Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 3

 


Ketika di kelas Bu Zaitun mengajar dengan professional dan tepat waktu. Pada waktu itu materi yang disampaikan adalah tentang puisi. Sehingga Bu Zaitun yang hobi menulis mengajak anak didiknya untuk berkarya dengan membuat puisi. Setelah satu minggu dan terkumpul semuanya, Bu Zaitun mencoba untuk mengetiknya dan mengantarkan ke sebuah festival literasi menulis tingkat nasional. Awalnya tidak tidak ada yang mengetahui hal demikian. Banyak dari sekolahnya yang mencibir dan tidak mendukungnya sehingga biaya yang dipakai mengikuti festival itu adalah uang pribadi Bu Zaitun.

Namun siapa sangka dalam festival itu ada sebuah semacam penghargaan atas karya terbaik yang telah dikumpulkan. Dan keajaiban Allah telah nyata Bu Zaitun berhasil mendapatkan penghargaan terbaik pertama dan diberikan fasilitas untuk mendapatkan sejumlah uang tunai dan menerbitkan buku.

Bu Melisa mengetahui hal tersebut, namun Bu Zaitun berkata untuk tidak membocorkan kepada siapapun terutama pihak sekolah dan Bu Kia sekalipun. Karena Bu Zaitun takut akan mendapat cemooh untuk kedua kalinya. Karena Bu Kia ini sangat pintar untuk meracuni dengan gosip yang ia sebar dan disalurkan kepada teman-teman yang lain termasuk pimpinan sekolah.

Namun siapa sangka Bu Melisa memberikan kabar bahagia itu kepada guru lain, kecuali Bu Kia dan pimpinan. Dengan sangat cepat, semua guru memberikan ucapan selamat dan rasa bangga melalui pesan singkat di handphone.

Satu bulan berlalu, tiba-tiba ada distributor buku menyalurkan buku hasil karya Bu Zaitun dengan siswa kelas V. Lalu Bu Zaitun membagikan dengan semua murid kelas V dengan gratis, dan semua guru termasuk Bu Kia.

“Anak-anak inilah hasil karya kalian, yang bisa membuat bangga semua orang tua dan guru. Bu guru mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya, sehingga tak menyangka kita mempunyai buku karya kelas V ini. Bu Guru sangat bangga pada kalian” kata Bu Zaitun ketika di kelas sinambi membagikan buku karya puisi bersama kelas V.

Ada salah satu muridnya Gibran berkata “Ayo, kita tepuk tangan” (semua bertepuk tangan bahagia, dan diambil foto bersama oleh Bu Zaitun)

Tiba-tiba Sania mengangkat tangan dan berkata “Bu zaitun, apakah buku ini boleh di bawa pulang?”

“Tentu saja Sania, buku ini milik kalian, tanpa Bu Zaitun minta ganti uang” jawab Bu Zaitun dengan ramah”

Gibran dan Didik berkata dengan keras lagi “mari teman-teman, kita ucapkan bersama-sama, Terimakasih Bu Guru”

Bu Zaitun berkata “sama-sama semoga barokah dan manfaat”

Serentak siswanya menjawab “Amin…..”

Namun siapa sangka kejutan terjadi lagi ketika waktu istirahat tiba. Dan semua guru berkumpul di ruang guru.

“Oalah buku kayak gini aja bangga, kan ini bukan karyanya sendiri, tapi anak-anak” kata Bu Kia yang sedang terlihat ngobrol dengan beberapa guru lain dan ada juga pimpinan sekolah.

Bu Melisa mendengarnya langsung berkata “Yang penting ada bukti karya berupa buku, dari pada hanya ngobrol hal yang tidak penting” (sambil berlalu dan bergabung di obrolan bersama Bu Zaitun)

Bu Zaitun hanya terdiam dan mencoba tidak mendengarkan karena masih banyak guru yang sangat mengapresiasinya dan ingin mengikut jejaknya. Sambil bercerita dan bertukar informasi serta cara-caranya.

Waktu terus berjalan, kehidupan seseorang tiada yang tahu. Bu Zaitun masih dengan sosok pribadinya, yang dikenal dengan guru sepeda pancalnya. Bu Zaitun masih terus berjuang seperti hari biasa, sedehana, bijaksana dan penuh prestasi.

Sejak saat itu Bu Zaitun terus menggerakkan siswanya untuk berkarya baik dalam tulisan atau gambar serta di bidang lain. Meskipun belum menyeluruh satu sekolah, setidaknya kelas yang Bu Zaitun pegang selalu selangkah lebih maju terbukti dari karya-karya anak kelasnya yang selalu ditempel di dinding kelas hingga terkesan berantakan, tapi sebetulnya itu merupakan hasil karya siswanya.

Lalu di kelasnya selalu ada pojok baca, dan siswanya ketika waktu istirahat di usahakan untuk membacanya. Bu Zaitun meyakini dengan menulis dan membaca akan membuka jendela dunia dan prestasi yang tidak disangka-sangka.

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru merupakan pekerjaan yang tidak sederhana. Ladang rizki akan bertebaran dimana-mana. Yang paling utama ditanamkan adalah niat dalam setiap langkahnya karena Allah. Dan hal demikian akan menghantarkan kepada kebermanfaatan. Kalau di sekolah Bu Zaitun sangat menjiwai sebagai guru, ketika di rumah beliau meninggalkan status menjadi bu guru. Iya, selayaknya ibu rumah tangga yang biasa, dan tidak sungkan pergi ke sawah, membantu suami di kandang ternaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...