Rabu, 19 Januari 2022

Prof. Dr. Ngainun Naim Pelopor Literasi

 


Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I, nama beliau tadinya asing bagi saya. Mungkin karena saya juga bukan alumni IAIN Tulungagung. Sempat minder ketika dalam kesempatan workshop literasi bersama beliau, tak begitu tahu, bahkan belum kenal dengan beliau sedangkan sebagian besar peserta mengenalnya, karena alumni kampus IAIN Tulungagung yang sekarang menjadi UIN SATU.

Dulu ketika masih  di bangku kuliah tepatnya di UIN Maliki Malang ketika S1 di pertemuan awal, ada sesi perkenalan, kalau di tanya asal daerah selalu bangga menyebutkan Tulungagung. Beberapa dosen menanyakan, kecamatan apa, desa apa, kenal Pak Ngainun Naim? Jawabku, belum, bahkan tidak tahu, walau kita tetangga desa. Mengapa demikian? Faktanya pada waktu itu, saya memang belum tahu.

Dosen saya bercerita, bukunya sudah banyak, silahkan kalau mau baca karya beliau. Seusai jam kuliyah berakhir, saya penasaran, sehingga saya tanya salah satu judul buku beliau, yang cocok buat bahan makalah dan memastikan apakah betul beliau asli orang Tulungagung. Dan masih saya ingat betul judul bukunya "Rekontruksi Pendidikan Nasional". Setelah itu saya tidak terlalu mengikuti karya beliau selanjutnya.

Skenario Allah sangat indah, disisi lain saya memang bukan mahasiswa beliau tapi ada kesempatan untuk bertemu melalui workshop tentang literasi. Dan ketika itu saya sudah boyong dari Malang, menetap serta bekerja di Tulungagung. Baru sadar, ketika workshop itulah, oh inikah namanya Bapak Ngainun Naim. Dan melalui workshop literasi tersebut, saya mencoba, memberanikan diri untuk menulis dan menulis. Mulai mengikuti menulis bersama atau antologi yang beliau infokan, sekaligus ada yang langsung beliau koordinir. Lalu mengikuti lomba menulis, dan beliau juga salah satu jurinya. Dan tak menyangka saya mendapatkan juara pertama. Dan pengalaman barupun saya peroleh dan tentu membuat hati senang.

Lebih mengejutkan lagi bagi saya, ternyata beliau adalah putra pertama dari guru sekaligus kepala sekolah saya di waktu saya masih Madrasah Ibtidaiyah yakni beliau Bapak Surjadi. Flasback cerita Bapak Surjadi dulu, beliau sering memberikan nasihat kepada kita, untuk rajin membaca dan menulis. Dan beliau bercerita bahwa anaknya menjadi guru dari murid-murid yang sudah dewasa (mahasiswa). Setiap lebaran pun, kami bersilaturrohim ke rumah Bapak Surjadi, ada foto keluarga, sambil bercengkrama beliau membacakan enam putra-putrinya yang nama depannya semua Ngainun. 

Bapak Ngainun Naim, beliau adalah pelopor literasi. Dengan segudang karya melalui buku-bukunya. Beliau selalu menyerukan "pokok e nulis". Dan dalam seminar pertama kali itulah, saya menggaris bawahi dawuh beliau bahwa "menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita" dan betul semua saya rasakan. Ini merupakan awal bagi saya juga untuk mewujudkan, melanjutkan cita-cita dan harapan untuk lebih baik.

Beliau juga adalah sosok yang sangat welcome kepada siapapun yang mau belajar menulis. Dan jarang saya menemukan sosok seperti beliau yang selalu memberikan semangat, dorongan kepada penulis pemula seperti saya. Bahkan, beliau sering memberikan apresiasi positif di grup-grup menulis. Beliau sangat membantu kami, mengantarkan tulisan-tulisan menjadi sebuah buku. Dan ini benar, saya alami. Buku solo saya pertama juga atas bimbingan, bantuan beliau. 

Workshop literasi perdana bersama beliau, pada waktu itu saya sangat menikmati. Sebab beliau membawakan workshop dengan santai, serius dan iringan jokes atau candaan  "guyon" yang tak membuat kita bosan dan mengantuk untuk mendengarkan materinya. Kalau dari fisik, pasti tidak menyangka kalau beliau suka guyon. Bahkan postingan-postingan di storynya selalu membuat pembacanya ikut tertawa. 

Bapak Ngainun Naim sebagai pakar literasi dan sekaligus inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Melalui FB, WA, Instagram, blog pribadinya https://www.spirit-literasi.id/, channel youtubenya beliau selalu istiqomah menyerukan literasi membaca dan menulis. Saya masih ingat betul, buku perdana antologi tentang “Sejuta Cerita Tentang Ibu” tulisanku pun tidak karuan, terlihat sekali jika penulis pemula, namun kata beliau “santai wae, nulis saja”. Di grup kami beliau juga memberikan tantangan dan semangat jika mampu istiqomah menulis dalam waktu ditentukan beliau akan memberikan hadiah berupa buku. Alhamdulillah saya mendapatkan dua buku, salah satunya karya putra beliau. Beliau juga menuliskannya di atas tanda tangan beliau bahwa “Hal sederhana akan bermakna ketika ditulis”.

Itulah Bapak Ngainun Naim yang kiprahnya dalam dunia literasi tidak diragukan lagi dan tak pernah surut. Selalu istiqomah menyerukan literasi menulis. Dan seebagian besar dari kami, sudah lama memanggil beliau dengna sebutan “prof” dan jauh sebelum surat keputusan turun. Inilah bukti, bahwa beliau bergerak di dunia literasi benar-benar nyata dengan segudang karya tulisannya dan buku-buku beliau.

Saya menyambut dengan sangat gembira ada undangan dan kesempatan menulis buku antologi tentang kiprah intelektual Bapak Ngainun Naim. Sebab beliau sangat berperan bagi saya dalam menumbuhkan kembali mimpi dan cita-cita saya dalam bidang menulis yang awalnya di Malang dan kini lebih berkembang di kota kelahiranku. Saya bisa tetap melanjutkannya bahkan lebih baik. Tentu saya turut senang mendengar kabar surat keputusan bahwa beliau menjadi professor. Saya pun berdoa semoga saya bisa mengikuti jejak beliau. Semoga gelar profesor ini membawakan keberkahan bagi Bapak Ngainun Naim.

8 komentar:

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...