Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 1

 


Catatan kecil perjuangan seorang wanita ibu rumah tangga yang merangkap menjadi seorang guru. Sudah menjadi pilihan dan keputusan jika peran ganda telah dipilihnya dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Namun, seiring berjalannya waktu, jalan mulus tidak terus ditemuinya. Banyak kerikil-kerikil kecil yang menyertai dalam peranannya.

Dini hari yang sunyi menunjukkan pukul tiga pagi, membangunkan sosok perempuan tangguh ini. Dia biasa disapa dengan sebutan Bu Zaitun. Menyegerakan untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Bermunajat di sunyinya malam membuatnya menjadi semakin kuat. Lirih, lembut suara memohon doa yang dipanjatkannya “Ya Allah berikan aku kekuatan, kesehatan agar semua berjalan beriringan dan membawa keberkahan”. Tetes air mata tangguhnya tak pernah terlihat oleh manusia. Karena ia sadar bahwa yang berhak tahu atas segala yang terjadi padanya hanyalah TuhanNya.

Ketika seisi rumah masih terlelap dengan mimpinya, ia harus menuju dapur, untuk mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya. Memasak nasi, membuatkan lauk pauk dan minuman hangat untuk suami dan anak. Meski itu tugas wajib seorang ibu rumah tangga, ia meyakini bahwa pengabdian kepada suami dan keluarga tidak akan pernah terlewatkan. Namun sekali lagi itu tidak mudah.

Ketika fajar tiba, dengan penuh kasih sayang ia membangunkan semua anggota keluarganya untuk bergegas sholat berjamah di masjid terdekatnya.

“Ayo nak, segera bangun, kita kejar pahala dari Allah”

“Ayo mas, bangun, bersama-sama kita memberi contoh ke anak-anak agar tidak malas ke masjid ketika subuh”.

Dua kalimat inilah yang sering diucapkannya ketika membangunkan keluarganya. Meski sudah berumah tangga lama, Bu Zaitun ketika membangunkan suami tetap menggunakan kata “Mas” sebutan mesranya. Namun, sangat berbeda di depan anaknya ia sering menyapa dengan sebutan “Ayah”.

Setelah selesai berjamaah, Bu Zaitun masih sibuk dengan bersih-bersih rumah seperti mencuci baju, menjemur, menyapu dan beberapa kegiatan lain dibantu oleh suami dan anaknya. Ayah memberi makan hewan-hewan ternaknya, sedangkan putranya menyiapkan sepedanya untuk bersekolah dan sepeda ibunya untuk bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...