Istilah
Literasi bagi saya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak menjadi
mahasiswa baru di Malang. Adanya peraturan baru dalam dunia Pendidikan yakni
Kurikulum 2013 Literasi mulai dicanangkan, dan diterapkan. Menurut saya istilah
literasi pasti akan lari kepada arah membaca dan menulis. Hal ini saya lakukan
ketika mendapat kesempatan menjadi salah satu tenaga pendidik di SD Plus
Al-Kautsar dan SD Negeri Ketawanggede Kota Malang empat tahun lalu.
Literasi
awalnya bagi saya hanya sebuah kegiatan dan rutinitas biasa untuk siswa,
sedangkan untuk para tenaga pendidik literasi hal yang tidak wajib dilakukan.
Namun ada hal menarik saya temukan yang membuat pikiran saya terbuka akan
konsep yang saya bangun diawal menurut saya kurang tepat atau bahkan salah.
Hal
itu terjadi ketika, Sabtu, 7 November 2020 saya diberi kesempatan untuk
mengikuti Seminar dengan PERGUNU (Persatuan Guru Nahdhatul Ulama’) Tulungagung
dengan tema Seminar Optimalisasi Literasi bersama Pakar Literasi yakni Dr.
Ngainun Na'im M.HI. Beliau adalah salah satu dosen IAIN Tulungagung. Dalam seminar
tersebut kami diajak untuk berfikir literasi itu tidak sulit, literasi itu
memang menulis dan membaca atau membaca dan menulis. Hal ini terbukti ketika
kita menulis, pasti kita membacanya atau sebaliknya.
Di
Seminar kali ini dengan peserta kurang lebih seratus peserta, kita bersama-sama
untuk belajar bagaimana kegiatan literasi dengan menulis. Menulis itu mudah
tidak perlu berfikir panjang, ya sudah lakukan saja kegiatan menulis itu dan
apa saja yang kamu tulis bebas. Kalau istilah orang Jawa “yo wes nuliso lan pokok e nulis, sembarang opo wae iso ditulis”.
Beliau menyampaikan teori salah satu ahli, menulis bisa diawali atau berangkat
dengan sebuah perasaan. Misalnya, seorang yang patah hati, dia secara tiba-tiba
mampu menulis dengan kalimat yang indah dan puitis. Maka, seharusnya sebagai
guru atau tenaga pendidik tentunya mempunyai peluang banyak untuk menulis. Tapi
apakah kita sudah melakukannya?
Ilmu
baru serta informasi penting di seminar ini, yakni ada beberapa langkah yang
harus ditananamkan ketika kita ingin menulis, yang pertama adalah semangat, tekatkan niat yang kuat, untuk selalu
menulis. Tetapi tidak cukup hanya dengan niat dan semangat saja. Tapi harus
dibuktikan dengan dilakukannya kegiatan menulis. Kedua tananamkan mindset, atau cara berfikir kita, bahwa menulis
itu mudah, tanpa berfikir terlalu dalam.
Ketiga,
budayakan banyak membaca, karena dengan membaca kita akan memperoleh wawasan
yang luas, selain itu kosa kata atau kalimat yang kita perolehpun akan semakin
banyak. Keempat, ketika menulis
usahakan lebih santai tapi serius artinya menulis jangan terlalu spaneng dan
jangan terlalu tegang maka ngemil dalam menulis itu diperlukan. Istirahat untuk
hanya sekedar jalan kaki atau minum kopi akan membuat kita lebih segar ketika
menulis dan ini menghindari kebuntuan dalam menuangkan kalimat.
Selanjutnya,
praktek menulis, musuh terbesar ketika menulis adalah diri sendiri, kadang
timbul kurang percaya diri akan tulisan kita, merasa tidak menarik di susunan
kata atau kalimatnnya. Banyak faktor yang membuat kita takut, tidak percaya
diri atau malas menulis. Menurut saya, perasaan seperti itu harus segera dihilangkan.
Karena prinsip pribadi saya, lebih baik menulis meski itu kurang bagus,
ketimbang tidak sama sekali. Jadi percaya diri saja, untuk proses menjadi
sebuah tulisan yang baik dan benar, itu seiring berjalannya waktu dan yang
penting menulis.
Lalu,
nikmati proses menulis itu, hingga menulis menjadi kebiasaan yang wajib dalam
diri kita. Beliau menyampaikan bahwa menulis itu bisa dilakukan dimana saja,
kapan saja, tergangung diri kita. Apakah mau menulis atau tidak. Tidak ada
suatu alasan untuk tidak menulis, karena sekarang diabad 21 yang penuh
kemajuan, segala teknologi bisa kita manfaatkan untuk media menulis, seperti di
Story WhatsApp, Facebook, Instgram, atau Colour Note. Media tersebut lebih
mudah kita dapatkan di Smartphone kita masing-masing. Ketimbang menulis secara
manual di kertas. Kemudian, apakah masih tidak terdorong menulis?
Langkah
ketujuh adalah disiplin. Dalam
menulis diperlukan kedisiplinan yang dalam bahasa Jawa “ajeg” atau istiqomah, semisal lima belas menit setelah sholat
subuh, luangkan untuk menulis. Hal ini juga pernah saya peroleh dari Dosen
sekaligus Guru Besar UIN Maliki Malang Prof Imam Suprayogo, beliau tidak
melewatkan diwaktu setelah berjamaah subuh untuk menulis artikel dan itu setiap
hari tanpa terlewatkan. Terakhir
adalah jangan mudah menyerah, dalam proses belajar menulis, namanya manusia
biasa. Ketika menulispun kesalahan pasti ditemukan, maka jangan menyerah, terbuka
akan masukan, saran bahkan kritikan yang membangun. Karena berangkat dari
berproseslah akan mewujudkan tulisan-tulisan yang baik.
Sebelum tulisan saya ini akhiri, saya menemukan kalimat di salah satu slide presentasi beliau Dr. Ngainun Na'im M.HI kurang lebih “Menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita”. Kalimat itu terlihat sepele, tapi bagi saya pribadi itu sangat menohok, karena dengan pengalaman yang ada beberapa kali dengan menulis di masa lalu ada sebuah kesempatan emas yang belum sempat saya dapatkan dan sampai detik ini tetap saya ingin perjuangkan semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Mimpi itu lama tenggelam, tiba-tiba muncul disaat mengikuti seminar ini. Saya yakin menulis akan selalu berbuah manis jika kita mempunyai komitmen yang kuat.

Mantab skali...lanjutkan
BalasHapusterimakasih bapak, semoga terus semangat belajar menulis
HapusAlhmdulillh...Pergunu mmbngkitkn inspirasi bagi para peserta. Sukses...mntab...lnjutkn
BalasHapussyukron katssiron bapak, mohon bimbingannya
Hapus