Setiap profesi, pasti mempunyai resiko masing-masing. Salah satunya profesi tersebut menjadi petani. Kalau petani, otomatis akan bekerja di sawah atau ladang. Dan mayoritas sawah, bisa kita temukan di desa desa.
Petani bekerja tidak seperti profesi pada umumnya, tanpa kantor, tanpa AC, tanpa komputer dan tak perlu memakai seragam resmi. Tidak ada ketentuan libur dalam seminggu. Jam yang digunakan pun sangat berbeda. Petani pada umumnya akan berangkat pagi-pagi sekali, kemudian pulang di jam dia inginkan, ambil sajalah, yang umum pukul 11.00 siang baru mereka pulang.
Para petani bekerja di sawah memang jauh dari kata bersih. Basah karena keringat atau hujan sudah jadi langganan. Semilir angin alami menjadi pengurang rasa terik panas matahari.
Namun, bagi mereka sangat menyenangkan. Hal ini bisa dirasakan, pada raut wajah sumringah mereka. Selain itu, mereka tidak sendiri, apapun musimnya pasti mereka bertemu dengan tetangga tanah sawah, samping kanan kiri, depan atau belakang.
Apalagi waktu sarapan tiba, di gubuk kecil sambil menikmati makanan rumahan, di wadah rantang menjadi kekhasan tersendiri. Tentunya, lebih nikmat dan lezat untuk disantap. Diiringi dengan obrolan-obrolan kecil dan candaan. Seperti sekarang ini, sawah di desa saya masih musim panen cabai. Jadi mustahil di pagi hari sawah sepi.
Perjuangan petani dalam memulai mengolah tanah, menanam, merawat, memupuk, mengairi dan memanen, saya rasa semua petani mempunyai cerita masing-masing. Dan antara petani satu ke petani yang lain bisa bertukar pengalaman. Pada umumnya mereka, tidak sekolah tinggi pertanian, tapi cara otodidak dalam praktek bertani serta pengalaman yang ada, terlahirlah sebuah hasil yang tak mengecewakan.
Mulai dari hasil panen cabai yang melimpah dengan harga murah, hasil cabai berkurang tapi harga mahal, sudah mereka rasakan. Musim cabai mulai dari harga 8.000 rupiah perkilogram hingga saat ini perkilonya mencapai Rp 35.000, 00 menjadi suka duka tersendiri. Bayangkan saja, jika mereka setiap hari memanen cabai, bertepatan dengan harga yang bagus.
Semisal satu hari mendapat 35 kilogram cabai kemudian harga perkilonya Rp 35.000, 00 berapa total hasil keringat mereka? Iya, sekitar 1.220.000 belum dikalikan seminggu jika tanpa libur. Benar-benar seimbang bukan dengan perjuangannya.
Maka, tidak ada alasan profesi apapun untuk tidak bersyukur atas rizki yang Allah berikan. Dan semua hambaNya sudah ditakdirkan memiliki rizki sesuai dengan jatahnya.
Keep Fighting....
I Love Farmers...

Tulisan yang gurih dan pedasss.... Mantab bu Fil..
BalasHapusTerimakasih pak...
Hapus