Kerajinan membuat kalo atau irek dari desaku Mirigambar, Tulungagung, Jawa Timur. Kerajinan ini bahan bakunya adalah pohon bambu. Di proses dengan sedemikian rupa dan dianyam. Umumnya yang menganyam adalah para ibu-ibu rumah tangga.
Kerajinan ini sudah turun temurun dari engkong, kaki, buyut, kakek, nenek hingga cucu sampai sekarang. Seakan di desa kami membuat kerajinan kalo dan irek atau tompo ini adalah satu hal yang harus perempuan bisa lakukan, selain keahlian lain misalnya di dapur.
Kerajinan kalo, irek atau tompo ini biasanya digunakan untuk wadah. Bisa wadah sayur, buah atau untuk memeras parutan kelapa.
Kerajinan ini cukup membantu perekonomian ibu-ibu. Umumnya mereka menjual dengan hitungan perkodi. Satu kodi bisa mencapai tiga ratus ribu sampai empat ratus ribu. Tergantung dengan ukuran, kehalusan anyaman dan tentu kerapian.
Mbak-mbak, ibu-ibu muda dan ibu-ibu paruh baya bahkan janda atau single parents di desa Mirigambar ini hampir semua bisa dan suka menyanyam. Membuat kalo, irek atau tompo. Butuh ketlatenan, konsentrasi dan konsisten dalam menyanyam. Terasa sulit jika kita belum terbiasa.
Saya sendiri dari SMP belajar sampai sekarang belum bisa. Namun, saya suka membawa hasil kerajinan ini, ke event seperti bazar. Pernah saya bawa dan promosikan di kampus Malang juga.
Saya bangga dengan ibu-ibu desa saya. Oleh karena itu, waktu saya nikah kerajinan ini, saya buat untuk sovenir.
Sejak pandemi ini ibu-ibu semakin rajin dan menghasilkan kerajinan dua kali lipat. Tetapi pemasarannya terbatas. Baru-baru ini ada saudara dari Kediri memesan sekitar lima kodi untuk tasyakuran. Allhamdulillah.
Uniknya, ibu-ibu suka juga berkumpul di rumah salah satu dari mereka yang sering buat pangkalan pengepul karo, irek dan tumpo. Kemudian sambil membawa camilan kecil dan disambi dengan momong putra putrinya.
Komunitas dalam membuat kerajinan kalo, irek atau tomp perlu sekali untuk dikembangkan dan dimaksimalkan. Agar bertambah berkembang luas dan arah pemasarannya semakin tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar