Sabtu, 15 Januari 2022

Demam Layangan Putus



Setiap malam minggu semua menanti series film layangan putus. Seakan histori WA milik teman, semua tentang layangan putus. Salah satunya histori teman berkata "layangan putus seperti barongan 👹👺".

Saya pribadi tak mengikuti secara runtut. Saya hanya menonton part satu secara full. Setelahnya, sampai series ke sembilan saya tak mengikuti.

Review atau cerita ulasan teman, yang cukup saya simak ketika mereka bercerita. Bagaimana luapan emosinya terhadap tokoh Mas Aris, dan Lidya. Bagaimana menggambarkan emosi Kinan yang sangat elegan, menurut mereka.

Emosi tokoh Kinan yang elegan dengan tutur kata yang sangat padat, jelas, tapi cukup nylekit atau menyakitkan. Penonton seakan  hanyut dalam cerita. Bahkan, ada sebagian di media sosial, karena ibu-ibu, atau mama-mama, istri menjadi posesif terhadap suaminya karena film ini. 

Ada yang sedikit-sedikit lihat gawai milik suami. Ada yang ingin mencabik-cabik tokoh Mas Aris dan Lidya seakan mereka memposisikan diri sebagai tokoh Kinan.

Film series ini seharusnya memberikan hikmah, pembelajaran dan manfaat bagi penontonnya. Tidak hanya sekedar menguras emosi. Bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang keren, ibu yang berkarier, cerdas dhohir batin, pinter masak, pinter segalanya, multitalent, tapi juga handal menjadi detektif.

Detektif dalam hal seperti keuangan, keluarga dalam hal mendidik anak, teliti, setiti terhadap segal hal. Film series ini katanya diangkat dari kisah nyata. Terlepas dari itu semua, sekali lagi itu hanya akting untuk bermain peran. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...