Keluarga
Bu Zaitun yang sederhana ini memiliki kehangatan, kedekatan, kekompakan, kasih
sayang dan perhatian terhadap satu sama lainnya. Sehingga pekerjaan rumah cepat
selesai, karena keluarga Bu Zaitun juga sangat menerapkan kedisiplinan yang
tinggi.
Ketika
pukul enam lebih lima belas menit pagi, semua anggota keluarga harus dipastikan
sudah sarapan meski dengan lauk yang sederhana seperti tahu atau tempe, sambel
urap dengan teh hangat. Lalu semua menuju tempat kerja dan kegiatan
masing-masing. Putranya bersekolah dan Ayah menuju sawah. Bu Zaitun menuju
tempat kerja menggunakan sepeda pancal setianya yang sudah menemaninya hampir
sepuluh tahun. Ia mengayuh dari rumah sampai menuju tempat kerjanya, salah satu
sekolah swasta yang berada tepat disebelah desanya.
Sering
tetangga-tetangga menyapa “Bu Zai,,,,berangkat? Hati-hati ya bu”
Dengan
ramahnya ia menjawab “Terimakasih, sambil olahraga ini, Bismillah semangat”
Yang
menarik dan menjadi ciri khas Bu Zaitun adalah botol air minumnya yang tidak
akan pernah terlupakan. Ia dengan semangat mengayuh sepedahnya untuk bertemu
semua anak didiknya. Bu Zaitun yang mempunyai hobi menulis, selain seorang ibu
rumah tangga yang dengan seambrek kegiatan ia juga mengabdi sebagai guru kelas
V di salah satu sekolah swasta. Sama halnya seperti di rumah, ia sangat menerapkan
kedisiplinan yang tinggi kepada anak didiknya. Dan ia berusaha memberikan
contoh kecil kepada anak didiknya, seperti dia tidak pernah terlambat ke
sekolah.
Di
sekolah ini Bu Zaitun merupakan guru yang terkenal dengan ketegasannya dan
kedisiplinanya. Selain penyayang, dia juga tidak segan menegur dan menasehati
anak didiknya yang masih kurang benar dalam berperilaku. Namun tidak jarang ada
salah satu dari rekan kerjanya yang merendahkannya hanya karena sepeda
pancalnya.
“Bu Haduh,,,,ini
siapa masih pagi bau kecut?” kata Bu Kia kepada Bu Melisa
Beberapa
guru yang di kantor terdiam. Memang dari seluruh guru yang menggunakan sepeda
pancal hanya Bu Zaitun, yang terlihat berkeringat otomatis Bu Zaitun. Tapi
dengan kelembutan hatinya Bu Zaitun menjawab “Mungkin saya Bu Kia, maaf ya?”
Bu Kia
masih menjawab dengan sewotnya “Makannya guru itu harus rapi, harus wangi, beli
dong sepeda motor atau pakai mobil, jangan pakai sepedah pancal”
Bu Zaitun
terdiam, namun ada Bu Melisa yang berkata “Eh Bu, tolong dijaga perkataanya,
jangan berkata kasar, roda kehidupan berputar lo”
Bu Melisa
mencoba menenangkan Bu Zaitun yang tertunduk terlihat malu. Lalu Bu Zaitun
meninggalkan kantor menuju kelasnya. Bu Melisa mencoba mengejarnya dan berkata
kepada Bu Zaitun “Bu, jangan difikirakan, Allah Maha Tahu, terus semangat dan jangan
lelah untuk mengabdi”
“Baik
bu, tidak apa-apa memang saya punyanya masih sepeda pancal Alhamdulillah tidak
jalan kaki” kata Bu Zaitun sambil tertawa kecil.
Namanya
manusia biasa, pasti hatinya Bu Zaitun saat itu terluka. Tapi dia adalah wanita
tangguh yang tidak bisa meneteskan air mata di hadapan manusia. Tapi di dalam
hatinya terbesit doa “Ya Allah Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi
saya dan Engkau Maha Kaya dan menjamin Rizki semua hambaMu” sambil menghela
nafas yang panjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar