Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 4

 


Empat minggu berjalan, tiba-tiba Bu Zaitun ke sekolah dengan membawa mobil yang masih bernomor polisi berwarna putih dan merah. Artinya itu mobil baru, dan siapa sangka Bu Zaitun bisa menyopirnya sendiri. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Bu Zaitun, sudah lama bisa menggunakan mobil bahkan mempunyai SIM.

Ketika membawa mobil di dalamnya ada beberapa judul buku yang merupakan hasil karya buku solo dari Bu Zaitun yang akan diberikan sebagai hadiah kepada semua rekannya.

Mungkin beberapa rekan yang lain tidak kaget, namun yang sangat terlihat kikuk dan salah tingkah adalah Bu Kia. Bu Melisa dengan kekhasannya mengatakan “Bu Zai, besok saya nebeng ya, kalau berangkat sekolah, itung-itung naik mobil baru”

“Boleh Bu Melisa, tapi jangan lupa membawa jeruk hehe” kata Bu Zaitun yang bercanda dengan Bu Melisa yang dirumahnya juragan jeruk.

Dengan mata sewot dan judesnya bu kia berkata “Itu mobil pinjaman ya Bu Zaitun? Sehari berapa sewanya?”

“Maaf bu, tidak saya sewakan” kata Bu Zaitun dengan santai

Tiba-tiba ada seorang bapak guru memanggil, beliau bernama Pak Subhan “Bu zai, ini bukunya dibawa kemana? Kok banyak sekali?”

“Minta tolong ya Pak Subhan, diangkat dan diletakkan di ruang guru saja, nanti saya bagi kepada bapak ibu guru yang lain” kata Bu Zaitun.

“Oke” kata pak subhan

Ketika sampai di kantor, semua kardus dibuka dan setiap rekan kerja Bu Zaitun mendapatkan dua sampai tiga judul buku karya Bu Zaitun. Ada yang sangat senang dan mendukung, namun kenapa harus ada lagi yang menyepelekan karyanya.

Pak Layu berkata “Sudahlah, kalau buku seperti ini malas untuk membacanya, dari pada buku mending dikasih uang saja”

Pak Subhan “Wah tinggal terima saja kok repot, kalau tidak mau, jatahnya Pak Layu buat saya saja”

Bu Melisa “Ini karya Pak, wajib kita apresiasi, lah Bu Kia tanpa karya saja anda apresiasi lho Pak, masa yang seperti ini anda malah tidak bisa mengapresiasi, kalau tidak bisa mengapresiasi cukup dengan diam pak”

Pak Layu “Ok, saya juga bisa membuat karya begini saja”

Bu Zaitun “boleh Pak, dengan senang hati kalau karya saya bisa memotivasi Bapak untuk ikut membuat karya yang lebih bagus dari pada punya saya, saya tunggu karya bapak dengan sangat senang”

Bu Kia “Yakin Pak? Menurut saya, Pak Layu kok belum mampu ya?”

“Jangan dipatahkan Bu, semangatnya Pak Layu” kata Bu Zaitun

“Karena dia hanya suka berkelana lewat mimpi tanpa realita lo Bu” kata Bu Kia

Semua guru tertawa dengan suara keras terutama Pak Subhan.

Banyak hikmah dari cerita singkat Bu Zaitun. Seiring berjalannya waktu, di ruang guru yang biasanya ada sekat antara satu dengan yang lain, suasana menjadi sangat produktif. Semua berlomba-loma dalam kebaikan salah satunya menghasilkan karya. Bu Melisa yang selalu berusaha mengembangkan kemampuan menggambar dan melukisnya, selalu mengupdate berita perlombaan untuk siswanya. Lalu Bu Kia yang awalnya sangat sentimen kepada Bu Zaitun, dia berubah menjadi ramah meski Bu Zai masih sering menggunakan sepeda pancalnya. Pak Layu yang selalu aktif bertanya dengan dunia tulisan mencoba membuat karya-karya pantun lucunya. Sedangkan Pak Subhan yang terus mengembangkan senam-senam kreatifnya.

Kita mungkin sering sekali menilai orang hanya pada yang terlihat saja. Hal demikian menurut saya sangat tidak baik. Karena belum tentu yang kita nilai itu selalu baik apalagi yang tak terlihat oleh mata kita. Kemudian peran ganda sebagai ibu dan guru sangat tidak mudah. Sehingga pandangnlah semua guru itu mulia, tanpa harus memandang materi yang dia punya. Lalu jika tidak bisa berkata baik, cukup menahan dengan diam.

Ada dasar paling penting dalam kitab suci Al Quran Surah An Nisa Ayat 32 bahwa:

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...