Berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai permintaan, sebagai pelayan masyarakat harus siap. Siap memahami, mengerti dan berusaha memberikan yang terbaik meskipun jauh dari kata sempurna. Hal demikian bukanlah mudah, tetapi harus banyak belajar dan menyiapkan segala mental.
Pelayan masyarakat banyak kok contohnya, yang paling kecil lingkupnya adalah ketua jamaah majlis ta'lim, baik laki-laki maupun perempuan terlepas dari segala istilahnya, mereka juga sebagai pelayan masyarakat. Bukan hanya yang duduk sebagai pejabat tinggi atau wakil rakyat disebut sebagai pelayan masyarakat. Mengapa demikian? Menurut saya, apapun urusannya jika mencakup orang banyak, segala keputusan yang ada juga tergantung dengan musyawarah dan mufakat maka tanggung jawabnya bukan pribadi, otomatis ke banyak orang.
Baru-baru ini saya belajar bagaimana menghadapi banyak ibu-ibu yang lebih jauh umurnya dengan saya. Melayani ibu-ibu atau emak-emak zaman sekarang jika kita tidak mempunyai publik speaking yang baik serta mental kuat, saya yakin mereka akan tumbang secara perlahan. Sekali lagi menjadi pelayan masyarakat tidak mudah, lalu ibu-ibu atau emak-emak ini dihadapkan dengan suatu reward gratisan misalnya saja kelompok mawar minta ini, kelompok melati minta itu kalau tidak bijak, publik speaking tidak jelas, dijamin pasti ruwet dan ribet.
Apalagi menemukan tipikal orang yang fahamnya terlambat, gagal fokus, suka salah informasi dan paling aneh mereka selalu tidak sabar minta apa-apa didahulukan tanpa memperhatikan teman yang lain. Hal demikian sebagai pelayan masyarakat baik ketua, pimpinan harus ekstra sabar. Tips untuk menghadapi ini, minimal kita tanamkan niat ibadah dan senang menjalaninya. Lalu sering-sering ambil nafas dan beristighfar, sejenak diam untuk mengamati dan mendengarkan celotehan protes mereka dan menikmatinya lalu senyum dan tertawalah melihat tingkah mereka. Katakan "enggeh/sekedap/ngrantos" untuk menenangkan mereka.
Ternyata ada nilai seninya menghadapi orang banyak. Jadi, tidak perlu diambil pusing. Tidak perlu diover thingkingkan omongan mereka. Intinya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Toh mereka akan selalu menilai "kurang" tapi cukup diiyakan saja. Sekali lagi tidak mudah, tapi hal ini memberikan pengalaman serta hikmah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar