Jumat, 03 Desember 2021

Berkata "iya"



Rasanya berkata "iya" itu sangatlah enteng. Seperti tanpa beban, jika memang kita mampu melaksanakan dan sanggup. Lalu berkata "iya" saja tanpa berfikir panjang.

Masalahnya adalah, ketika kita sering berkata "iya" terhadap sesuatu yang tanpa melihat latar belakang, sebab musababnya kadang malah menjerumuskan kepada hal tak diinginkan. Misalnya, karena sering berkata "iya" maka lawan bicara kita akan menganggap bahwa segala tumpuan tugas akan dilaksanakan oleh kita.

Padahal "iya" bisa jadi rasa terpaksa, karena ulah kita sendiri yakni dengan seringnya atau akumulasi dari kita sendiri, sering berkata "iya". Akhirnya jatuhnya akan terlihat sebagai orang yang dianggap selalu bisa. 

Orang Jawa sering mengatakan "entengan" mempunyai arti ringan, tapi bukan gampangan. Sehingga, jika bertemu orang "entengan" sering berkata "iya" terhadap segala sesuatu tugas, janganlah kita "memanfaatkan" sering menambah bahkan "dibrukne" segalanya dibebankan kepada dia, yang bukan seharusnya tugasnya. 

Sebagai contoh jika sering berkata "iya", orang akan menilai setuju terhadap tugas yang telah berikan, lebih kepada sungkan untuk menolaknya. Rasa sungkan itu tempatkan pada porsinya, kalau setidaknya bukan tugas kita, kita belum mampu mengerjakan, kita harus berani menolaknya dengan baik. Atau berkata kalau sekedar membantu saya bisa, tapi jika semuanya mohon maaf belum bisa. Kalau tidak seperti itu, semakin lama tak terasa anda akan capek, lelah menghadapi orang yang bisanya hanya menyuruh. Dan tiba-tiba hilang rasa (illfeel).

Maka sebelum berkata "iya" hati-hati, perhatikan dengan betul isi yang dibicarakan, dengarkan dengan saksama segala lawan arah komunikasinya. Jika toh menolak, maka harus dengan tutur kata yang sangat baik.

Jangan semua dipukul rata, setelah membaca tulisan ini. Artinya sudah berbeda konteks lagi jika berkata "iya" kepada orang tua, guru atau orang yang kita anggap mulya dan panutan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...