Hari ini mendapatkan sebuah nasihat. Nasihat itu seperti halnya segelas air yang diminum ketika kita haus. Artinya, sebagai penerima nasihat, kita harus mengosongkan botol yang kita punya. Sehingga nasihat itu benar-benar akan membekas.
Nasihat apa yang saya dapat hari ini. Tadi malam banyak dhawuh Abah dan Umi saya sendiri, berkaitan dengan kehidupan. Nasihat beliau sampaikan tidak dengan sebuah penekanan, sambil santai menonton TV dan ngobrol itu cara yang menurut saya sangat pas. Sebab nasihat itu sendiri jika disampaikan dengan suatu kondisi atau situasi yang menegangkan, maka hati kadang-kadang sulit menerima.
Inti dari nasihatnya sama dengan yang disampaikan oleh pimpinan rapat hari ini. Yakni tentang "Rezeki". Kita tahu rezeki itu sudah bagian takdir pada setiap manusia.
Rezeki juga memiliki takaran tersendiri bagi setiap makhluk ciptaanNya. Kadang manusia terlalu menghawatirkan takaran rezekinya. Padahal kalau sudah bagian takdir, pasti akan kita dapatkan.
Rezeki itu datangnya pun macam-macam. Ada yang secara langsung kita dapatkan. Ada juga yang harus kita usahakan. Jadi, tidak ada kata malas atau tiduran saja akan datang uang seperti sulapan.
Namun, juga tidak boleh terlalu menghawatirkan bahkan ragu akan rezeki yang datang. Ketika kerja mati-matian namun tak ada hasil nyata, bahkan ada kata meremehkan terhadap sesuatu, ini jangan sampai dibuat sepele. Hendaknya dihindari. Maka kita sangat perlu untuk melakukan koreksi, introspeksi dan muhasabah. Bahasa Jawanya "graitho awak e".
Banyak yang bisa kita jadikan pelajaran disekitar kita. Misalnya ada dua guru ngaji, yang satu tidak terlalu menghawatirkan rezeki, beliau bekerja dengan istiqomah sebagai pedangan klontongan. Tak pernah absen ketika jam mengajar mengaji, karena menyadari bahwa ngaji itu berharga. Beliau sangat disiplin, tepat waktu dan istiqomah. Tetapi, satunya, sukanya terlambat, jatahnya dua jam, dia sengaja berangkat tiga puluh menit sebelum berakhir dengan alasan gajinya lebih menjanjikan dari usaha ternak ayamnya. Tidak memungkiri, kalau dilihat secara materinya akan tentu berbeda.
Segala hal tidak bisa diukur dengan angka. Rezeki juga tak melulu angka dan uang. Sehat, bahagia, tenang, keluarga yang aman, tentram ,juga bagian rezeki. Intinya, rezeki itu sudah ada yang menjamin. Kita juga memerlukan usaha dan ikhtiar untuk mendapatkannya. Jangan meragukan kuasa Allah. Yang paling utama, jangan meremehkan orang lain, apapun profesinya. Dan ingat, mungkin hitungan Allah akan berbeda dengan manusia. Sehingga tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar