Senin, 09 November 2020

IT’S SO HARD TO FORGET THE EXPERIENCE Part 2

 

Keesokan harinya, kita berangkat di tempat karantina, semua finalis dikumpulkan karena ada pengarahan dari panitia. Di tempat karantina itulah, tidak ada yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, melainkan menggunakan Arab atau bahasa Inggris. Yang terlintas di benakku, “kesempatan ini tidak akan datang kedua kalinya, meski bahasa Inggrisku blepotan, ya sudahlah gak ku fikirkan, yang penting jaga mental baja dan tetap Percaya Diri”.

Tibalah waktu wawancara atau interview bersama para juri. Ada lima juri dan beliau beliau  berasal dari PTAIN, satu persatu dari juri ada yang bertanya mengenai sertifikat, tujuan visi dan misi mengikuti Student Mobility Program, dan isi artikel atau paper kita. Dan pertanyaan yang diutarakan menggunakan bahasa inggris, maka menjawabpun harus berbahasa inggris. Jreng… jreng tibalah aku ditanya, What is your hobby, and why you like this, and get sertificat KMD? What is this?, Sambil salah satu juri membawa sertifikat KMD, sertifikat itu adalah sertifikat tentang Pramuka, Kemudian saya blank, entah apa yang terlintas sehingga saya lupa  bahasa inggris dari Pramuka, dengan PD nya saya sebut ditengah-tengah menjawab Bahasa Inggris sebutlah kata PRAMUKA menggunakan bahasa Indonesia. Dari lima juri tersebut awalnya yang tidak senyum, satu ruangan menjadi ramai karna tertawa. Ya Allah Malu dan campur ndredeklah diriku ini (sambil ikut tersenyum).  Nah, salah satu juri berkomentar ok, no problem.

Sesi wawancara itu selesai, semua finalis kembali ke karantina, dan saya hanya berdoa yang terbaik menurut Allah manut saja, yang penting ikhtiar usahane lanjut terus. Keesokon harinya, panitia mengumumkan bahwa hasil tes wawancara akan di upload di web resminya, sehingga finalis boleh kembali ke kampus masing-masing.

Akhirnya kita pun pulang menggunakan Bus. Di siang hari kita harus menuju halte bus disisi jalan, maka kita harus menyeberangi rel kereta api selatan UIN SUNAN Ampel. Surabaya udaranya sangat berbanding terbalik dengan Malang, yang biasanya merasakan dingin dan hujan, pada saat itu kota Surabaya terasa amat sangat panas. Sehingga Saya dan temen-teman dari Malang belum terbiasa alhasil terus rewel di sepanjang jalan menuju halte Bus, Di tambah jalan kaki, lagi-lagi uang kita cukup hanya buat naik Bus, Air mineral saja, ambil di karantina. sungguh mengesankan hehehe.

Alhamdulillah, kita sampai di Malang dengan selamat dan tinggal menunggu pengumuman resmi siapa yang akan berangkat di Jepang atau Australia. Kita semua berpeluang untuk berangkat apabila nilai dari wawancara tersebut tinggi. Tiga hari kemudian, kami dikumpulkan oleh pihak Fakultas, dan dikabarkan bahwa anak FITK belum ada yang berkesempatan berangkat, namun yang mewakili kampus kami satu anak dari Fakultas Syariah dan dia lolos untuk terbang ke Australia selama lima belas hari. Setelah saya cek di web resminya saya hanya selisih sepuluh point dengan yang lolos ke Australia di wawanncara, alhamdulillah nilai paper saya lebih tinggi.

Itulah cerita lima tahun lalu, ketika ada kesempatan maka gunakan yang semaksimal mungkin dan sebaik mungkin. Ketetapan Allah akan selalu indah dan terbaik mana kala kita berusaha atau ikhitiar semaksimal mungkin dan kata menyerah atau menyesal jauh dari pikiran, selalu berhusnudzon terhadapNya. Kesempatan Pasti Akan Datang di Waktu yang tepat dan lebih indah. Mungkin saya tidak lolos untuk ke Jepang atau Australia, Namun saya yakin seyakin-yakinnya bisa mendapat kesempatan lain, bisa saja ke Makkah, Madinah atu Eropa. Aminnn

Pengalaman diatas saya membuka pikiran saya, bahwa diawali dengan menulis artikel atau paper, sekarang saya juga berkesempatan ulang menggali dan menumbuhkan semangat saya lagi untuk menulis. Jadi memang benar menulis itu menyenangkan dan mudah JIKA KITA MAU! Semoga bisa terus istiqomah dalam , menurut saya apapun itu yang penting menulis.

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...