Minggu, 08 November 2020

IT’S SO HARD TO FORGET THE EXPERIENCE, Part 1

 


IT’S SO HARD TO FORGET THE EXPERIENCE

Lima tahun lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa S1, disela-sela menyusun tugas akhir atau Skripsi, Alhamdulillah saya diberi kesematan salah satu program dari Kemenag yaitu Student Mobility Program. Pada program tersebut kita harus menyusun paper, sejenis artikel berbahasa Inggris. Namun sebelum meng-upload paper tersebut tentunya ada pendaftaran online, upload sertifikat pendukung, nilai indeks prestasi atau sering kita sebut IPK pada semester yang sudah ditempuh.

Pada waktu itu saya meminta bimbingan dari Dosen di International Class Program di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beliau adalah Dr. H. Muhamad Yahya, Ph.D, Alhamdulillah beliau berkenan dan beliau juga menjadi pembimbing skripsi saya. Saya bersama tiga mahasiswa mewakili FITK di International Class Program, ada empat mahasiswa dari Fakultas Syariah.

Singkat cerita saya dan teman-teman mempersiapkannya paper, hanya sekitar satu minggu dari daftar online, karena tidak semua yang daftar online akan lolos ke babak selanjutnya jika artikel kurang bagus. Setiap hari harus dicek untuk perolehan point. Kemudian, pada pengumuman resmi dari webnya yang lolos dibabak selanjutnya dan salah satunya saya, dari sembilan mahasiswa hanya lima yang lolos.

Di babak selanjutnya, ada tes wawancara di Surabaya yang pada saat itu bertempat di UIN Sunan Ampel. Pada waktu tes inilah sebagai penentu kita akan dikirim ke Luar Negeri yaitu  Jepang atau Australia. Wah,,, mewah memang, namun saingannya tentu tidak ringan, perwakilan dari PTAIN se-Indonesia. Dan Alhamdulillah kampus kami paling banyak perwakilannya, sedang PTAIN lain maksimal hanya 2.

Bondo Nekat berangkatlah ke Surabaya bersama teman teman yang kebetulan salah satu dari mereka ada yang mempunyai mobil pribadi, tetapi nanti pada saat kembali ke Malang, kita harus naik Bus sebab dia menginap lagi di rmah Budhenya. Sehari sebelum karantina kita semua harus mencari penginapan. Disinilah ada kejadian membuatku trenyuh, semua temanku menyewa penginapan, tapi saya harus nebeng nginep di kos temen sewaktu dipondok, dia bernama Ulfa, mahasiswa UIN Sunan Ampel. Mengapa harus pisah dengan teman-teman rombongan, karna saya tidak punya uang lebih untuk menyewa penginapan, sedang teman lainnya juga mepet membawa uang sakunya. Aku pun sungkan untuk meminjam.

To be Continue....👉😉

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...