Senin, 08 November 2021

The Crucial Of Self Editing



Belajar lagi, saya masih penulis yang masih belum masuk level. Artinya saya masih pemula, yang masih terus banyak belajar. Seperti kesempatan kali ini.

Salah satu komunitas menulis, mengadakan sebuah pertemuan virtual dengan guru kami yang tak lain adalah Dr. Ngainun Naim, M.Hi. Dipandu oleh moderator Ibu Ekka Zahra, M.Pd dari Blitar, teman dari suami saya sewaktu kuliah. Beliau sudah tak asing lagi dalam dunia tulis menulis dan literasi. Pelopor nulis yang selalu mengesankan bagi siapapun yang mau belajar menulis.

Kali ini membahas self editing, kalau melihat secara langsung artinya adalah mengedit diri sendiri. Nah, apa yang di edit? tentu tulisan. Maka dari itu setidaknya ada toga tahap dalam menulis yakni pre writing, writing dan editing. 

Tiga tahap itu harus benar-benar diperhatikan. Dan ideal seorang penulis itu tidak sama, maka jangan samakan penulis pemula dengan penulis ilmiah. Semuanya mempunyai pakem masing-masing.

Lalu apa yang perlu diedit ketika kita menulis terutama sebagai pemula seperti saya ini? Yakni sebelum di publish sebaiknya dibaca minimal dua kali. Namun, kata beliau sebagai penulis awal, biasanya jika selesai menulis, langsung atau buru-buru ingin di publish. Padahal, jika tulisan diendapkan dulu satu dua hari baru dibaca dalam rangka editing, itu akan lebih baik. Karena biasanya penulis itu, jika buru-buru di publish rasa emosinya masih tertuang secara nyata.

Editor pun juga ada batasannya jika menghadapi penulis pemula, jangan dihabiskan dalam mengedit sampai hilang model dan gaya penulisnya. Jika ini dilakukan akan memberikan dampak besar bagi penulis pemula. Bisa jadi kapok tak mau menulis.

Lalu yang terpenting adalah jangan pernah plagiasi, karena plagiasi seperti bunuh diri. Maka editing disini sangatlah penting. Dan sekarang pun banyak aplikasi-aplikasi yang memeriksa plagiasi.

Di zaman yang sebar era digital, dalam menulis pun juga harus dibarengi kehati-hatian. Exactly, begitulah pentingnya mengapa harus kita baca, kita fahami betul tiga tahap menulis, dan tips utamanya mengedit sebuah tulisan akan lebih lega jika di Laptop. Namun, menulis di gawai, akan cukup membantu karena ide itu datang sewaktu-waktu.

Itulah beberapa poin dikesempatan belajar virtual kemarin sore dibarengi dengan hujan dan signal yang lumayan lancar. 

3 komentar:

  1. Mbk fil dalam sesi niku ....salah satu yg nyantol di ingatan...kegiatan menulis katika mmg tdk ada kerjaan, aktivitas..akirnya menulis jd alternatif kegiatan yg dilakukan seseorang...slm literasi

    BalasHapus
  2. Gmn kalu aktifitss nulis itu dilakukan karena seseorang itu lagi ga ada yg dikerjaan ..dan akirnya menulis menjadi salah satu aktivitas yg dilakukan seseorang.....seperti yg dibdawuhne P.Naim kemarin...

    BalasHapus

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...