IT’S SO HARD TO FORGET THE EXPERIENCE
Lima
tahun lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa S1, disela-sela menyusun tugas
akhir atau Skripsi, Alhamdulillah saya diberi kesematan salah satu program dari
Kemenag yaitu Student Mobility Program. Pada program tersebut kita harus menyusun
paper, sejenis artikel berbahasa
Inggris. Namun sebelum meng-upload paper tersebut tentunya ada pendaftaran
online, upload sertifikat pendukung,
nilai indeks prestasi atau sering kita sebut IPK pada semester yang sudah
ditempuh.
Pada
waktu itu saya meminta bimbingan dari Dosen di International Class Program di
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beliau adalah
Dr. H. Muhamad Yahya, Ph.D, Alhamdulillah beliau berkenan dan beliau juga
menjadi pembimbing skripsi saya. Saya bersama tiga mahasiswa mewakili FITK di
International Class Program, ada empat mahasiswa dari Fakultas Syariah.
Singkat
cerita saya dan teman-teman mempersiapkannya paper, hanya sekitar satu minggu dari daftar online, karena tidak
semua yang daftar online akan lolos ke babak selanjutnya jika artikel kurang
bagus. Setiap hari harus dicek untuk perolehan point. Kemudian, pada pengumuman
resmi dari webnya yang lolos dibabak selanjutnya dan salah satunya saya, dari
sembilan mahasiswa hanya lima yang lolos.
Di
babak selanjutnya, ada tes wawancara di Surabaya yang pada saat itu bertempat
di UIN Sunan Ampel. Pada waktu tes inilah sebagai penentu kita akan dikirim ke
Luar Negeri yaitu Jepang atau Australia.
Wah,,, mewah memang, namun saingannya tentu tidak ringan, perwakilan dari PTAIN
se-Indonesia. Dan Alhamdulillah kampus kami paling banyak perwakilannya, sedang
PTAIN lain maksimal hanya 2.
Bondo Nekat berangkatlah ke Surabaya bersama teman teman yang kebetulan salah satu dari mereka ada yang mempunyai mobil pribadi, tetapi nanti pada saat kembali ke Malang, kita harus naik Bus sebab dia menginap lagi di rmah Budhenya. Sehari sebelum karantina kita semua harus mencari penginapan. Disinilah ada kejadian membuatku trenyuh, semua temanku menyewa penginapan, tapi saya harus nebeng nginep di kos temen sewaktu dipondok, dia bernama Ulfa, mahasiswa UIN Sunan Ampel. Mengapa harus pisah dengan teman-teman rombongan, karna saya tidak punya uang lebih untuk menyewa penginapan, sedang teman lainnya juga mepet membawa uang sakunya. Aku pun sungkan untuk meminjam.
To be Continue....👉😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar