Setiap orang bisa menulis, tinggal mereka mau atau tidak. Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis pasti akan lebih membekas karena ada yang membacanya. Menulis perlu adanya proses yakni dengan selalu menulis dan bersifat longterm. Namun, jika hanya berbicara akan berlalu begitu saja. Dan berbicara lebih mudah, lebih cepat berlangsung saat itu juga.
Perjalanan menulis, saya ibaratkan seperti berjalan. Berjalan pun variatif, ada yang berjalan dengan kaki, dengan kendaraan dengan kecepatan lambat, sedang bahkan kencang, lalu jalannya pun tidak melulu lurus, kadang berkelok kelok, naik turun lalu bergelombang. Begitu juga dengan mimpi, cita-cita, kemauan, dan keinginan setiap orang pasti berbeda dan bervariatif.
Menulis kali ini menjadi salah satu kesenangan kebahagiaan yang saya miliki dan sedang saya nikmati sebagai proses belajar. Mungkin, hanya menulis, tetapi saya memaknai banyak sekali pelajaran, pengalaman dan manfaatnya di dalamnya. Saya juga berpikir bahwa dengan menulis pasti akan melahirkan sebuah karya.
Tapi bukan semata saya mendewakan diri saya sendiri. Karena siapa saya, saya bukan siapa-siapa. Hanya saja, saya ingin mewujudkan salah satu mimpi dan cita saya. Dan saya ingin mengajak teman-teman dekat saya untuk menularkan hal positif ini yakni dunia literasi dengan menulis.
Ternyata, responnya cukup baik, meski ada yang menganggap hal biasa. Ada Bu Shely, berkata ingin sekali membuat novel. Tapi, ada juga yang bilang "sakjane aku yo iso koyok ngono ae, penak, nanging aku gak iso runtut nulisku", "ngunu ae bangga, mek buku ae". Kalimat demikian, tidak sama sekali saya pikirkan, sudah hal biasa dalam hidup ada suka ada tidak. Dan kita tak bisa untuk memaksakan orang. Tapi saya juga manusia biasa. Tolok ukur bahagia, kesenangan orang masing-masing. Sekali lagi menulis itu proses, runtut dan tidak sambil berjalan yang penting tetap dilakukan yaitu dengan praktek menulis.
Jadi teringat kutipan dari Jerome sebagai berikut:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar