjadi support sistem, penyemangat utama agar saya sungguh-sungguh dan hati-hati dalam setiap melangkah.
BismillahTawakaltu'Alallah saya memberi tantangan sekaligus meyakinkan, membulatkan tekat dan niat untuk berangkat sekolah lagi. Tidak mudah mengambil keputusan ini, berulang-ulang berfikir dan dihiasi tangisan yang entah bagian mana yang membuatku menangis. Kadang-kadang hanya sekedar melihat web pendaftaran saja bahasa Jawanya "keronto-ronto" masih bergulat dengan fikiran mampu atau bisa tidak diriku ini.
Lagi dan lagi saya mengulangi meminta izin dan ridho suami. Beliau berkata bahwa "jika memang sudah bulat, berangkat saja, berjuang, Mas selalu mendukung, mendoakan". Memang sekolah di jenjang doktoral ini tidak murah, saya pun sadar akan hal itu. Sehingga dibagian inilah saya dengan suami selalu berdiskusi, berusaha dan Bismillah dan Yaqin pasti dimampukan oleh Allah rizki kami.
Langkah awal saya haru mempelajari semua persyaratan yang ada, mulai dari cara pendaftarannya lalu ada sistem pembayarannya. Pada langkah ini suami mengajarkan bahwa harus mandiri, belajar berusaha sendiri tanpa beliau. Saya akui dalam beberapa hal saya kurang teliti dan selalu ada suami untuk melengkapinya. Namun, kali ini sedikit berbeda. Semuanya harus mandiri kata beliau. Oke kujawab dalam hati, pasti saya bisa nih.
Setelah mempelajarinya dan mencoba memenuhi prosedur sistem yang ada dengan waktu yang sangat mepet dengan akhir pendaftaran. Sebetulnya saya pusing sebab terkendala di pembayaran. Dibulan-bulan itu sungguh amazing yang namanya Duit. Heheh Tetapi, saya selalu yaqin pasti Allah menolongku dan pasti ada jalanNya. Alhamdulillah lewat salah satu omku, saya bercerita dan tanpa basa-basi beliau langsung membantuku.
Keesokan harinya, saya langsung membayar pendaftaran itu, inginnya melalui mesin ATM sesuai panduan yang ada. ATM terdekat yakni ATM Ngunut sekalian berangkat ke kampus, namun sudah tiga kali saya coba dan gagal. Uniknya lagi, Virtual Acounnya (VA) akan habis dalam waktu 24 jam dari saya pendaftaran semalam. Saya ingat betul VA akan berakhir pukul 11.17 siang. Allah Karim, saya kebingungan mencoba telfon suami, beliau mengarahkan untuk ke teller langsung yang berada ditengah kota, barat rumah sakit lama. Perjalanan dari Ngunut ke tengah kota, tanpa berfikir panjang saya menuju kesana dan ternyata oleh pegawainya "ini tidak bisa mbak, sebab VA-nya bukan Bank kami" langsung bruabak, mau kemana ini saya. Pegawai bank itu, menawarkan untuk membantu cek dimana saya harus membayar VA itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar