Pertemuan di pelatihan ini adalah pertemuan untuk dua materi sekaligus penutupan. Di materi awal di sampaikan ada pengertian literasi, kemudian pola berfikir yang harus dimiliki oleh guru dan bagaimana menciptakan lingkungan literat. Semua materi yang disampaikan sangat jelas, mudah di fahami.
Peserta pelatihan tidak hanya menyimak atau mendengarkannya. Tetapi ada tugas yang harus dikerjakan baik secara kelompok dan individu. Sebelum diskusi, ada pemaparan tugas yang kedua, tetapi dari semua peserta di tugas dua ini, mayoritas belum melaksanakan, karena suatu hal. Alhamdulillah dari perwakilan guru perempuan saya sudah menerapkan di kelas, saya laporkan apa adanya dengan dua permainan yakni kotak ajaib dan pola huruf. Lalu ada salah satu Bapak Guru beliau malah lebih kreatif dengan berinovasi permainan menemukan harta karun dengan menyebar. Sehingga siswanya semua aktif dan kelas menjadi hidup.
Di tugas pertama, dipaparkan bahwa literasi itu meliputi banyak hal diantaranya membaca, menulis, menyimak, mengolah informasi, memahami informasi dan berbicara. Ketika nara sumber bertanya? Siapakah diantara Bapak/Ibu guru yang suka membaca, saya mengangkat tangan, dan ternyata saya sendiri dari semua peserta. Karena sendiri, beliau akhirnya memberikan tugas pertama yakni topik membaca.
Diberikan pertanyaan yakni menurut Bapak/Ibu membaca itu bagaimana. Dan ternyata jawabannya memang beragam, ada yang malas, lekas membaca mengantuk, dan rata-rata menyadari membaca itu penting namun, untuk mengawali dengan niat benar dan melaksanakan itu susahnya bukan main. Itu kendala tentang membaca.
Lalu di tugas kedua, ada pemaparan bahwa pola pikir kita itu harus berkembang dan kalau bisa jangan sebaliknya, apa lagi kita sebagai guru pendidik. Bagaimana pola berfikir yang berkembang, kategorinya pun beragam, namun dituangkan dalam sebuah kalimat, lalu kita gunting dan kita tempel pada kolom pola berpikir berkembang. Saya akan memaparkannya pola pikir berkembang, diantaranya:
1. Belajar dari siapapun
2. Sering sharing atau berbagi keilmuan
3. Jangan malu bertanya
4. Teruslah menggali keilmuannya
5. Jangan cepat puas terhadap sesuatu
Sedangkan pola berfikir tidak berkembang, diantaranya:
1. Mudah menyerah
2. Merasa paling tahu dan bisa
3. Tidak mau menerima kritik dan saran
4. Belum berusaha, sudah menyerah
5. Gengsi mengakui kelemahan
Di materi kedua ini, sebagai pendidik harus kita sadari bersama penting sekali membangun pola pikir yang baik dan berkembang. Jika guru itu mempunyai pola pikir berkembang, tentu siswanya pun juga akan ikut berkembang, sekalipun sedikit.
Sebaliknya, jika guru mempunyai pola berpikir belum berkembang bahkan tidak berkembang, misalnya membuat media itu suatu beban, mengajar tanpa ada niat yang betul atau kesungguhan, tidak disiplin, tampil apa adanya, ujung-ujungnya mengarang nilai. Itu suatu hal yang kurang baik dan patut kita hindari.
Komitmen, kemampuan pedagogik, kemampuan kepribadian, kemampuan profesional dan sosial benar-benar harus dimiliki seorang guru atau pendidik. Lalu kita pegang teguh dan dilaksanakan.
Bagaimana menciptakan lingkungan yang literat, terutama bagi siswa.
Cek di coretan selanjutnya 😊
Salam Literasi
Jaya
Jaya
Jaya
Hebat dan perlu dilanjutkan Bu....
BalasHapusTerimakasih pak...
BalasHapus