Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin terlihat fisik yang sempurna, tapi hati siapa yang tahu. Karena memang pemilik kesempurnaan hanyalah Allah SWT.
Namanya belajar pasti akan melakukan yang namanya sebuah proses. Di dalam proses tersebut akan menemukan trial and eror. Tidak melulu benar, kadang dibenturkan pada suatu yang salah dulu agar kita tahu mana yang lebih benar dan tepat.
Begitu pun seorang yang sudah menjadi guru, tentu akan terus belajar. Karena belajar itu tiada batas.
Sudah banyak dasar Al Quran dan Hadits yang menjelaskannya. Bahwa menuntut ilmu atau belajar sampai liang lahat. Artinya sudah sangat jelas, belajar tidak pandang usia, tidak pandang profesi apalagi status sosial.
Belajar menjadi guru, pasti berproses dengan waktu yang ada. Menjadi guru pun tidak semudah orang berdiri dihadapan orang banyak. Berdiri dihadapan siswa atau orang banyak harus banyak bekal ilmu butuh mental yang kuat dan sangat luar biasa.
Sekali lagi tidak mudah menjadi guru itu. Pasti sebagian dari kita teringat bagaimana belajar jadi guru di Praktek Kerja Lapangan (PKL) harus membawa sapu tangan atau tisu, banyak duduk dari pada berdiri hanya untuk menutup kegrogian atau kelemahan jadi guru pemula.
Lalu, ketika guru berhasil dihadapan siswanya menyampaikan segala materi keilmuan dengan lancar tanpa hambatan. Guru tersebut dapat dipastikan dia mempunyai guru diatasnya yang lebih hebat, yang lebih luas keilmuan dan kemuliaan akhlaknya, menyelipkan doa untuk muridnya dan yang lebih dahulu memberikan ilmunya kepada murid yang juga mengikuti menjadi guru.
Sekarang banyak generasi muda menjadi guru muda tentu lebih milenial. Dan tidak jarang guru muda tersebut satu instansi atau satu lembaga dengan gurunya sendiri. Lalu pertanyaannya? Apakah kita sudah memulyakan, menghormati dan menghargainya, atau mendoakannya ?
Saya teringat pesan guru saya, sekaligus posisinya sebagai orang tua dan tentu pernah menjadi wali murid. Beliau menurut saya sosok yang sangat bijaksana dalam melihat kondisi, situasi dan memahami karakter siswanya serta mendalami sekali peran dhohir batinnya menjadi guru serta panutan untuk murid-muridnya.
Beliau berpesan dalam suatu kesempatan "kalau memang kamu ingin jadi guru yang sesungguhnya, hormati, mulyakan terus guru-gurumu meski banyak kekurangan atau bahkan lebih pintar dari kamu dan terus selipkan doa kepadanya lalu kepada semua murid-muridmu minimal fatihah".
Beliau juga bercerita ketika posisi sebagai orang tua. Beliau memasrahkan secara penuh anaknya kepada gurunya. Karena beliau percaya dan sangat meyakini, bahwa ketika sebagai orang tua hatinya sudah ridha dan ikhlas memasrahkan/menitipkan anaknya kepada gurunya, maka akan mempermudah anaknya dalam mengikuti segala proses mencari ilmu dan kemanfaatan dan kebarokahan akan didapatkan.
Saya pun mengamati keluarga beliau ini, semua anak-anaknya sukses di bidang masing-masing menjadi orang-orang penting. Ada yang sebagai dosen, guru, pegawai bank, penghafal Al Quran dan pedagang besar oleh-oleh haji. Subhanallah
Saya menjadi banyak belajar dari beliau. Beliau dulu ketika semasa sekolah sangat disiplin, tegas dan kadang pun marah jika kita sebagai muridnya berlaku yang tidak baik atau tidak sesuai. Beliau pun juga manusia, tentu ada sisi kelemahannya. Tetapi, hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat kami pada beliau.
Saya meyakini bahwa seseorang sudah mendalami peran sebagai guru secara dhohir dan batinnya tentu guru tersebut tidak mungkin akan ada niat jelek atau menjerumuskan ke hal yang negatif untuk muridnya.
Maka guru juga manusia yang wajib kita mulyakan, hormati dan hargai karena guru adalah orang tua kedua. Jangan seenaknya terhadap guru. Tidak ada mantan murid atau mantan guru.
Selain itu guru adalah pahlawan yang rela berkorban untuk mendidik, mencerdaskan dan membimbing kita. Kebahagian tersendiri menjadi guru, jika murid-muridnya bisa sukses di bidangnya masing-masing.
Terimakasih Guru-guru
Terimakasih atas semua jasamu
Engkau tetap di hati
Teruslah berjuang
Jangan lelah
Karena Demi Anak Bangsa

Keren
BalasHapusTerimakasih pak 🙏🏻
Hapus