Ketika
di kelas Bu Zaitun mengajar dengan professional dan tepat waktu. Pada waktu itu
materi yang disampaikan adalah tentang puisi. Sehingga Bu Zaitun yang hobi
menulis mengajak anak didiknya untuk berkarya dengan membuat puisi. Setelah
satu minggu dan terkumpul semuanya, Bu Zaitun mencoba untuk mengetiknya dan
mengantarkan ke sebuah festival literasi menulis tingkat nasional. Awalnya
tidak tidak ada yang mengetahui hal demikian. Banyak dari sekolahnya yang
mencibir dan tidak mendukungnya sehingga biaya yang dipakai mengikuti festival
itu adalah uang pribadi Bu Zaitun.
Namun
siapa sangka dalam festival itu ada sebuah semacam penghargaan atas karya
terbaik yang telah dikumpulkan. Dan keajaiban Allah telah nyata Bu Zaitun
berhasil mendapatkan penghargaan terbaik pertama dan diberikan fasilitas untuk
mendapatkan sejumlah uang tunai dan menerbitkan buku.
Bu Melisa
mengetahui hal tersebut, namun Bu Zaitun berkata untuk tidak membocorkan kepada
siapapun terutama pihak sekolah dan Bu Kia sekalipun. Karena Bu Zaitun takut
akan mendapat cemooh untuk kedua kalinya. Karena Bu Kia ini sangat pintar untuk
meracuni dengan gosip yang ia sebar dan disalurkan kepada teman-teman yang lain
termasuk pimpinan sekolah.
Namun
siapa sangka Bu Melisa memberikan kabar bahagia itu kepada guru lain, kecuali Bu
Kia dan pimpinan. Dengan sangat cepat, semua guru memberikan ucapan selamat dan
rasa bangga melalui pesan singkat di handphone.
Satu
bulan berlalu, tiba-tiba ada distributor buku menyalurkan buku hasil karya Bu
Zaitun dengan siswa kelas V. Lalu Bu Zaitun membagikan dengan semua murid kelas
V dengan gratis, dan semua guru termasuk Bu Kia.
“Anak-anak
inilah hasil karya kalian, yang bisa membuat bangga semua orang tua dan guru. Bu
guru mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya, sehingga tak menyangka
kita mempunyai buku karya kelas V ini. Bu Guru sangat bangga pada kalian” kata
Bu Zaitun ketika di kelas sinambi membagikan buku karya puisi bersama kelas V.
Ada
salah satu muridnya Gibran berkata “Ayo, kita tepuk tangan” (semua bertepuk
tangan bahagia, dan diambil foto bersama oleh Bu Zaitun)
Tiba-tiba
Sania mengangkat tangan dan berkata “Bu zaitun, apakah buku ini boleh di bawa
pulang?”
“Tentu
saja Sania, buku ini milik kalian, tanpa Bu Zaitun minta ganti uang” jawab Bu
Zaitun dengan ramah”
Gibran
dan Didik berkata dengan keras lagi “mari teman-teman, kita ucapkan
bersama-sama, Terimakasih Bu Guru”
Bu Zaitun
berkata “sama-sama semoga barokah dan manfaat”
Serentak
siswanya menjawab “Amin…..”
Namun
siapa sangka kejutan terjadi lagi ketika waktu istirahat tiba. Dan semua guru
berkumpul di ruang guru.
“Oalah
buku kayak gini aja bangga, kan ini bukan karyanya sendiri, tapi anak-anak”
kata Bu Kia yang sedang terlihat ngobrol dengan beberapa guru lain dan ada juga
pimpinan sekolah.
Bu
Melisa mendengarnya langsung berkata “Yang penting ada bukti karya berupa buku,
dari pada hanya ngobrol hal yang tidak penting” (sambil berlalu dan bergabung
di obrolan bersama Bu Zaitun)
Bu Zaitun
hanya terdiam dan mencoba tidak mendengarkan karena masih banyak guru yang
sangat mengapresiasinya dan ingin mengikut jejaknya. Sambil bercerita dan
bertukar informasi serta cara-caranya.
Waktu
terus berjalan, kehidupan seseorang tiada yang tahu. Bu Zaitun masih dengan
sosok pribadinya, yang dikenal dengan guru sepeda pancalnya. Bu Zaitun masih terus
berjuang seperti hari biasa, sedehana, bijaksana dan penuh prestasi.
Sejak
saat itu Bu Zaitun terus menggerakkan siswanya untuk berkarya baik dalam
tulisan atau gambar serta di bidang lain. Meskipun belum menyeluruh satu
sekolah, setidaknya kelas yang Bu Zaitun pegang selalu selangkah lebih maju
terbukti dari karya-karya anak kelasnya yang selalu ditempel di dinding kelas hingga
terkesan berantakan, tapi sebetulnya itu merupakan hasil karya siswanya.
Lalu
di kelasnya selalu ada pojok baca, dan siswanya ketika waktu istirahat di usahakan
untuk membacanya. Bu Zaitun meyakini dengan menulis dan membaca akan membuka
jendela dunia dan prestasi yang tidak disangka-sangka.
Menjadi
ibu rumah tangga sekaligus guru merupakan pekerjaan yang tidak sederhana.
Ladang rizki akan bertebaran dimana-mana. Yang paling utama ditanamkan adalah
niat dalam setiap langkahnya karena Allah. Dan hal demikian akan menghantarkan
kepada kebermanfaatan. Kalau di sekolah Bu Zaitun sangat menjiwai sebagai guru,
ketika di rumah beliau meninggalkan status menjadi bu guru. Iya, selayaknya ibu
rumah tangga yang biasa, dan tidak sungkan pergi ke sawah, membantu suami di
kandang ternaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar