Sebagai laki-laki yang sudah siap menikah, itu artinya segala tanggung jawabnya sudah diketahui. Selain mengetahui, artinya sudah siap untuk menerima segala resiko yang dihadapi. Apakah laki-laki atau suami itu tugasnya hanya mencari nafkah?
Iya, itu wajibnya nafkah dhohir dan batin. Namun, tidak cukup sampai disitu saja. Pada rumah tangga suami dan istri harus saling bersama-sama menyadari untuk saling membantu. Misalnya, jika istri sudah mencuci baju dan disambi memasak, mengurus anak, hendaknya segera sadar bahwa cucian baju belum dijemur. Sehingga hal-hal kecil demikian membantu menjemur saja sudah begitu mengurangi kerepotan istri.
Kadang laki-laki itu kepekaannya terhadap hal kecil kurang, maka perlu dengan sangat untuk diingatkan. Kalau hanya menunggu peka, kadang-kadang sebagai perempuan akan merasa kelamaan dan tidak sabar. Sehingga cenderung akan membuat kesel atau jengkel. Maka, sebagai perempuan kita harus sering mengingatkan. Ingat mengingatkan berbeda dengan cerewet.
Ada 6C yang harus dihindari oleh laki-laki terutama sudah beristri. 6C ini sebenarnya sudah sering kita ketahui. Dan tidak menutup kemungkinan ada disekitar kita atau bahkan kita mengalaminya. Jika demikian, mari kita belajar bersama untuk menghindarinya.
Apa saja 6C yang hendaknya dihindari oleh laki-laki atau suami, diantaranya:
1. Cethil = pelit terhadap kepentingan rumah tangga. Untuk kepentingan dirinya sendiri fine. Tetapi, untuk keperluan istri dan anak cenderung perhitungan dan pelit.
2.Cemburuan= kadang dalam rumah tangga cemburu perlu katanya sebagai bumbu sehingga ada porsinya. Tapi jangan cemburuan sebab jika cemburuan, akan cenderung kepada curiga. Yang akhirnya merugikan kedua belak pihak
3. Cerewet= suka mengorek segala hal yang tidak penting. Di poin ketiga ini, laki-laki yang suka bergosip yang tidak penting.
4. Clutak = mengambil sesuatu yang bukan haknya dan tanpa izin. Atau tangannya suka berjalan kepo terhadap sesuatu milik orang lain.
5. Cupar = suka mengurusi keperluan dapur, sekecil apapun. Misalkan istri belanja bahan-bahan dapur, dia ikut nimbrung dan membacakan, ini tidak perlu, itu tidak perlu, ini kebanyakan, itu kebanyakan, ini pemborosan, bawang merah itu belinya sedikit saja satu ons, bawang putih satu bungkul, cabai satu ons dan seterusnya.
Menurut saya, sebenarnya hal demikian bisa menjatuhkan derajat seorang laki-laki itu sendiri, mengapa? Urusan dapur dan memasak itu yang tahu istri, sehingga bumbu-bumbu yang tahu perkiraan penggunaanya juga istri. Jika terlalu sering dibacakan, menurut saya tidak etis dan akan bahaya. Perlu diingat bahaya membuat istri tidak nyaman.
6. Centil= genit, kepada perempuan yang bukan mahramnya. Ini sangat bahaya sekali maka yang perlu hati-hati bukan saja istri namun juga para suami. Mengingat maraknya "pelakor" di luar sana. Naudzubillah !
Istilah 6C ini memang tersaji dalam Bahasa Jawa. Dan ini saya dapatkan ketika ngaji yang masih sama dengan beliau, Bapak K. Musatamam. Sebenarnya dari beliau ada 5C, namun saya menambakan di poin ke enam.
Semoga menjadi pengingat kita semua. Tidak ada manusia sempurna. Maka dalam mahligai rumah tangga jangan gengsi, terbukalah, komunikasikan, diskusikan dengan baik serta terbuka tentang segala hal, bahkan urusan apapun. Semoga kita semua menjadi keluarga yang selalu dalam lindungan Allah. Sehingga Sakinah Mawaddah Warohmah Wabarokah. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar