Dari delapan orang tersebut mempunyai karakter yang berbeda. Diperjalanan berangkat memang sangat asyik dan tak ada dari kami yang tertidur semu ngobrol ngalor dan ngidul. Bu shofi yang notabennya ketua organisasi pelajar NU, tentu jiwanya lebih pemberani dan banyak bahan untuk diceritakan. Bu Arina yang selalu santai semua dibawa happy berfoto-foto dan suka mengedit.
Bu Choir yang kalau lapar membuat orang disekitarnya tidak nyaman, karena mengeluh dan kali pertama naik kereta api. Lalu Bu Diah yang lemah lembut, agak penakut dan jarang keluar rumah. Ada Bu Roi yang kalem dan sering jadi bahan ledekan. Sedang saya yang tak berhenti makan disepanjang perjalanan. Membekal tahu goreng bulat membuat suasana makin renyah.
Kami berangkat dari stasiun Sumbergempol pukul 14.17 WIB, lalu harusnya turun di stasiun Semut. Akan tetapi tujuan pertama dekat dengan stasiun Gubeng, akhirnya turun di stasiun tersebut tepat pukul 18.35 WIB. Selanjutnya sholat dan persiapan ke tujuan pertama yaitu Tunjangan Plaza 1.
Mulai terdapat drama, karena harus pesan mobil sewa menggunakan aplikasi yang menyebabkan saya dan suami pisah rombongan. Singkat cerita sampai ke TP 1, keliling cari minum dan tak terasa kita keliling sampai TP 3. Bu Choir mulai merengek kelaparan, akhirnya cari makan di foodcourt TP 3. Semua makan di meja masing-masing, karen dibatas satu meja berdua itu pun menggunakan pembatas.
Lalu sudah cukup kita tolak ke tujuan utama yakni Makam Sunan Ampel. Masih menggunakan aplikasi penyewaan mobil, namun kali ini saya bersama dengan suami. Akhirnya sampai tetapi kondisi makam full sangat. Ramai pol, akhirnya kita memutuskan untuk cari teh panas. Karen Bu Diah mengeluh seperti masuk angin. Jalan kaki dong dekat parkiran bus atau terminal. Di sana kami ngeteh, sampai pukul 23.00 WIB. Dirasa Bu Diah sehat, kita memutuskan tidur di mushola dekat makam, yang biasa digunakan orang-orang peziaroh putri untuk istirahat.
Rombongan tepar semua kecuali saya dan Bu Arin yang tidak bisa tidur. Karena di sana banyak nyamuk dan lumayan ramai terus. Melihat kondisi pandemi seperti sekarang ini, makan wali sunan ampel tetap ramai. Seperti tidak ada perbedaan. Lalu saya dan Bu Arin terjaga sampai tahajud dan subuh dini hari. Kita bergiliran mandi karena kondisi full dan ramai. Maka harus segera antri. Lalu kita berjamaah di masjid besar. Dan berziaroh di makam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar