Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 2

 


Keluarga Bu Zaitun yang sederhana ini memiliki kehangatan, kedekatan, kekompakan, kasih sayang dan perhatian terhadap satu sama lainnya. Sehingga pekerjaan rumah cepat selesai, karena keluarga Bu Zaitun juga sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi.

Ketika pukul enam lebih lima belas menit pagi, semua anggota keluarga harus dipastikan sudah sarapan meski dengan lauk yang sederhana seperti tahu atau tempe, sambel urap dengan teh hangat. Lalu semua menuju tempat kerja dan kegiatan masing-masing. Putranya bersekolah dan Ayah menuju sawah. Bu Zaitun menuju tempat kerja menggunakan sepeda pancal setianya yang sudah menemaninya hampir sepuluh tahun. Ia mengayuh dari rumah sampai menuju tempat kerjanya, salah satu sekolah swasta yang berada tepat disebelah desanya.

Sering tetangga-tetangga menyapa “Bu Zai,,,,berangkat? Hati-hati ya bu”

Dengan ramahnya ia menjawab “Terimakasih, sambil olahraga ini, Bismillah semangat”

Yang menarik dan menjadi ciri khas Bu Zaitun adalah botol air minumnya yang tidak akan pernah terlupakan. Ia dengan semangat mengayuh sepedahnya untuk bertemu semua anak didiknya. Bu Zaitun yang mempunyai hobi menulis, selain seorang ibu rumah tangga yang dengan seambrek kegiatan ia juga mengabdi sebagai guru kelas V di salah satu sekolah swasta. Sama halnya seperti di rumah, ia sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi kepada anak didiknya. Dan ia berusaha memberikan contoh kecil kepada anak didiknya, seperti dia tidak pernah terlambat ke sekolah.

Di sekolah ini Bu Zaitun merupakan guru yang terkenal dengan ketegasannya dan kedisiplinanya. Selain penyayang, dia juga tidak segan menegur dan menasehati anak didiknya yang masih kurang benar dalam berperilaku. Namun tidak jarang ada salah satu dari rekan kerjanya yang merendahkannya hanya karena sepeda pancalnya.

“Bu Haduh,,,,ini siapa masih pagi bau kecut?” kata Bu Kia kepada Bu Melisa

Beberapa guru yang di kantor terdiam. Memang dari seluruh guru yang menggunakan sepeda pancal hanya Bu Zaitun, yang terlihat berkeringat otomatis Bu Zaitun. Tapi dengan kelembutan hatinya Bu Zaitun menjawab “Mungkin saya Bu Kia, maaf ya?”

Bu Kia masih menjawab dengan sewotnya “Makannya guru itu harus rapi, harus wangi, beli dong sepeda motor atau pakai mobil, jangan pakai sepedah pancal”

Bu Zaitun terdiam, namun ada Bu Melisa yang berkata “Eh Bu, tolong dijaga perkataanya, jangan berkata kasar, roda kehidupan berputar lo”

Bu Melisa mencoba menenangkan Bu Zaitun yang tertunduk terlihat malu. Lalu Bu Zaitun meninggalkan kantor menuju kelasnya. Bu Melisa mencoba mengejarnya dan berkata kepada Bu Zaitun “Bu, jangan difikirakan, Allah Maha Tahu, terus semangat dan jangan lelah untuk mengabdi”

“Baik bu, tidak apa-apa memang saya punyanya masih sepeda pancal Alhamdulillah tidak jalan kaki” kata Bu Zaitun sambil tertawa kecil.

Namanya manusia biasa, pasti hatinya Bu Zaitun saat itu terluka. Tapi dia adalah wanita tangguh yang tidak bisa meneteskan air mata di hadapan manusia. Tapi di dalam hatinya terbesit doa “Ya Allah Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi saya dan Engkau Maha Kaya dan menjamin Rizki semua hambaMu” sambil menghela nafas yang panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...