Catatan
kecil perjuangan seorang wanita ibu rumah tangga yang merangkap menjadi seorang
guru. Sudah menjadi pilihan dan keputusan jika peran ganda telah dipilihnya
dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Namun, seiring berjalannya waktu,
jalan mulus tidak terus ditemuinya. Banyak kerikil-kerikil kecil yang menyertai
dalam peranannya.
Dini
hari yang sunyi menunjukkan pukul tiga pagi, membangunkan sosok perempuan
tangguh ini. Dia biasa disapa dengan sebutan Bu Zaitun. Menyegerakan untuk ke
kamar mandi dan mengambil air wudhu. Bermunajat di sunyinya malam membuatnya
menjadi semakin kuat. Lirih, lembut suara memohon doa yang dipanjatkannya “Ya
Allah berikan aku kekuatan, kesehatan agar semua berjalan beriringan dan
membawa keberkahan”. Tetes air mata tangguhnya tak pernah terlihat oleh
manusia. Karena ia sadar bahwa yang berhak tahu atas segala yang terjadi
padanya hanyalah TuhanNya.
Ketika
seisi rumah masih terlelap dengan mimpinya, ia harus menuju dapur, untuk
mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya. Memasak nasi, membuatkan lauk pauk
dan minuman hangat untuk suami dan anak. Meski itu tugas wajib seorang ibu
rumah tangga, ia meyakini bahwa pengabdian kepada suami dan keluarga tidak akan
pernah terlewatkan. Namun sekali lagi itu tidak mudah.
Ketika
fajar tiba, dengan penuh kasih sayang ia membangunkan semua anggota keluarganya
untuk bergegas sholat berjamah di masjid terdekatnya.
“Ayo
nak, segera bangun, kita kejar pahala dari Allah”
“Ayo
mas, bangun, bersama-sama kita memberi contoh ke anak-anak agar tidak malas ke
masjid ketika subuh”.
Dua
kalimat inilah yang sering diucapkannya ketika membangunkan keluarganya. Meski
sudah berumah tangga lama, Bu Zaitun ketika membangunkan suami tetap
menggunakan kata “Mas” sebutan mesranya. Namun, sangat berbeda di depan anaknya
ia sering menyapa dengan sebutan “Ayah”.
Setelah
selesai berjamaah, Bu Zaitun masih sibuk dengan bersih-bersih rumah seperti
mencuci baju, menjemur, menyapu dan beberapa kegiatan lain dibantu oleh suami
dan anaknya. Ayah memberi makan hewan-hewan ternaknya, sedangkan putranya
menyiapkan sepedanya untuk bersekolah dan sepeda ibunya untuk bekerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar