Minggu, 07 Maret 2021

Menulis Yang Kualami



Saya membaca buku beliau Dr. Ngainun Naim yang berjudul "Menulis Itu Mudah". Di dalamnya ada berbagai jurus untuk membangun literasi menulis. Salah satunya jurus menulis yang diketahui.

Tulislah apa yang kamu ketahui. Tidak perlu menulis sesuatu yang rumit, kompleks dan sulit untuk di tulis. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mudah dipahami.

Tiga kalimat tersebut sudah menepis bahwa menulis itu tidak sulit. Menebas alasan bahwa menulis itu rumit. Lalu alasan apa lagi yang membuat kita ragu untuk menulis.

Saya merasakan betul, nikmanya menulis meski kadang dihantui rasa malu dan beribu pertanyaan. Apakah tulisan ini layak dibaca, tulisan ini baik dan tulisan ini bisa diterima orang lain atau tidak.

Namun, saya terus menulis. Dan membuang jauh-jauh dan tak mempedulikan hantu malu itu. Pengalaman menulis itu sangat luar biasa.

Saya juga merasakan ketika menulis pasti akan membuka wawasan yang luas. Yang awalnya wawasan atau pengetahuan itu satu. Karena menulis, mengharuskan membaca dan mencari pengetahuan atau sekedar informasi baru. Maka secara otomatis, menulis akan membawa kita lebih baik dan menambah ilmu.

Kadang kita tidak tahu yang harus kita tulis. Yang paling mudah bagi saya menulis aktifitas yang kita alami. Dan suatu hal yang kita ketahui.

Bisa jadi, ada kejadian yang sama terjadi di orang lain dengan apa yang kita alami. Mungkin ada masukan, nasehat atau saran dari yang sudah kita tulis. Bahkan juga kritikan.

Pengalaman saya sendiri memang sebagian tulisan yang saya tulis kebanyakan pengalaman dan tentu saya alami. Sebagai penulis pemula, kita harus siap jika ada kritikan.

Hadapi dengan tenang saja. Seperlunya saja kita membaca. Yang paling utama tulisan itu tidak mengundang kejelekan, mengandung syara atau merugikan. 

Apakah ada yang berkomentar jelek dan mematahkan semangat menulis saya? Wah tentu ada. Tapi yang berkomentar atau mengritik tersebut, belum pernah menulis. Jadi saya tenang saja.

Terus saja menulis. Bagi yang belum menulis, mulai saja dan mencoba menulis. Rasakan nikmatnya menulis. Dan bahagianya jika tulisan yang kita tulis dibaca oleh orang lain. 

Sabtu, 06 Maret 2021

Mencintai Al Quran Dengan Cara Menjaganya

 2013 di semester tiga masih terhitung baru sebagai mahasiswa. Di kampus ada sebuah naungan untuk mahasiswa yang menghafal Al Quran. Baik yang sudah punya hafalan atau baru akan menghafal Al Quran.

Singkat cerita setiap liburan semester lumayan panjang itu dimanfaatkan oleh pengurus untuk karantina Al Quran. Nah saya juga ikut bergabung. Sekitar tujuh minggu saya tidak pulang. 

Di karantina tersebut, memang semi pesantren kilat menghafal quran, mengaji kitab kuning, qiyamul lail dan wirid tirakat lainnya.

Disitulah saya mulai menghafalkan Al Quran. Pada waktu itu, alhamdulillah saya juz 30 sudah lolos. Akhirnya mulai hafalan di juz 1. 

Pesertanya memang tidak sedikit. Sehingga satu ustdzah memegang enam sampai delapan santri. Pengalaman yang luar biasa.

Kalau dulu nyantri dengan sekolah. Tapi pada saat itu, benar-benar hanya fokus untuk menghafal Al Quran. Dan selesai dari karantina tidak langsung hilang begitu saja. 

Melainkan harus setoran demi setoran dan ngaji di waktu luang kuliah. Sudahlah pokoknya niat menghafal karena Allah begitu saja. Memang di kampus sudah biasa, mahasiswa pada waktu dikelas atau di gazebo kampus  dan di mushola ngaji untuk nambah yang akan disetorkan ke ustadz.

Berjalannya waktu ke waktu meski belum khatam, minimal saya punya tabungan. Kalau nambah atau membentuk hafalan itu mudah. Tapi, yang butuh perjuangan akan "ngrekso" atau menjaganya.

Kitab Al Quran yang dari dulu setia mendampingi saya pada waktu itu sampai hari ini alhamdulillah masih awet. Meski terlihat lusuh, ada coretan pensil dari ustdzah memberikan cerita sejarah sendiri.

Saya juga mengucapkan kepada semua guru ustadz dan ustadzah yang mendampingi dan membimbing berkecimung dalam Al Quran. Beliau Ustadz Awan, Ustadz Arif, Ustdzah Hilfatin. Beliau bertiga adalah tempat saya setor. Kalau sekarang bersama Ibu Titik yang selalu sabar mengingatkan membenarkan bacaan saya. Semoga sehat selalu dan panjang umur.

Allah selalu menakdirkan kepada kita hal yang tidak disangka-sangka dan saya percaya itu yang terbaik. Memang saya belum khatam, dan belum wisuda hafal Al Quran bil Ghoib 30 juz. Namun, saya diberikan kesempatan lain yaitu naik di podium, menjadi mahasiswa terbaik di hadapan wisudan/wisudawati yang hampir 1500 orang. Setidaknya saya berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk orang tua dan keluarga saya.

Lalu, berjalannya waktu. Hafalan Al Quran itu berhenti karena saya juga menyambi kerja dan kuliah S2. Kebayang kan betapa padatnya jadwal pada waktu itu. Sampai-sampai saya kurus dengan berat badan 57kg dari yang awalnya hampir 75kg.

Ah itu bagian dari cerita. Kerja kuliah terus begitu. Akhirnya, harus boyong balik ke kampung halaman karena harus menikah.

Hal yang luar biasanya adalah Allah menakdirkan lagi dan lagi hal yang sangat sangat terbaik. Saya masuk di lembaga yang berbasis Al Quran. 

Jika masuk lembaga tersebut, secara otomatis Al Quran adalah hal utamanya. Dari siswa sampai semua gurunya minimal hafal juz 30. Hati saya sangat tergugah kembali.

Hafalan yang dulu sempat berhenti, alhamdulillah tiada henti sampai sekarang diizinkan untuk menghafalkan lagi dan lagi, membenahi dan melancarkannya. 

Subhanallah tidak menyangka. Memang mempunyai hafalan itu sangat asyik. Hati lebih tenang. Dan sekarang saya dan teman-teman guru juga terus berproses untuk menghafalkan Al Quran.

Meski sedikit demi sedikit, saya yaqin kalau istiqomah insyallah pasti khatam. Dan hafalan Al Quran itu tidak pandang bulu dan umur, apalagi status sosial. Jauh.... pokok intinya ngaji menghafalkan dan menjaga Al Quran untuk ibadah mencapai RidoNya.

Saya jadi teringat di salah satu kitab Alala bahwa ada beberapa syarat menuntut ilmu yang manfaat dan barokah. Salah satunya adalah sesuatu yang diulang diulang secara terus menerus dengan waktu yang lama. 



Jumat, 05 Maret 2021

Melayang

Kau Hadir

Tanpa Aku Minta

Sudah Cukup Lelah

Karena Hanya

Sebuah Kenangan

Tak Bisa Kupegang

Tapi Melayang 

Di Pikiran



Datang

Aku Datang 

Berlari Tanpa Henti

Seakan Nafas Panjang

Terus Menerus Ada

Hanya Untuk 

Menepati Sebuah Janji

Tunggulah Hingga

Aku Datang




Kamis, 04 Maret 2021

Jatuh



Jatuh Bukan Tak Berdaya

Jatuh Bukan Tuk Sengaja

Jatuh Bukan Tak Mampu

Jatuh Bukan Yang Dimau


Namun 

Karena Jatuh 

Akan Membawa Pelajaran Baru


Jatuh Pun Bukan

Alasan Tuk Berhenti

Untuk Mencoba Dan Berusaha


Selasa, 02 Maret 2021

Merekah Kenangan



Dingin Menggigil

Menusuk Tulang

Semilir Angin

Tersusun Rapi

Tertumpuk Kenangan

Manja


Kucoba Bongkar

Mencari Bilah Bilah

Serpihan Bungan Kenangan

Yang Merekah Indah

Senin, 01 Maret 2021

Buku Kedua 2021



Buku antologi kedua penuh cerita. Lahirnya buku aantologi kedua ini awalnya saya membeli salah satu buku puisi karya Gus Obie Rojabi. Kemudian kepo dengan segala isinya serta penerbitnya. 

Kemudian mulailah mempelajari dan berkenalan di akun penerbitnya  yakni "halaman Indonesia". Dan penerbit tersebut mau mengadakan menulis bersama. Tanpa berfikir panjang, aku pun ikut didalamnya.

Alhamdulillah komunitas tersebut dalam waktu sangat dekat mengadakan penulisan antologi puisi. Sekali lagi aku ngikut tanpa berfikir. Apakah saya mampu menulis puisi dengan baik. Yang penting ikut, karena pada waktu itu sudah tinggal tiga hari mendekati deadline pengumpulan naskah.

Alhamdulillah tiada henti, karena sudah ada beberapa tabungan menulis salah satunya di blog. Saya mencoba mengambilnya dengan sedikit mengedit. 

Kemudian saya kirim dari bulan Desember 2020 akhir. Hampir seminggu sekali oleh  penerbit di beri update berita tentang proses sampai terbentuk buku ini. Mulai dari proses editing naskah, desain cover, layout dan lain-lain.

Baru akhir februari 2021 ini bisa terbit. Dan sampai ke saya tepat 1 Maret 2021 pukul 11.00 siang via pos. Wah senangnya bukan main.

Meski antar penulis ini tidak mengenal secara langsung. Minimal karyanya bisa dinikmati bersama. Buku ini sangat sederhana namun menyimpan sejuta pesan yang mewakili perasaan penulis puisinya.

Saya pribadi mengucapkan terimakasih banyak kepada penerbit halaman Indonesia Yogjakarta yang memberikan kesempatan dan wadah menulis. Terutama bagi saya yang masih proses terus belajar menulis.

Antologi puisi ini merupakan karya kedua saya di tahun 2021. Meski belum menulis secara Solo, lahirnya buku ini memberikan nuasa yang berbeda, memberikan ilmu baru dan tentu pengalaman untuk nanti ke depan menyusun buku solo.

Semoga segera rilis buku solonya 

Insyallah

Soon 

Segera 

Bismillah.

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...