Senin, 12 Juli 2021

Kejutan Telfon Dariku



Untuk memastikan benar-benar pembelajaran itu berjalan lancar hari ini saya melakukan hal yang tidak biasa saya lakukan ketika pembelajaran secara daring. Saya memulai dengan menelfon siswa kelas secara acak dan bergantian. Karena dari whatsup terlihat beberapa anak terus online. Saya mulai curiga.

Karena sebenarnya tugasnya tidak perlu online secara terus menerus melalui what's up, karena beberapa materi pembelajaran sudah ada di buku. Timbul pertanyaan besar, kenapa tetap online ini siswa ya?

Ternyata ada beberapa orang tua yang mengadu secara langsung, ada juga yang melaporkan lewat pesan singkat, kegiatan anaknya, di hari kedua pembelajaran  daring di kelas VI ini. 

Memang betul mereka mengerjakan tugas dengan terburu-buru, lalu selesai tanpa meneliti dan membaca kembali, karena mereka ingin segera bermain game online.

Hal itulah yang membuat para orang tua merasa resah. Karena jika ditegur, mereka hanya bertahan sepuluh menit, lalu bergegas lagi bermain game online. Tugas di what's up hanya menjadi alasan belaka.

Hal ini sebagai evaluasi tersendiri bagi saya sebagai pengajar. Lalu, saya lakukan tahap pertama ini dengan menelfon secara acak di jam-jam sekolah. Artinya mulai pukul 7.30 sampai pukul 10.00 WIB. 

Di waktu itulah saya menelfon. Memang sekarang lebih canggih untuk video call, zoom meeting class, agar terlihat gambar jelas kegiatan yang dilakukan. Tenang, ini masih tahap awal, mungkin video call atau zoom meeting class bisa saya lakukan di tahap kedua, tahap ketiga dan di hari selanjutnya.

Apa yang saya temukan ketika menelfon beberapa siswa saya?

Pertama, ternyata ada siswa yang sangat antusias senang di telfon, mengucapkan salam tanpa beban, lalu saya tanyakan kesulitan apa tugas hari ini, dengan jelas mereka menceritakan, saya pun ikut senang mendengarkannya.

Kedua, ada yang terbata-bata karena kaget, dan terlihat grogi ketika saya tanya, kegiatan hari ini apa saja sebelum mengerjakan tugas dan setelahnya, lalu saya tanya sudah sarapan apa belum, tapi jawabannya terdengar belibet.

Ketiga, ada siswa yang online, tapi saya telfon tidak diangkat, nah hal seperti ini yang menurut saya agak aneh. Apakah alasan mereka tidak mengangkat telfon saya, apakah takut, grogi atau acuh. Ah saya juga belum tahu alasan pastinya.

Kelas yang saya pegang itu sudah kelas VI, sehingga mayoritas mempunyai hp sendiri. Oleh karena itu, hal sepele dengan menelfon menanyakan hal sederhana, membuat mereka menjadi perhatian dan bertanggung jawab. Saya rasa ini sangat mempunyai pengaruh kepada mereka.

Besar harapan mereka yang sudah mempunyai hp sendiri, dapat menggunakan fasilitas tersebut dengan benar, dan bijaksana. Tentu dengan pengawasan orang tuanya.

Senang sekali bisa mendengar suara mereka.

Salam,

Tetap semangat belajarnya

Bebal



Tuli

Kata Itulah Yang Pantas

Untuk Diri Yang Penuh Rasa Egois

Atas Seruan Keras Panggilanmu


Buta

Kata Itulah Yang Pas

Untuk Diri Yang Tak Melihat

Kenikmatan Atas KuasaMu


Pincang

Kata Itulah Yang Cocok

Untuk Diri Yang Tak Pernah Adil

Dalam Menatap Kehidupan


Tak Ada Yang Mampu Diandalkan

Tak Ada Yang Pantas Disombongkan

Lalu Kenapa Aku Bebal

Dengan Panggilan Adzan

Minggu, 11 Juli 2021

Dua Jenis Tatapan Mereka



Hari pertama di tahun ajaran baru kali ini jatuh di hari Senin, 12 Juli 2021. Menyambut hari pertama untuk belajar dengan buku-buku baru serta suasana yang baru, ada teman baru dan wali kelas baru. Besar harapan, bahwa tahun ajaran baru ini, bumi bisa pulih seperti sedia kala. Dan bisa melaksanakan aktifitas seperti biasa lagi salah satunya bersekolah.

Ada dua jenis tatapan siswa yang saya amati melalui gestur tubuhnya. Jenis pertama, tatapan lesu mata mereka yang menjelaskan seakan merindukan suasana sekolah. Kedua, tatapan sumringah. Hal ini sangat terlihat berbeda dari jenis pertama. 

Jenis tatapan sumringah ini memberikan arti lain, yakni sebagian dari mereka lebih suka dengan sekolah tanpa tatap muka. Mengapa bisa demikian? Padahal sudah hampir satu tahun setengah penuh, sekolah tanpa tatap muka. 

Saya pribadi juga heran, mengapa masih ada yang tak merindukan sekolah. Banyak alasan yang menyebabkan hal demikian, salah satunya mungkin mereka merasa sudah terlalu nyaman dengan sekolah tanpa tatap muka, seperti burung bebas tanpa tuntutan dan tekanan. Karena jauh dari pemantauan secara langsung oleh guru. Sehingga mereka terkesan tidak niat, akhirnya tidak mengikuti kegiatan daring, tidak mengerjakan tugas ya, intinya seenaknya sendiri.

Sebaliknya untuk jenis tatapan pertama, lesu mata sebagian besar siswa yang sangat sedih dengan keadaan sekarang, sekolah yang sudah terlalu lama tanpa tatap muka, membuat mereka merasa semakin menurun kualitasnya, semakin susah memahami semua isi materi pelajaran. Lalu ujungnya akan bingung, karena tak bertemu secara langsung dengan gurunya. Meski kadang penjelasan materi yang dibantu dengan media tertentu mereka merasa kurang maksimal. Apalagi dengan lingkungan sekitar, kadang kurang juga mendukung, banyak gangguan dan susah konsentrasi. Sangat berbeda, dengan sekolah secara langsung. Di kelas yang penuh dengan konsentrasi dan jam pelajaran yang pasti dan didampingi guru.

Pertanyaannya, kira-kira kamu mempunyai jenis tatapan yang mana? 

Pertama atau kedua?

Yuk kita renungi bersama,

Perlu kita ingat, kita manusia biasa, bumi seperti ini, sudah kehendakNya. Pandemi seperti sekarang ini, kita hadapi bersama. Tinggal bagaimana kita menyikapi, membuat solusi terbaik agar kehidupan tetap berjalan.

Maka, sudah seharusnya kita belajar sadar, serta memahami dengan dalam, sekolah dengan tatap muka secara langsung atau tidak, tujuan dan nilai terdalamnya sama. Harus sama-sama disiplin mengikuti serangkaian pembelajaran dan sama-sama mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, sama harus tetap sopan santun, sama-sama harus bersosial dengan baik.

Yuk, terus berjalan tanpa mengeluh dan tanpa lelah, mengikuti kegiatan sekolah yang sementara masih belum tatap muka.

Yuk, terus belajar dengan sungguh-sungguh mengikuti pembelajarannya, ikuti penjelasannya dan kumpulkan tugasnya.

Yuk, bangun cita-cita dan semangat yang tinggi dan selalu berusaha mewujudkannya.

Dan Jangan Lupa Jaga Kesehatan.

Patuhi Protokol Kesehatan.

Salam Selamat Datang Di Tahun Ajaran Baru.

Semoga Bumi Segera Pulih.

Salam Semangat Mengukir Prestasi.

Sabtu, 10 Juli 2021

Siapa Kamu



Kerap Sekali Kau Menderu

Jika Dirimu Terbelenggu

Akan Kemunafikan Wajahmu

Semakin Lama Menggebu

Jauh Mengenal Parasmu


Kerap Sekali Kau Mengadu

Mengeluh Tiada Sumbu

Seolah Benar Sekali Keberadaanmu

Hebat Itulah Pujian Yang Ditunggu

Tak Becus Itulah Rekan Kerjamu


Kerap Sekali Pertanyaan Menggelayut

Sehingga Seenak Jidad Penatmu

Membuat Segala Pendapat Menyusut

Kehebatan Alibi Penolakan Alasanmu

Menjadi Sok Pintar Adalah Keahlianmu


Kamu Siapa

Hingga Kerap Membuat Kecewa

Sebenarnya Siapa Kamu

Tunjukkan Wajah Aslimu 

Banyak Yang Ingin Melihatmu Bersipu

Kehilangan



Tak Kuasa Menahan

Rasa Tertekan Akan Kehilangan

Sosok Peneduh Segala Keilmuan

Rasa Sedih Pilu

Menjelma Menjadi Satu

Kenapa Harus Hari Ini

Engkau Pergi 

Kami Masih Membutuhkan

Segala Petuah Panjenengan

Benar Benar Kehilangan

Semoga Panjenengan Tenang

DisisiNya Yang Penuh Taman Kerinduan

Surga Menanti Panjenagan

Kami Pun Menjadi Saksi

Panjengan Sosok Yang Baik

Dalam Segala Hal

Semesta Pun Menyaksikan

Semoga Hujan Ini

Menjadi Tanda Buih Buih

Penghormatan Pengabdian

Segala Amal Kebaikan

Sugeng Tindak Sang Guru

Mental Baja



Jika Punya Jiwa

Jangan Mudah Layu 

Jika Punya Mental

Jangan Seperti Tahu


Tidak Berani Sendiri

Selalu Minta Ditemani

Seperti Tidak Punya Nyali

Namun Suka Bersembunyi

Setelah Lempar Batu


Mental Baja Di Butuhkan

Mental Pemimpin Dikedepankan

Wibawa Dan Bijaksana 

Harus Di Pegang


Jangan Mobat Mabit

Bak Rumput Tertimpa Angin

Tak Punya Ketegasan

Tak Kuasa Memutuskan

Jumat, 09 Juli 2021

Matahari



Matahari
Menyinari Sejagat Raya
Menerangi Semua Alam
Tanpa Harus Mencari

Matahari
Di Ufuk Timur 
Kau Selalu Menyapa 
Dengan Ringan

Menghangatkan Segala Tubuh
Menyembuhkan Segala Sakit
Semua Tanpa Mengkridit

Matahari
Terimakasih Jangan Sampai
Kau Berhenti Menyinari
Demi Semua Makhluk Di Bumi

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...