Berpikir kritis adalah cara berpikir manusia untuk merespon seseorang dengan menganalisis fakta untuk membentuk penilaian. Biasanya berpikir kritis akan mengarah kepada analisis dan evaluasi. Berfikir kritis (critical thinking), hal ini yang dinilai masih kurang oleh khalayak umum diantara kita. Lalu dikalangan pelajar atau mahasiswa, jika critical thinking tidak dilatih dan dibiasakan, kita akan terus berada di zona nyaman. Orang yang berada di zona nyaman, akan cenderung tidak mau berubah.
Berpikir kritis bukan berarti suka mencari kesalahan orang lain atau mencemooh orang lain yang dianggap tidak sama. Apalagi hanya bermodal hanya omongan belaka tanpa fakta. Artinya berpikir kritis tetap memiliki ilmu, aturan, norma dan akhlak dalam menyampaikan. Sekali lagi bukan semata hanya untuk mengkritik orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.
Seperti yang disampaikan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag pada saat mengisi acara seminar di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Ngunut, betapa pentingnya berpikir kritis. Apalagi dengan adanya perubahan industri teknologi yang kita tidak ada pilihan lain, selain mengikutinya. Pada zaman inilah, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun dengan profesi apapun yang mereka inginkan. Santri bisa menjadi dokter, santri bisa menjadi politikus pejabat dan lainnya. Semua itu membutuhkan yang namanya berpikir kritis dan paling utama dibarengi dengan akhlaqulkarimah.
Percuma jika dia pintar dalam segala keilmuan tetapi masih suka menyalahkan bahkan sering tersinggung, ketika ada yang berbeda pendapat dengan dirinya. Kemudian kita sebagai warga negara Indonesia, harus bisa menempatkan berpikir kritis terhadap suatu hal. Minimal mengingat apa ranah dan tujuan dari berpikir kritis yang kita laksanakan. Sebenarnya, berpikir kritis kemampuan bagaimana kita menemukan sebuah perubahan yang lebih baik dalam mencapai kemaslahatan.
Anehnya sebagian besar dari kita, antara salah atau benar selalu kita kritiki dengan sudut pandang sendiri-sendiri. Kemudian kita populerkan, melalui sosial media. Hal demikian, benar-benar bukan contoh critical thinking yang tidak baik dan tidak diharapkan. Sekali lagi, berpikir kritis boleh, bisa jadi juga dianjurkan namun harus memperhatikan konteksnya. Seperti, mahasiswa pasti ada hidden kurikulum dalam satu mata kuliah, untuk menganalisis sehingga sangat diperlukan berpikir kritis.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar