Banyaknya mata pelajaran yang berada di Madrasah Ibtidaiyah, kadang kita lupa tujuan terdalam dari masing-masing pelajaran. Hanya mengejar selesai di mata pelajaran tertentu, melupakan yang lebih utama karena dianggap sebagai mulok atau pilihan. Kadang sama sekali tidak diajarkan, dengan dalih tidak cukup waktunya. Diajarkan ketika menjelang ujian saja.
Seperti Bahasa Jawa, Bahasa Inggris dan Aswaja. Padahal kita tahu semua pelajaran itu penting dan saling berhubungan. Salah satunya Aswaja akan berhubungan dengan sejarah Islam. Dan kita tahu Aswaja adalah salah satu mata pelajaran yang berada di lembaga pendidikan naungan Nahdlatul Ulama. Mata pelajaran ini mulai dikenalkan di kelas IV di Madrasah Ibtidaiyah. Aswaja memiliki peran penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia dan para generasi penerus bangsa.
Dimata pelajaran inilah siswa bisa mengenal sejarah berdirinya Nahdatul Ulama, tokoh, serta peran organisasinya. Berkembangnya zaman pada generasi muda kadang kurang menyadari akan pentingnya hal demikian. Meskipun dalam satu minggu hanya dua jam pelajaran, setidaknya harus memberikan bekas yang nyata bagi mereka.
Hal ini diperlukan pemahaman dan kesadaran akan gurunya untuk mengajarkan, menyampaikan materinya. Minimal mereka mengenal apa itu Nahdatul Ulama. Paham Ahlusunnah Wal Jamaah yang kemudian amaliah yang mereka kerjakan, mengandung paham tersebut. Sudah sejak dulu diajarkan tentang akidah, ibadah, muamalah dan akhlak oleh para ulama bermadzhab.
Kita tahu Nahdlatul Ulama(NU) adalah organisasi penting keagamaan yang anggotanya terbesar di Indonesia. Para pendirinya pun adalah tokoh besar yang kita tahu ada lima belas tokoh dan yang paling kita kenal dan sering kita dengar yakni K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (Tebuireng, Jombang). Perjalanannya dari zaman ke zaman pun kita harus mengikuti.
Meneladani perjuangan beliau K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari, K.H Abdul Wahab Hasbullah, K.H Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang) K.H Makhsum (Lasem) dan yang lainnya baik dalam peran nasionalnya, peran agamanya dan sebagai guru serta karyanya di kalangan pesantren.
Semua itu berawal dari diri sendiri, harus kembali banyak membaca, meningkatkan terus kualitas. Jangan menyepelekan, menggampangkan, menganaktirikan mata pelajaran. Semua harus disampaikan secara seimbang apapun mata pelajarannya baik umum atau agama. Sehingga, semua tepat pada sasarannya.
Hal ini juga sebagai sarana dakwah kita sebagai pendidik, pengajar, untuk mengurangi pengaruh globalisasi dengan adanya budaya asing yang masuk ke negeri Indonesia. Sebagai contoh peserta didik lebih kenal dan tahu tentang BTS dari pada tokoh yang membesarkan nama Nahdlatul Ulama. Sering berkunjung ke maqbarohnya untuk berziarah tapi tak faham, sebab hanya sekedar ikut-ikutan saja. Maka, sudah menjadi keharusan sebagai pendidik kita lebih faham dahulu seluk beluk Nahdlatul Ulama untuk disampaikan kepada mereka dengan baik dan benar.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi pengingat kita dalam dunia belajar mengajar di lembaga tempat mengabdi. Semangat berjuang, dengan terus belajar dan berproses menjadi yang lebih baik. Salam Literasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar