Senin, 07 Desember 2020

Tiga Puluh Dua

 


Tidak terasa sudah tiga puluh dua tulisan yang saya tulis di blog milik saya. Artinya tidak terasa saya sudah menulis di hari yang ke tiga puluh dua. Mungkin, masih dibilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan penulis hebat di luar sana. 

Tak menyangka juga, saya bisa menulis sebanyak tiga puluh dua dengan segala macam isi, ide atau judul yang ada. Kalau ditanya puas? Pasti belum, apakah cukup tiga puluh dua saja? Jawabnya tentu TIDAK.

Tiga puluh dua hasil tulisan ini, setidaknya menjadi sebuah motivasi besar untuk saya melangkah atau bahkan lari untuk lebih menekuni, menggali, mencari ilmu lebih dalam tentang menulis.

Masih ingat sekali, awal menulis karena tuntutan, salah satunya di dunia perkuliahan. Membuat makalah, tugas akhir skripsi dan tesis. Karena dari tuntutan atau paksaan tersebutlah, saya bisa selesai menulis. Menulis tentu tidak akan selesai jika hanya dipikirkan saja. Menulis yang baik, ya lakukan saja menulis dan praktek langsung.

Saya juga tak menyangka, waktu di bangku perkuliahan,  saya membuat dua buku pendamping pembelajaran Sains. Yaitu buku Pseudo Ensiklopedi Hewan dan Pseudo Sistem Pencernaan. Mungkin buku tersebut, tidak akan jadi jika tanpa tuntutan, saran, bimbingan atau bahkan paksaan dari berbagai pihak, seperti bapak dan ibu dosen serta teman-teman seperjuangan.

Membuat buku tersebut, tentu diawali dengan menulis. Mustahil, jika tanpa menulis, bisa terbentuk suatu buku. Kalau dulu saja bisa, kenapa sekarang tidak? 

Jadi hal di atas  sebagai dorongan, dan pengingat serta nasihat untuk diriku sendiri. Jangan lelah untuk menulis, jangan malas menulis. Westo Filza, teruslah menulis.

Keep Fighting

Sibuk?

Saya sibuk,

Saya repot,

Sibuk apa?

Lalu, kapan selesai kesibukan tersebut?

Sering sekali, saya mengatakan pada diri saya sendiri kalimat-kalimat di atas. Saya kira, semua orang akan sibuk dengan kegiatan, aktivitas atau pekerjaan yang dimiliki. Masing-masing orang pasti sibuk atau sering kita kenal dengan kata repot. Kesibukan diciptakan oleh diri kita sendiri.

Saya juga sibuk dengan kegiatan yang saya miliki. Namun, saya tidak tahu sesibuk apa sebenarnya dan nilai apa yang saya dapat dari kesibukan tersebut.

Saya tersentil dengan salah satu caption sosial media adik kelas saya. Kurang lebih "sibuk itu palsu, semua tergantung prioritas". Kalimat tersebut nasihat yang amat dalam. Orang yang tanpa melakukan kegiatan pun kadang mengatakan dirinya sibuk. Jadi, sibuk atau repot boleh tidak, dijadikan suatu alasan?

Lalu prioritas, hal yang lebih utama. Kepentingan-kepentingan setiap individu pasti berbeda. Kepentingan utama setiap orang juga tidak sama. Sesibuk apapun pasti ada yang lebih utama atau diprioritaskan. Sangat mungkin, jika bukan prioritas maka tidak dilakukan.

Sibuk atau repot menurut saya harus spesifik dalam kegiatannya dan seberapa besar manfaatnya. Mari, kita sibukkan diri kita untuk sesuatu yang bermanfaat salah satunya menulis.

Saya  membuat komitmen pada diri saya sendiri. Sejak mengikuti seminar Literasi bulan lalu. Minimal dalam sehari harus ada waktu untuk menulis. Jika tidak bisa memenuhi, saya menganggapnya sebagai hutang. 

Maka, semakin menunda menulis hari ini, maka hutang saya menulis akan semakin menumpuk. Tidak jarang, menulis mengalami kebuntuan dalam mencari ide, topik atau judul. Yang paling pokok, harus menulis dan dilakukan. Benar atau tidak, yang penting menulis.

Sejauh ini, saya merasakan bahwa kegiatan menulis itu sangat menyenangkan dan selalu positif. Entah ada yang membaca atau tidak, yang terpenting menulis. Sesibuk apapun ayo tetap menulis.

Minggu, 06 Desember 2020

Petani


Setiap profesi, pasti mempunyai resiko masing-masing. Salah satunya profesi tersebut menjadi petani. Kalau petani, otomatis akan bekerja di sawah atau ladang. Dan mayoritas sawah, bisa kita temukan di desa desa. 

Petani bekerja tidak seperti profesi pada umumnya,  tanpa kantor, tanpa AC, tanpa  komputer dan tak perlu memakai seragam resmi. Tidak ada ketentuan libur dalam seminggu. Jam yang digunakan pun sangat berbeda. Petani pada umumnya akan berangkat pagi-pagi sekali, kemudian pulang di jam dia inginkan, ambil sajalah,  yang umum pukul 11.00 siang baru mereka pulang. 

Para petani bekerja di sawah memang jauh dari kata bersih. Basah karena keringat atau hujan sudah jadi langganan. Semilir angin alami menjadi pengurang rasa terik panas matahari.  

Namun, bagi mereka sangat menyenangkan. Hal ini bisa dirasakan, pada raut wajah sumringah mereka. Selain itu, mereka tidak sendiri, apapun musimnya pasti mereka bertemu dengan tetangga tanah sawah, samping kanan kiri, depan atau belakang.

Apalagi waktu sarapan tiba, di gubuk kecil sambil menikmati makanan rumahan, di wadah rantang menjadi kekhasan tersendiri. Tentunya, lebih nikmat dan lezat untuk disantap. Diiringi dengan obrolan-obrolan kecil dan candaan. Seperti sekarang ini, sawah di desa saya masih musim panen cabai. Jadi mustahil di pagi hari sawah sepi.

Perjuangan petani dalam memulai mengolah tanah, menanam, merawat, memupuk, mengairi dan memanen, saya rasa semua petani mempunyai cerita masing-masing. Dan antara petani satu ke petani yang lain bisa bertukar pengalaman. Pada umumnya mereka, tidak sekolah tinggi pertanian, tapi cara otodidak dalam praktek bertani serta pengalaman yang ada, terlahirlah sebuah hasil yang tak mengecewakan.

Mulai dari hasil panen cabai yang melimpah dengan harga murah, hasil cabai berkurang tapi harga mahal, sudah mereka rasakan. Musim cabai mulai dari harga 8.000 rupiah perkilogram hingga saat ini perkilonya mencapai Rp 35.000, 00 menjadi suka duka tersendiri. Bayangkan saja, jika mereka setiap hari memanen cabai, bertepatan dengan harga yang bagus. 

Semisal satu hari mendapat 35 kilogram cabai kemudian harga perkilonya Rp 35.000, 00 berapa total hasil keringat mereka? Iya, sekitar 1.220.000 belum dikalikan seminggu jika tanpa libur. Benar-benar seimbang bukan dengan perjuangannya.

Maka, tidak ada alasan profesi apapun untuk tidak bersyukur atas rizki yang Allah berikan. Dan semua hambaNya sudah ditakdirkan memiliki rizki sesuai dengan jatahnya.

Keep Fighting....

I Love Farmers...

Sabtu, 05 Desember 2020

Payung Warna Warni


Alhamdulillah hujan deras turun ketika, saya sedang berada di salah satu toko. Sembari menikmati hujan turun, sesekali ku melihat sekitar dan lalu lalang kendaraan di jalan raya. Akibat hujan yang deras, air dipinggir jalan raya pun menggenang. 
Hujan tetap deras, pemilik toko mempersilahkan saya dan suami untuk duduk. Alhamdulillah, bisa duduk dengan santai. Tiba-tiba mata saya, melihat payung warna-warni. Mungkin sebagian orang menyebutnya payung pelangi. Karena warnanya yang bermacam-macam.
Payung tersebut letaknya dipojok parkiran toko. Karena payung tersebut sangat besar, saya tak melihat, dibawah payung tersebut apa. Terus saja saya berfokus pada payung warna warni yang besar tersebut. Ketika tertempa air hujan yang sangat besar, dia tetap stay strong. 
Awalnya aku tak penasaran, tapi sesekali kulihat meski hujan deras, tetap  ada yang datang silih berganti. Rasa penasaranku makin tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk berdiri dan melihat dari jarak yang lebih dekat. Ternyata dibawah payung tersebut ada gerobak kecil. 
Gerobak tersebut mengeluarkan asap, di sisi kanan gerobak itu ada beberapa botol-botol yang warna merah, coklat muda, dan warna hitam. Pantas saja, kamu payung warna warni, tak kenal sepi. Memang di balik payungmu, tenyata kau pentol cilok yang menggoda. Dan tambah enak dinikmati ketika hujan seperti ini.

Kamis, 03 Desember 2020

Eksistensi

 


Eksistensi kata yang sangat sering kita dengar. Eksistensi berasal dari existere yang artinya muncul, ada, atau timbul. Menurut saya, eksistensi juga bisa diartikan sebagai link, networking, atau relasi. Kita sering mengucapkan kata eksistensi, tapi kadang tidak tahu maknanya.
Eksistensi bisa menjurus ke hal positif atau sebaliknya. Eksistensi itu sendiri, kadang diperlukan dalam berbagai hal terutama dalam prestasi. Semua kembali dan  tergantung dengan yang melakukan.
Setiap manusia pun mempunyai hak untuk menunjukkan eksistensinya. Tapi, perlu di ingat bahwa eksistensi berbeda dengan narsis. Menurut saya, narsis bentuk eksistensi yang mengarah kepada hal yang kurang baik. Kadang narsis akan mengarah pada pemaksaan untuk di manapun dia berada, selalu ingin diakui dan diterima.
Mari kita tunjukkan eksistensi kita dengan hal-hal yang baik. Salah satunya prestasi sesuai dengan bidang kita masing-masing. Tekuni, bersungguh-sungguh, terus eksis dalam bidang tersebut, maka kita tidak hanya dihitung tapi juga diperhitungkan oleh orang lain.
Fighting...

Rabu, 02 Desember 2020

Hujan

Suara air berjatuhan

Di semua sisi atap 

Suara merdumu

Tak ada duanya


Lama aku merindu

Bermain bersama

Melepas tawa 

Diiringi dinginmu


Kau mampu merubah

Kering jadi basah

Layu jadi segar

Panas jadi dingin


Hujan

Kau datang dan pergi

Sesuka hatimu

Tanpa ada larangan


Meski hanya sebentar

Seringlah Datang

Menyirami diriku

Yang Layu.


Selasa, 01 Desember 2020

Salam Rindu



Tak Peduli Berapa Lama Kamu Mengenal

Dimana Lalu Kapan

Semua Begitu Mengalir

Atas KehendakNya

Berawaal Dari Anak Rantauan

Di Mulai Dengan Kelas Kecil

Yang Sering Jadi Cibiran

Sesama Angkatan

Internasional Class Program

Hanya Diduduki Tiga Adam

Dan Sebelas Hawa

Betul Hanya Empat Belas

Tangis Tawa Menyertai

Bukti Sejarah Perjalanan Kita

Mengokohkan Menguatkan

Bangunan Cita-cita Dan Komitmen

            Berjaya Dan Sukses

            Go International

            Memakai Toga Bersama

Wahai… Sahabat Icp 2012 ku

Setiap Canda Tawamu

Melukis Kerinduan

Yang Amat Dalam



 

Salam Rindu Untuk Kalian

Safirda Nilam Wardah

Umi Inayati

Suryaningtyas

Silvy Maghfiroh

Azkiya Vitakunnisa

Ulfa Agus Yudha

Erna Mufidatus Solihah

Satria Fitri

Itsna Amaliya

Nur Azizah Irmasari

Mohammad Ali Makhrus

Mokhammad Khoirul Anwar

Mohammad Ali Farhan


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...